Kaum Tani Desa Sekaroh Gelar “Vergadering”

Sejak pagi hari, sekitar pukul 09.00 WIB, seribuan kaum tani sudah mulai memadati lapangan di desa Sekaroh, Lombok Timur. Dengan penuh rasa antusias, mereka mempersiapkan diri untuk mengikuti rapat akbar atau vergadering, yang diselenggarakan oleh Serikat Tani Nasional (STN).

Tidak hanya tokoh-tokoh pimpinan STN yang menyampaikan pidato, beberapa perwakilan petani pun naik ke panggung untuk menyampaikan pidato berisi tuntutan. Meskipun matahari mulai terasa teriknya, para petani ini tetap terlihat bersemangat dan sesekali mengeluarkan gemuruh tepuk tangan.

Ketua STN NTB Ahmad Rifai, yang turut menyampaikan pidato politik di bagian pertama, menjelaskan soal bagaimana kebijakan pemerintah yang berusaha menghilangkan akses kaum tani terhadap tanah.

Sejak jaman orde baru hingga sekarang ini, kata Rifai, warga desa Sekaroh terus-menerus berusaha didesak keluar dari pemukiman dan lahan produksinya dengan menggunakan alasan penghijauan (reboisasi).

Pemerintah selalu menganggap kawasan desa Sekaroh sebagai hutan lindung, tetapi fakta tak terbantahkan menyebutkan bahwa warga sudah mendiami tempat ini sejak jaman penjajahan Jepang.

Sementara Ketua STN Lombok Timur, Marnin, yang juga menyampaikan orasinya, lebih menekankan pada kepentingan asing dibalik proyek penghijauan oleh Korea International Coopretions Agency (KOICA).

“Meskipun terdengar bagus, yaitu reducing emission from deforestation and degradation of forest (REDD), tetapi pemerintah akan membayar mahal dengan terlibat dalam bisnis karbon yang akan dimulai pasca tahun 2013.”

Marnin pun menganggap aksi penghijauan sebagai perampasan tanah milik kaum tani secara illegal. Dan, karena itu, Marnin menuntut agar pemerintah segera membatalkan program dengan KOICA dan mulai menyelesaikan persoalan tanah dengan masyarakat.

Selain orasi-orasi politik, vergadering ini juga dimeriahkan oleh penampilan band dari mahasiswa, yaitu Liga Mahasiswa Nasional untuk Demokrasi (LMND), yang menyanyikan lagu-lagu perjuangan.

Ada juga penampilan musik tradisional suku Sasak, yaitu Cilokak, yang dibawakan oleh kelompok binaan dari kelompok tani STN.

Tuntut Pembagian Lahan

Dalam tuntutannya yang disampaikan di rapat akbar, kaum tani Sekaroh mendesak pemerintah segera membagi lahan hutan Sekaroh menjadi tiga bagian: hutan lindung, hutan penggembalaan, dan hutan produksi.

Sebelumnya, saat melakukan kunjungan kerja ke Lombok Timur, Menteri Kehutanan telah mengisyaratkan penyerahan 6000 hektar lahan kepada penduduk sekitar hutan sebagai jalan mengurangi kemiskinan.

Akan tetapi, pihak Pemerintah Kabupaten Lombok Timur tidak juga mengikuti isyarat tersebut, malah semakin “kekeuh” menjalankan proyek penghijauan bersama KOICA.

Sementara untuk pengelolaan hutan yang berkelanjutan, warga masyarakat mengaku akan bisa menjaga hutan dengan lebih baik ketimbang perusahaan asing, berdasarkan pendekatan kearifan lokal masyarakat.

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut