Sering Disebut oleh Sukarno dan Hatta, Apa sih “Zaman Meleset” itu?

Anda yang sering membaca karangan-karangan buah pikiran Bung Karno maupun Bung Hatta tentu tidak asing lagi dengan istilah “zaman meleset”.  Apa sih zaman meleset itu?

Jadi, zaman meleset adalah sebuah istilah untuk krisis ekonomi di tahun 1930-an. Krisis itu bermula di Amerika Serikat, lalu menjalar ke Eropa, dan sampai ke Hindia-Belanda.

Hari itu, 24 Oktober 1929, harga saham di Bursa Saham New York (NYSE) tiba-tiba rontok. Karena panik, orang beramai-ramai menjual sahamnya. Orang Amerika mengenang kejadian itu sebagai “selasa hitam” (Black Tuesday). Jatuhnya saham di NYSE disebut juga “keruntuhan wall street”.

Runtuhnya wall street hanyalah pembuka dari sebuah krisis ekonomi besar yang dikenang oleh sejarah sebagai “depresi besar” atau “zaman malaise”.

Bung Hatta melalui artike berjudul “Krisis Ekonomi dan Kapitalisme”, tahun 1935, menggambar kesulitan ekonomi yang dialami oleh Eropa kala itu:

Bermilyun karung kopi dijadikan bakal penghidupi api dalam tungku paberik, karena berlebih dan tidak laku lagi. Beratus ribu karung gandum dilempar saja ke dalam laut, karena tidak tahu lagi apa yang akan diperbuat dengan itu. Hendak dijual, sudah tidak berharga lagi. Dalam pada itu berpuluh juta orang miskin di Eropah dan Amerika yang hampir mati kelaparan.”

Meski ekonomi dunia kala itu belum terglobalisasi seperti sekarang ini, tetapi efek zaman malaise bisa merontokkan ekonomi Hindia-Belanda.

Penyebabnya, ekonomi Hindia-Belanda sangat bergantung pada ekspor komoditi. Sementara pasar mereka, yakni Amerika dan Eropa, sedang babak-belur karena krisis. Akibatnya, permintaan ekspor dari Hindia-Belanda jatuh.

Seorang penulis Belanda, Mr A.C Vreede menggambarkan kesulitan Hindia-Belanda zaman itu melalui artikelnya di majalah Koloniale Studien. Sejumlah komoditas ekspor andalan Hindia-Belanda, seperti gula, kopi robusta dan karet, langsung jatuh harga lebih dari setengah.

Imbas pertama dirasakan oleh pekerja-pekerja di perkebunan Belanda. Banyak yang tiba-tiba menyandang predikat “werkloos” alias pengangguran.

Bagaimana nasib kaum marhaen? Lebih sengsara lagi. Di era inilah cerita “kaum marhaen hidup satu setengah sen atau segobang sehari” dimulai.

Bung Karno dalam artikel Mencapai Indonesia Merdeka, tahun 1933, mengutip beberapa berita koran kala itu untuk menggambarkan derita-sengsara marhaen akibat dilindas oleh krisis malaise.

Misalnya, Bung Karno mengutip pemberitaan Pewarta Deli, 7 Desember 1932:

Di kota sering ada orang yang menyamperi pintu bui, minta dirawat dibui saja, sebab merasa tidak kuat sengsara. Dibui misih kenyang makan, sedang di luar belum tentu sekali sehari.”

Bung Karno menceritakan, penghasilan dari perusahaan-perusahaan kecil di desa dan kampung-kampung sudah turun antara 40-70 persen. Akibatnya, banyak orang yang “gelap-mata” melakukan kejahatan.

Saking sulitnya kehidupan kaum marhaen kala itu, Bung Karno menyebut zaman meleset sebagai “zaman air mata”.

Sedangkan Bung Hatta juga mencatat bagaimana malaise menggilas upah para pekerja. “Tidak saja pada onderneming-onderneming orang Barat dilakukan massa-ontslag (PHK massal, pen) dan penurunan gaji, melainkan juga pada perusahaan-perusahaan bangsa Tionghoa dan bangsa kita sendiri. Barangkali disini lebih ganas lagi sikap majikan terhadap kuli-kulinya. Gaji sepuluh sen kebawah, paling banyak 15 sen sehari, tidak asing lagi pada waktu sekarang,” tulisnya.

Surat kabar Tionghoa berbahasa melayu,  Sin Po, pada 27 Maret 1933, juga menulis bencana kelaparan di daerah Kebayoran. “Malaise yang mengamuk di mana-mana telah bikin sengsara dan kelaparan penduduk desa Trogong, Kebayoran,” tulis koran yang banyak mendukung kaum pergerakan nasionalis itu.

Sekarang, pertanyaannya: dari mana asalnya zaman malaise berubah menjadi zaman meleset?

Tidak ada keterangan yang jelas soal ini. Sejarawan Alwi Shahab dalam “Hidup di Zaman Meleset” menulis, “Pemberitaan menyebut krisis ekonomi hebat ini sebagai zaman malaise. Para pejuang kemudian memplesetkannya jadi zaman meleset dan menjadi ucapan sehari-hari masyarakat kala itu.”

Sedangkan Susanto Zuhdi dalam Cilacap (1830-1942): bangkit dan runtuhnya suatu pelabuhan di Jawa menulis catatan kaki asal-usu istilah zaman meleset. Menurutnya, koran dan kepustakaan Belanda menyebut depresi besar zaman itu dengan istilah malaise. Tetapi orang-orang Jawa kala itu yang memplesetkan menjadi zaman meleset.

Tetapi sebagian besar menyebut kaum pergerakan berkontribusi besar memplesetkan istilah zaman malaise menjadi zaman meleset. Artinya, zaman meleset adalah bahasa propaganda, untuk menggambarkan penderitaan rakyat akibat krisis ekonomi kala itu.

Kalau melihat berita koran kala itu, penderitaan rakyat akibat malaise memang sangat berat. Apalagi di Jawa, awal Malaise disertai dengan letusan Merapi, 18 Desember 1930, yang menyebabkan 1.500-an orang tewas.

Selain itu, bersamaan dengan dimulainya malaise di Hindia-Belanda, pendekatan pemerintah kolonial terhadap kaum pergerakan juga mengeras. Bung Karno ditangkap tanggal 30 Desember 1929. Dia dipenjara hingga 1931.

Tahun 1933, seiring dengan kebutuhan pendekatan keras terhadap kaum pergerakan kemerdekaan, Belanda menunjuk Gubernur Jenderal yang baru: Bonifacius Cornelis de Jonge. Tak lama setelah De Jonge memerintah, tepatnya tahun 1934, 14 aktivis PNI Baru, termasuk Bung Hatta dan Sjahrir. Mereka kemudian dibuang ke tanah Merah, Boven Digul.

Tentu saja, zaman meleset memberi pelajaran berharga bagi kita di zaman ini. Ekonomi Hindia-Belanda, yang benar-benar bergantung pada ekspor komoditas hasil bumi, begitu gampang dirobohkan oleh krisis global.

Nasib yang serupa kita rasai kini. Beberapa tahun terakhir, harga komoditas global anjlok, yang memukul penerimaan negara dari ekspor. Harusnya, kita mulai hilangkan ketergantungan terhadap ekspor komoditas, dengan bergerak menuju hilirisasi hasil sumber daya alam.

Mahesa Danu

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut