Kasus Kekerasan Terhadap Perempuan Masih Tinggi

Angka kekerasan terhadap Perempuan (KtP) sejak 2010 terus meningkat dari tahun ke tahun. Peningkatan angka yang sangat tinggi terjadi antara tahun 2011 sampai tahun 2012 yang mencapai 35 persen. Untuk tahun 2015 jumlah kasus meningkat sebesar 9 persen dari tahun 2014. Angka ini adalah jumlah kasus KtP yang dilaporkan, sedangkan yang tidak dilaporkan mungkin bisa lebih tinggi seperti halnya fenomena gunung es.

Berdasarkan data, KDRT masih menempati urutan tertinggi yakni mencapai angka 11.207 kasus (69 persen), di mana kekerasan fisik di urutan pertama yakni 4.304 kasus (38 persen), kemudian disusul kekerasan seksual sebanyak 3.325 kasus (30 persen), psikis 2.607 kasus (23 persen) dan ekonomi 971 kasus (9 persen).

Data di atas menggembirakan sekaligus memilukan. Menggembirkan karena menunjukkan adanya peningkatan perubahan sikap masyarakat sejak diberlakukannya UU PKDRT. Masyarakat yang semula menganggap persoalan kekerasan terhadap perempuan merupakan masalah pribadi yang harus ditutupi, sekarang menganggapnya sebagai tindak kriminal yang harus dibawa ke ranah hukum sehingga pelakunya mendapatkan hukuman yang setimpal. Di sisi lain, ini memilukan memilukan dan memprihatinkan karena menunjukkan ketidakadilan terhadap perempuan. Juga membuktikan masih terjadinya kriminalisasi terhadap korban, impunitas terhadap pelaku, serta keterbatasan perangkat hukum yang masih berjalan.

Hak untuk bebas dari kekerasan dan diskriminasi belum sepenuhnya terlihat dalam dimensi kehidupan bangsa Indonesia yang dikenal beradab dan religius yang semestinya menjunjung nilai-nilai luhur untuk menghormati, melindungi, memenuhi dan memajukan hak asasi perempuan.

Secara umum kekerasan terhadap perempuan terjadi akibat “posisi rentan” perempuan yang disebabkan masih kuatnya “budaya patriarkhi” yang diskriminatif-subordinatif dan “relasi kuasa yang timpang” antara laki-laki dan perempuan, suami dan istri, anak dan orangtua, buruh dan majikan, rakyat dan negara, guru dan murid serta bawahan dan atasan.

Bertempat di Ruang Persahabatan, Komisi Nasional Anti Kekerasan terhadap Perempuan (Komnas Perempuan) menyelenggarakan peluncuran dan konferensi pers Catatan Kekerasan terhadap Perempuan Tahun 2015. Setiap tahunnya, sejak tahun 2001, Komnas Perempuan telah melakukan pendokumentasian angka dan kasus kekerasan terhadap perempuan di Indonesia. Pendokumentasian tersebut dilakukan bersama dengan lembaga mitra di berbagai wilayah di tanah air, baik dari lembaga negara, hingga lembaga pengadalayanan bagi perempuan korban kekerasan.

Dokumen Catatan Kekerasan terhadap Perempuan Tahun 2015 dilaporkan sehari sebelum Hari Perempuan Internasional yang jatuh setiap tanggal 8 Maret di Ruang Persahabatan, Lantai 1 Komnas Perempuan (7/3/2016).

Peluncuran Catatan Tahunan ini dilanjutkan dengan Pembukaan Garage Sale Pundi Perempuan untuk membantu para perempuan korban kekerasan. Pembukaan ini akan dimeriahkan oleh Sisterhoodgigs (Komunitas Seniman Perempuan yang dipelopori oleh Tere Penyanyi Pop Indonesia), SIMPONI (Band Indie Anak Muda yang membawakan isu Lingkungan, Anti Korupsi, dan Anti Diskrimnasi/Kekerasan terhadap Perempuan), serta pembacaan puisi yang dibawakan oleh para komisioner Komnas Perempuan dan aktivis perempuan lainnya.

Siti Rubaidah

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut