Juang Atau Berjuang

Mengapa penulis mengambil tema atau judul tulisan juang atau berjuang? Kan banyak judul lain yang bisa dipilih dan lebih megah lagi.

Benar, benar sekali. Kata ini memang kata sederhana yang tiap kali dipakai terutama oleh orang terkemuka yang katanya ingin berbuat banyak.

Berbuat banyak terutama untuk negeri dan rakyat sebab semua orang tahu, bahwa dirinya tak mungkin lahir ke dunia ini dengan berbuat sendirian. Seseorang lahir ke dunia ini pertama harus ada yang menolong dirinya terutama menggunting pusernya sebab tak mungkin siapa pun juga yang lahir ke dunia ini terus mencari gunting dan memotong puser sendiri.

Semua orang tahu, bahwa  makan, pakaian, tempat-tiggal dan  pekerjaan adalah kebutuhan mutlak setiap orang yang ingin melangsungkan hidupnya.

Di dalam masyarakat yang ber-klas ini – masyarakat kapitalis – tentu saja segala sesuatunya diukur dengan yang namanya “duit”,  walaupun semua juga tahu bahwa duit itu hasil ciptaan manusia.  Ketika manusia yang pertama lahir ke dunia ini tentu saja belum  ada duit.

Siapa pun tahu di masyarakat primitif yang disebut juga masyarakat komune-primitif  manusia hidup bersama-sama dan saling-bantu, sebab tanpa bantuan orang lain tidak mungkin menyambung hidup atau membela dirinya sendiri.

Tapi lama-kelamaan manusia makin maju dan mengenal apa yang dinamakan “besi”.  Dengan ditemukannya besi,  orang mulai mampu menebang sebuah pohon sendiri tanpa  bantuan orang lain.

Timbulah masyaraakat perbudakan dan masing-masing beruaha untuk mendapatkan budak. Dan dari masyarakat perbudakan yang mulai berpecah belah ini meningkatkan diri menjadi masyarakat feudal, kemudian masyarakat kapitalis.

Dengan masyarakat kapitalis ini tidak puas dan menigkatkan diri menjadi imperialis yang juga belum puas dengan memiliki  dan menguasai : hegemoni financiel, hegemoni industriel, hegemoni daerah dan hegemoni hak-hak kemanusian.

Bayangkan menguasai daerah dan menguasai hak-hak kemanusiaan yang artinya menjajah segalanya. Itulah ciri tertinggi dari kapitasisme dan dia menggali liang kuburnya sendiri. Maka itu kita tak perlu heran kalau bung Karno mengatakan “capitalism and imperialism is still dying”. Jadi belum mati dan menuju ke kematiannya.

Di zaman imperialisme pada puncaknya ini  manusia berlomba lomba tampil ke depan dan berkata “aku berjuang demi rakyat” dan semua membawa nama rakyat.

Tidak ada yang bilang “aku berjuang untuk diriku dan keluagaku”.

Karena itu penulis akan bilang “aku berjuang untuk diriku dan keluagaku. Karena aku tidak bisa sendirian, aku ajak temanku  bung A bung B dan bung C. Karena belum cukup A, B, dan C, aku ajak yang lain, aku bentuk partai dan semua mau. Seluruh rakyat kami ajak dan seluruh rakyat berjuang untuk mencapai masyarakat  adil dan makmur dengan ajaran-ajaran Bung Karno.

Nah kalau ini tercapai seluruh rakyat ikut serta bukan? Jadi seluruh rakyat ikut serta menikmatinya yang pada hakekatnya “saya berjuang untuk saya dan keluarga saya, untuk diri sendiri bersama seluruh rakyat”.

Belum terlambat dan mari kita laksanakan.

Jakarta, 03 September 2010.

Tri Ramidjo, Putra Digulis, telah menulis 30 judul Cerpen yang dikumpulkan dalam “Kisah-kisah dari Tanah Merah” yang semua itu ditulis sekitar tahun 2006, 2007, dan 2008.

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut
  • hasan masat

    BERJUANG…Beras Baju dan Uang…selamat!!!

  • Ya, kebanyakan orang akan berkata “aku berjuang untuk rakyat”. Tanpa disadari kita semua harus bersama-sama BERJUANG!

  • Salam perjuangan, sumpah pemuda atau sampah pemuda?? Tetap semangat Pak Tri Ramidjo,Berani karena benar takut karena salah.