Kenapa Sistem Kesehatan Kuba Menjadi Salah Satu yang Terbaik di Dunia?

Secara ekonomi, Kuba adalah negara miskin. Produk Domestik Bruto-nya hanya 87 juta USD. Bandingkan dengan Indonesia yang sudah menembus 1 triliun USD.

Media-media barat menulis,  rata-rata orang Kuba hanya sanggup berbelanja sekitar 20-25 USD per bulan. Artinya, sehari bisa di bawah 1 USD. Betapa miskinnya?

Yang menakjubkan, kendati disebut negara miskin, sistim kesehatan Kuba termasuk yang terbaik di dunia. Bahkan bisa menyamai negara-negara maju.

Sampai-sampai Sekretaris Jenderal PBB, Ban Ki Moon, saat mengungjungi Kuba tahun 2014 lalu, menyebut sistim kesehatan Kuba bisa menjadi “contoh bagi negara lain di dunia”.

Pertama, Prestasi kesehatan Kuba yang luar biasa

Prestasi Kuba dalam bidang kesehatan sangat luar biasa. Angka kematian bayi (infant mortality rate) di Kuba di bawah 5 (4.2) per 1000 kelahiran. Bandingkan dengan AS yang masih 5.52 per 1000 kelahiran. Atau Indonesia yang masih 25.5 per 1000 kelahiran.

Di Kuba, tidak ada kasus gizi buruk. Tahun 2006, melalui laporan berjudul Progress for children, A Report Card on Nutrition, UNICEF menyebut Kuba sudah mencapai bebas gizi buruk. Selain itu, rata-rata Balita Kuba yang kurang berat badan (underweight) di bawah 5 persen. Begitu juga dengan jumlah balita stunting di bawah 5 persen.

Cakupan program imunisasi di Kuba juga mencapai 99 persen. Walhasil, sejak 1979 Kuba terbebas dari Difteri, campak (1993), Batuk rejan/Pertussis (1994), Rubella (1995), Polio, Tetanus, demam tifoid, dan lain-lain. Dan hebatnya lagi, sebagian besar vaksin yang dipakai Kuba adalah hasil temuan dan produksi sendiri.

Tahun 2015 lalu, WHO menetapkan Kuba sebagai negara pertama di dunia yang berhasil menghapuskan penularan HIV dan Sipilis dari ibu ke anak.

Di tahun 2018 ini, angka harapan hidup manusia Kuba sudah mencapai 78.86. Hanya beda tipis dengan US yang berada di angka 79.28.

Kedua, layanan kesehatan universal dan gratis

Mungkin di hampir semua negara di dunia, konstitusinya menyebut kesehatan sebagai hak dasar manusia. Tetapi hanya sedikit negara yang benar-benar mempraktekkan dan mewujudkan itu. Salah satu dari yang sedikit itu adalah Kuba.

Di Kuba, sesuai mandat konstitusi, layanan kesehatan bersifat universal dan gratis. Dan karena gratis, semua orang Kuba bisa mengakses layanan kesehatan berkualitas.

Jangan heran, 99 persen kelahiran anak di Kuba dilakukan di rumah sakit atau fasilitas kesehatan negara. Sistem kesehatan Kuba juga bisa menjangkau 100 persen penduduknya, tanpa diskriminasi.

Untuk mendanai layanan kesehatan gratis dan berkualitas tersebut, selain memastikan semua fasilitas kesehatan bersifat publik, anggaran kesehatan Kuba tidak pernah di bawah 10 persen PDB-nya.

Ketiga, mengutamakan “pencegahan” ketimbang mengobati

Yang menarik lagi, sistim kesehatan Kuba bersandar pada motto: lebih baik mencegah ketimbang mengobati.

Untuk mewujudkan itu, Kuba punya konsep yang disebut medicina general integral (MGI, pengobatan komprehensif dan terintegrasi). Program ini fokus pada penciptaan lingkungan sehat dan menjauhkan rakyat dari penyakit.

Jadi, di setiap lingkungan penduduk Kuba, semacam RT atau RW di Indonesia, ada yang disebut “consultorio”. Setiap consultorio terdiri dari dokter dan beberapa staff, yang langsung melayani penduduk di sekitarnya.  Setiap consultorio melayani sekitar 1000-1500 pasien.

Selain itu, untuk mengefektifkan daya jangkaunya, consultorio didukung oleh policlínicos, yang memastikan layanan kesehatan 24 jam. Policlínicos melibatkan tenaga kesehatan, spesialis dan masyarakat setempat yang terlatih.

Jangan anggap policlínicos hanya poliklinik biasa. Sejak tahun 2002, Policlínicos memberi 22 jenis layanan seperti rehabilitasi, X-ray, USG, optometri, endoskopi, trombolitik, laboratorium klinis, imunisasi, perawatan ibu dan anak, keluarga berencana, diabetes, hingga perawatan lansia.

Selain itu, Kuba juga punya yang disebut “dokter keluarga”. Jika di Indonesia pasien yang mendatangi dokter, maka di Kuba dokter yang mendatangi pasien.

Konsep “dokter keluarga” berhasil diterapkan oleh Kuba, karena negara komunis itu punya tenaga dokter yang melimpah. Saat ini, Kuba bisa menyediakan satu dokter untuk 148 penduduk. Rasio dokternya termasuk tertinggi di dunia. Luar biasa, kan?

Keempat, fasilitas kesehatan yang maju

Secara umum, sistim kesehatan Kuba beroperasi melalui tiga level. Pada level pertama, layanan kesehatan dasar untuk seluruh penduduk melalui Consultorio dan Policlínicos.

Di level kedua, Kuba punya 151 rumah sakit besar yang melayani tindakan yang medis yang tidak bisa diatasi oleh Consultorio dan Policlínicos.

Di level ketiga, Kuba 12 lembaga kesehatan yang memberi pelayanan khusus, termasuk terlibat dalam penelitian dan pengembangan teknologi kesehatan.

Kelima, menciptakan teknologi dan obat-obat sendiri secara mandiri

Salah satu konsekuensi dari embargo yang diterapkan oleh AS terhadap Kuba sejak setengah abad lampau adalah kesulitan mengakses teknologi kesehatan dan obat-obatan.

Tetapi Kuba tidak menyerah. Semangat untuk berdikari telah mendorong Kuba untuk menciptakan teknologi dan obat-obatan sendiri. Dan itu sangat berhasil.

Tahun 1985, Kuba menjadi pelopor penemuan vaksin untuk mengatasi Meningitis B. Ilmuwan negeri ini juga berhasil mengembangkan teknik pengobatan baru untuk hepatitis B, kaki diabetik, vitiligo, dan Psoriasis.

Kuba juga tengah mengembangkan vaksin Civamax untuk kanker paru-paru, yang mampu mencegah perkembangan tumor dalam paru-paru dan memperpanjang usia penderitanya. Kini vaksi itu tengah diuji di AS.

Pusat Imunologi Molekul di Havana, yang dimiliki oleh pemerintah Kuba, adalah pencipta Cimavax. Sekarang lembaga ini sedang mengembangkan vaksi untuk Meningitis B, Hepatitis B, dan Deman Berdarah.

Keenam, tenaga dokter melimpah

Sebelum revolusi 1959, Kuba hanya punya 6000 dokter. Separuh diantaranya meninggalkan negeri ini ketika revolusi meletus.

Begitu revolusi, Kuba mencetak dokter besar-besaran. Caranya, semua sekolah kesehatan di Kuba dibuka selebar-lebarnya untuk putra-putri Kuba, tanpa dipungut biaya sepeser pun.

Dalam 4 dekade, Kuba berhasil menghasilkan 109.000 dokter. Rasio dokter Kuba saat ini: 1 dokter melayani 148 penduduk.

Yang luar biasa lagi, sejak 1998 Kuba mendirikan sekolah kesehatan internasional yang diberi nama Escuela Latinoamericana de Medicina/Sekolah Kedokteran Amerika Latin (ELAM).

Selain menerima putra-putri Kuba, ELAM juga membuka peluang bagi pemuda-pemudi dari negara lain. Semuanya tanpa dipungut biaya sepeser pun alias gratis.

Sejak berdiri hingga 2014 lalu, ELAM sudah mewisuda 20.000 orang dari 123 negara, termasuk Malaysia dan Timor leste.

Ketujuh, Kuba terdepan dalam solidaritas internasional/kemanuasiaan

Tahun 1960, ketika masih terseok-seok membangun negeri, Kuba sudah mengirim dokter ke Chili yang baru saja diluluhlantakkan oleh gempa bumi. Tahun 1963, Kuba mengirim dokter ke Aljazair.

Fidel Castro menyebut mereka “tentara berseragam putih”. Jika negara imperialis mengirim tentara dan mesim pembunuh ke dunia ketiga, maka Kuba mengirim dokter dan tenaga kesehatan.

Sejak itulah, atas nama solidaritas dan kemanusiaan, Kuba mengirimkan “tentara berseragam putih” ke berbagai belahan dunia, termasuk ke Indonesia saat Aceh dan Yogyakarta diguncang gempa.

Pada tahun 2010, ketika Haiti diguncang gempa dahsyat, Kuba adalah negara pertama yang mengirim dokter-nya untuk menolong rakyat di sana. Sampai-sampai Presiden Haiti saat itu, Rene Preval, berujar: “Bagi rakyat Haiti, pertolongan pertama datang dari Tuhan dan setelah itu dokter Kuba.”

Tahun 2013 lalu, ketika Afrika barat diserang virus Ebola, dokter-dokter Kuba juga berada di garis depan. Sampai WHO memberi ucapan terima kasih khusus kepada Kuba.

Di Amerika latin, dalam satu dekade ada 3,5 juta orang yang berhasil dipulihkan penglihatannya oleh dokter-dokter Kuba secara gratis.

Hingga saat ini, ada 50.000-an tenaga medis profesional Kuba yang bekerja di 66 negara di dunia. Termasuk 2500-an dokter yang bekerja secara sukarela di negara-negara Afrika.

Raymond Samuel

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut