Kehancuran Ekonomi Hantui Korban Merapi

Bila pemerintah tidak tanggap melaksanakan pemulihan menyeluruh, ratusan ribu warga dan pengungsi korban Merapi akan menderita kehancuran sosial dan ekonomi, demikian Agus Priyono selepas meninjau posko-posko bencana yang didirikan Serikat Rakyat Miskin Indonesia (SRMI) di kabupaten Magelang.

“Yang lebih parah adalah kehancuran sumber penghidupan rakyat, karena abu vulkanik tidak memungkinkan penduduk untuk bercocok tanam dan melakukan aktivitas ekonomi”, jelasnya.

“Kalau tidak ada proses recovery (pemulihan) oleh pemerintah, terutama infrastruktur – jalan, jembatan, irigasi, dsb – dan penggantian tanaman-tanaman milik penduduk, maka masyarakat akan terancam bahaya kemiskinan”

Menurut laporan koordinator posko, Wahyu, posko-posko SRMI mengalami kekurangan bahan bantuan dari pemerintah, sementara posko-posko resmi pemerintah terlihat berkecukupan.

Pemerintah memang berupaya mensentralisir penampungan dan distribusi bantuan, namun jalur pengungsian para korban Merapi sangatlah luas dan menyebar.

Kabupaten Magelang mencatat jumlah pengungsi terbanyak yakni mencapai 82.944 jiwa pada 8 November.

“Di Posko desa Gondosuli yang menampung sekitar 200 orang dan terletak dekat radius 20km zona bahaya Merapi, pemerintah sejauh ini baru memberikan bantuan sekilo beras dan satu bungkus mie instan untuk satu kepala keluarga,” lapor Agus Priyono.

Namun posko tersebut baru mendapat bantuan beras dari Gereja Katolik sekitar, sementara organisasi gerakan dan tani di wilayah Temanggung menyumbangkan hasil pertanian seperti sayur-sayuran.

“Mereka kekurangan makanan bayi dan anak-anak, karena kebanyakan bantuan adalah bahan makanan untuk orang dewasa,” jelasnya.

Bahan pangan dan minuman, kebutuhan bayi termasuk popok, serta peralatan sanitasi seperti sabun mandi dan deterjen adalah bantuan yang sedang banyak dibutuhkan.

Program satu rumah untuk menampung dua keluarga pengungsi

Selain mengelola posko bencana di 8 kecamatan, SRMI menerapkan program satu rumah untuk menampung dua keluarga pengungsi agar bantuan dapat didistribusikan secara lebih adil kepada korban Merapi.

Hal ini dilakukan karena warga sekitar yang rumahnya masih berdiri pun turut menderita berbagai kerugian dan membutuhkan bantuan.

Sejauh ini program tersebut dilaksanakan SRMI di tiga desa dan telah melibatkan sekitar 450 orang.

Di luar itu posko-posko SRMI masih berfungsi sebagai penampungan pengungsi sekaligus penyaluran bantuan bagi setidaknya 5-6000 warga.

Posko SRMI yang menampung pengungsi terbanyak, yakni sekitar 300 orang, terletak di desa Sedayu.

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut