“Jaman Meleset”

Pada tahun 1929, sebuah krisis besar menggoyang ekonomi Amerika Serikat dan negara-negara eropa. Bahkan getarannya terasa di negara-negara asia, termasuk Indonesia yang kala itu masih bernama “Hindia-Belanda”.

Krisis itu konon bermula pada hari Jumat–disebut “jumat hitam”, 25 Oktober 1929. Bursa saham New York tiba-tiba ambruk. Nilai saham meluncur bebas hingga ke titik terendah dalam sejarah dunia saat itu. Dalam satu malam saja, para milyuner kehilangan uang mereka dan para pensiunan kehilangan tabungannya.

Eropa juga terkena imbasnya. Pengangguran dan kemiskinan merajelala di mana-mana. Bung Hatta, dalam karangan “Krisis Ekonomi dan Kapitalisme”, menggambarkan situasi di eropa dan amerika serikat kala itu sebagai berikut:  “Bermilyun karung kopi dijadikan bakal penghidupi api dalam tungku paberik, karena berlebih dan tidak laku lagi. Beratus ribu karung gandum dilempar saja ke dalam laut, karena tidak tahu lagi apa yang akan diperbuat dengan itu. Hendak dijual, sudah tidak berharga lagi. Dalam pada itu berpuluh juta orang miskin di Eropah dan Amerika yang hampir mati kelaparan. “

Sementara pemerintah dan ekonom tidak dapat berbuat banyak. Padahal, rakyat sangat membutuhkan alternatif. Di Jerman, fasisme memanfaatkan kepanikan rakyat atas krisis untuk meraih kekuasaan. Di Amerika Serikat, pada pemilu 1932, lebih dari satu juta orang memberi suara kepada partai beraliran sosialis dan komunis.

Dampak krisis ekonomi tak kalah kuatnya di Indonesia. Pemberitaan media menyebut krisis ini sebagai zaman malaise. Tetapi, para aktivis pergerakan kemudian memplesetkan istilah zaman malaise itu menjadi “zaman meleset”. Rakyat pun makin akrab dengan kata “zaman meleset!”

Seperti apa dampak krisis itu di Hindia-Belanda? Seorang penulis Belanda, Mr. A.C. Vreede, yang menulis buku berjudul “Koloniale Studiën”, menceritakan situasi saat itu sebagai berikut: “Banyak perusahaan dan bank gulung tikar, orang kehilangan rumah dan harta benda. Kemelaratan pun muncul di mana-mana. Pengangguran mencapai setengah dari populasi pada tahun 1932.”

Di Sumatera timur, banyak kuli perkebunan yang menganggur dipulangkan ke Jawa tanpa pesangon. Di semarang, sebagaimana ditulis Alwi Shihab, seorang sejarahwan Jakarta, seorang milioner bernama Khong, yang kekayaannya ditaksir satu miliun dan penghasilan per bulannya paling sedikit 50 ribu gulden, jadi jatuh pailit.

Mohammad Hatta juga mencatat keadaan malaise di Indonesia itu sebagai berikut: “Tidak saja pada onderneming-onderneming orang Barat dilakukan massa-ontslag (PHK massal, pen) dan penurunan gaji, melainkan juga pada perusahaan-perusahaan bangsa Tionghoa dan bangsa kita sendiri. Barangkali disini lebih ganas lagi sikap majikan terhadap kuli-kulinya. Gaji sepuluh sen kebawah, paling banyak 15 sen sehari, tidak asing lagi pada waktu sekarang.”

Krisit itu tidak hanya menyerang kaum buruh saja, tetapi juga para pegawai dan kaum terpelajar. “Sedangkan dahulu seorang terpelajar tinggi mudah mendapat gaji permulaan kira-kira ƒ 350,— sebulan, sekarang sudah ada yang sudi menerima ƒ 75,— malahan ada yang kurang lagi daripada itu. Asal jangan menganggur, biar gaji sedikit, demikianlah kira-kira filsafat hidup si terpelajar yang tersebut,” tulis Bung Hatta mengenai keadaan itu.

Jaman meleset juga dirasakan benar oleh kaum tani. Harga padi jatuh hingga ƒ 1,— sepikul. Harga kelapa juga turun sampai 35 sen seratus. Di beberapa tempat, jagung hampir tidak berharga lagi. Ongkos menanam dan memetik kadang-kadang sudah sama banyak dengan harga penjualan.

Bahkan, seperti dicatat Adam Malik dalam buku Mengabdi Republik, berita-berita surat kabar Indonesia maupun Tiongkok mengungkapkan kejadian-kejadian dimana orang tua meninggalkan atau menjual anaknya, karena tidak kuat menghadapi cobaan dan tidak tahu lagi bagaimana memberi makan anak-anak mereka.

Harian ‘Sin Po’ (27-3-1933) menulis, “Malaise yang mengamuk di mana-mana telah bikin sengsara dan kelaparan penduduk desa Trogong, Kebayoran.” Trogong, nama desa di Kebayoran Lama kala itu.

Di situlah, melalui laporan statistik para pejabat belanda, muncul istilah rakyat Indonesia hidup dengan hanya sebenggol sehari. “Sebelum zaman meleset pendapatan orang Indonesia 8 sen sehari. Setelah zaman meleset 4 sen sehari. Kemudian merosot lagi menjadi sebenggol (segobang) sehari. Padahal, ransum di penjara yang begitu jelek 14 sen sehari,” kata Soekarno menyindir pejabat kolonial Belanda.

Keresahan muncul dimana-mana. Para penguasa, yang didukung para penjilatnya, berusaha menipu rakyat dengan menyebut krisis itu sebagai cobaan tuhan.

Untuk mencegah sebuah pemberontakan, atau mungkin revolusi, pemerintah kolonial mengambil “sikap keras” terhadap kaum pergerakan. Pada tahun 1929, Soekarno dan tiga orang temannya–Gatot Mangkoepradja, Maskoen Sumadiredja, dan Soepriadinata—sudah ditangkap oleh Belanda. Tetapi ia kemudian dibebaskan pada Desember 1931.

Keluar dari penjara, Soekarno kembali membangkitkan perlawanan. Pemogokan buruh terjadi dimana-mana. Bahkan, pada bulan Februari 1933, meletus pemberontakan kapal tujuh (seven provincien) di pelabuhan Surabaya. Soekarno juga berbicara soal pemberontakan itu dan menyebabkan ia ditangkap kedua kalinya. Hatta dan Sjahrir juga ditangkap Belanda saat itu. Keduanya dibuang ke Boven Digoel, lalu dipindahkan ke Banda Neira.

Gubernur Jendral De Jonge memberlakukan hukum yang sangat keras bagi pergerakan Indonesia. Dia memberlakukan pengawasan ketat terhadap rapat-rapat umum, melakukan penangkapan dan pemenjaraan terhadap sejumlah aktivis, hingga melaran kegiatan pers. Semua itu untuk mencegah bersatunya kaum pergerakan dengan keresahan rakyat akibat krisis ekonomi.

Mengapa malaise begitu keras menghantam Indonesia? Pada saat itu, ekonomi Hindia-Belanda sangat bergantung kepada ekspor, khususnya ke pasar eropa. Industri yang berkembang di Hindia-belanda, umumnya adalah perkebunan, sangat bergantung pada pasar eropa itu.

Makanya, ketika pasar eropa ambruk, maka industri di Hindia-belanda juga turut ambruk: Harga gula jatuh sampai 22 persen daripada harga tahun 1925; getah sampai 10 persen; kopra sampai 18 persen; teh 50 persen dan kopi 27 persen. Rata-rata harga barang penghasilan tanah-tanah jajahan jatuh di pasar Eropa sampai lebih kurang 31 persen.

Bung Karno, dalam sebuah artikel di Fikiran Ra’jat, mengeritik kebijakan berorientasi ekspor itu. ia mengatakan, selama ekspor melebihi impor, maka kekayaan yang diangkut keluar selamanya lebih banyak dibanding harga barang yang dimasukkan. “Saban tahun kekayaan yang diangkut dari Indonesia sedikit-dikitnya f 1.500.000.000,-,” kata Soekarno.

Ekonomi berorientasi ekspor ini belum banyak berubah. Setidaknya masih berlangsung sampai sekarang. Hanya saja, yang berbeda dengan masa malaise dulu, sebagian besar rakyat Indonesia tidak lagi bergantung pada onderneming perkebunan (yang mengusahakan ekspor). Sebagian besar (70%) sekarang mereka bergantung di sektor informal (ekonomi survival). Konon, kata sejumlah ekonom, ekonomi informal seperti itu tidak begitu berintegrasi dan bergantung dengan kapitalisme global. Jadinya, mereka juga tidak serta-merta terkena ekses krisis kapitalisme global.

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut