Semarang, Berdikari Online — Kisah pilu dialami Mujdinah (56), warga Kelurahan Karangsari, Kecamatan Kendal, Kabupaten Kendal, Jawa Tengah. Ibu rumah tangga tersebut harus kehilangan salah satu kakinya setelah menjalani perawatan di RS dr. Soewondo Kendal akibat penyakit yang dideritanya.
Kondisi tersebut menjadi pukulan berat bagi Mujdinah dan suaminya, Rasman (58). Dengan kondisi ekonomi yang terbatas, keluarga tersebut harus menghadapi proses pengobatan sekaligus menyesuaikan kehidupan setelah tindakan amputasi.
Rasman mengaku hanya bisa menerima kondisi yang dialami sang istri. “Kulo manut dalane Gusti,” ujar Rasman lirih.
Di tengah kondisi tersebut, aktivis Partai Rakyat Adil Makmur (PRIMA) Kabupaten Kendal, Azharudin, S.H. (43), turut melakukan pendampingan terhadap keluarga Mujdinah. Ia mengadvokasi agar keluarga tersebut memperoleh dukungan pembiayaan perawatan serta akses terhadap alat bantu berupa kaki palsu.
Upaya tersebut kemudian mendapat respons dari dr. Nova Dwiyanto Suli, Kepala Sentra Terpadu Kartini Temanggung, unit pelaksana teknis Kementerian Sosial di bawah Direktorat Jenderal Rehabilitasi Sosial.
Fasilitasi kaki palsu bagi Mujdinah kemudian ditindaklanjuti melalui proses pengukuran oleh Dinas Sosial Provinsi Jawa Tengah. Petugas mendatangi langsung kediaman Mujdinah untuk melakukan pengukuran kaki palsu jenis transtibial.
Bantuan tersebut diharapkan dapat membantu Mujdinah kembali menjalankan aktivitas sehari-hari secara lebih mandiri setelah menjalani amputasi.
Selain bantuan kaki palsu, keluarga Rasman juga memperoleh sejumlah dukungan sosial. Keluarga yang masuk kategori PPKS Desil I Kabupaten Kendal tersebut mendapatkan alat bantu untuk menunjang aktivitas mencari ikan, serta bantuan kebutuhan hidup layak berupa kasur, bantal, dan dukungan nutrisi.
Rasman mengaku lega karena istrinya mendapatkan akses terhadap kaki palsu. Ia juga menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang telah membantu keluarganya.
“Rasanya plong karena istri saya mendapatkan bantuan kaki palsu. Saya sangat berterima kasih kepada semua pihak, terutama Aktivis PRIMA yang sudah membantu mengadvokasi kami. Tanpa bantuan itu, mungkin kami akan kesulitan. Semoga semua kebaikan dibalas oleh Tuhan,” kata Rasman.
Kisah Mujdinah menjadi gambaran pentingnya akses masyarakat terhadap layanan sosial dan pendampingan, terutama bagi keluarga yang berada dalam kondisi rentan. Bantuan alat bantu mobilitas dan dukungan kebutuhan dasar diharapkan dapat membantu penyandang disabilitas serta keluarganya menjalani kehidupan secara lebih mandiri.
(Achmad Misrin)

