Inilah 5 Salah Kaprah tentang Politik

Ketika politik lebih banyak menyuguhan rasa kecewa dan kenyataan pahit, tak sedikit orang yang memilih untuk menciptakan jarak. Banyak yang apatis, bahkan alergi, terhadap segala yang berbau politik.

Terlebih lagi, mereka yang paling banyak apatis terhadap politik adalah anak-anak muda, generasi yang ditakdirkan akan menjadi pewaris bangsa ini di masa mendatang. Berbagai survei menunjukkan betapa rendahnya minat politik di kalangan anak muda.

Survei Litbang Kompas tahun lalu menunjukkan, hanya 11,8 persen anak muda yang bersedia menjadi anggota partai politik, sementara 86,3 persen menyatakan tidak bersedia. Survei CSIS pada November lalu lebih mencemaskan: hanya 3,7 persen generasi milenial yang tertarik pada isu politik.

Ada jalinan antara rendahnya minat politik anak muda dengan tingginya persepsi negatif soal politik. Rupa politik yang buruk, yang dipertontonkan oleh aktor-aktor politik, membuat banyak anak muda memilih menciptakan jarak.

Akibat laku buruk aktor-aktor politik itu, yang sebetulnya tidak mewakili keseluruhan sejarah politik maupun politisi, terlanjur membuat politik tergelincir dalam persepsi yang sangat buruk, kotor, dan korup.

Hal itu turut mengembangbiakkan banyaknya salah kaprah terhadap politik. Seperti berikut ini:

  1. Politik itu dunia yang kotor

Politik sudah terlanjur dicap kotor, tanpa ada usaha untuk mengetahui asal-usulnya. Padahal, jika membuka lembar sejarah awalnya, politik lahir untuk tujuan yang mulia.

Istilah politik berasal dari kata Yunani, Politika, yang berarti urusan warga kota. Ini ada kaitannya dengan organisasi politik tertua di dunia, yaitu polis (pólis) atau Negara Kota, yang muncul di Yunani pada abad ke-8 SM.

Dalam polis Yunani, sudah dikenal pembagian antara urusan bersama/umum (polis/publicus) dan urusan rumah tangga (oikos/privatus). Pengorganisasian urusan bersama itulah yang disebut politik.

Aristoteles, filsuf penemu istilah itu, menyebut politik sebagai pengorganisasian warga untuk mewujudkan kebaikan bersama. Sedangkan gurunya, Plato, menyebut politik sebagai cara hidup bermasyarakat untuk mewujudkan kebajikan (virtue).

Singkat cerita, politik selalu menyangkut kepentingan bersama atau kepentingan umum. Karena itu, jika ada yang menyeret politik untuk tu

Dalam sejarah Indonesia, politik juga punya andil besar. Sukarno juan pribadi, berarti itu penyimpangan alias anomali.dan pejuang kemerdekaan lainnya menggunakan politik sebagai sarana memperjuangkan kemerdekaan. Tanpa pergerakan politik, mana mungkin ada kemerdekaan.

  1. Politik tidak berkaitan dengan kehidupan sehari-hari

Seringkali mereka yang apatis terhadap politik mempersenjatai diri dengan argumentasi: politik tidak ada kaitannya dengan kita kehidupan sehari-hari.

Tentu saja anggapan itu salah. Faktanya, hampir semua aspek kehidupan kita, entah disadari atau tidak, sangat dipengaruhi oleh kebijakan politik. Dari personal, rumah tangga kita, hingga kehadiran kita di ruang publik, selalu diatur oleh kebijakan politik tertentu.

Secara personal, hak-hak pribadi kita sebagai warga negara ditentukan oleh kebijakan politik. Dari hak atas pendidikan, kesehatan, berekspresi, menyatakan pendapat, semuanya diputuskan oleh kebijakan politik.

Sebagai misal, hakmu untuk berekspresi bebas di media sosial dibatasi oleh sebuah kebijakan politik bernama UU tentang informasi dan transaksi elektronik (ITE).

Dalam rumah tangga, politik hadir dalam kebijakan yang menentukan harga sembako, tarif listrik, harga gas elpiji, sewa rumah, biaya pendidikan anak, hingga besaran upah atau gaji yang diterima oleh suami/istri yang bekerja.

Sementara di ruang sosial, politik hadir dalam mengatur pengelolaan jalan, taman, parkir, dan berbagai fasilitas publik lainnya. Bahkan tidak jarang politik hadir cara berpakaianmu, terutama bagi perempuan, hingga mengatur minuman jenis apa yang boleh dan tidak boleh engkau tenggak.

Jadi, jika kamu tidak berpolitik, maka tubuh hingga gerakmu akan diatur sepihak oleh politik.

  1. Semua politisi itu busuk

Memang banyak politikus busuk, tetapi tidak semua. Tentu saja, masih ada politisi yang bersih dan baik.

Betul, banyak politisi yang korup, tetapi tidak mengubah bentuk hakiki dari politik: pengelolaan kekuasaan untuk kepentingan umum. Ingatlah pesan Mahatma Gandhi: beberapa tetes air kotor tidak akan mengotori seluruh samudera.

Pernah di suatu masa, tepatnya di masa awal berdirinya Republik Indonesia, dunia politik kita dihuni oleh manusia-manusia pejuang kemerdekaan. Tidak hanya melakoni hidup secara sederhana, tetapi juga menyerahkan hidupnya pada pengabdian pada publik atau negara.

Lalu, di zaman sekarang, kenapa politik banyak dihuni politisi busuk?

Yang pertama, politik itu ruang yang terbuka. Setiap warga negara, asalkan sudah cukup usia, boleh berpartisipasi di dalamnya.

Yang kedua, politik itu ruang bagi lahirnya berbagai kebijakan Negara. Jadi, siapa yang menguasai politik, maka dia juga yang menentukan corak kebijakan Negara.

Dua hal itu disadari betul oleh, antara lain: para oligark, yaitu mereka yang menguasai sumber daya material, terutama ekonomi, dan menggunakannya untuk mempertahankan atau menambah kekayaan pribadi.

Para oligark ini berlomba-lomba masuk ke politik untuk meraih kekuasaan, lalu mempergunakannya untuk mempertahankan atau menambah kekayaannya. Biasanya, mereka mendorong kebijakan atau regulasi yang menguntungkan kepentingan bisnis mereka.

Masuknya para oligark ke dalam politik membuat pengabdian politik bergeser, dari melayani kepentingan umum menjadi melayani segelintir elit oligarki.

Memang Lord Acton pernah bilang, “Power tends to corrupt, and absolute power corrupts absolutely.” Tetapi ada banyak cara untuk memagari kekuasaan agar tidak korup, seperti dengan demokrasi, partisipasi dan keterbukaan.

  1. Politik identik dengan obral janji

Sudah jamak dalam politik kita, partai atau politik mengobral janji. Masalahnya, banyak janji itu yang berujung dusta alias tidak ditepati.

Apakah politik memang identik dengan janji?

Politik sejatinya adalah perbenturan gagasan tentang bagaimana mengorganisasikan kehidupan bersama agar lebih baik. Nah, agar gagasan itu bisa dioperasikan dalam sebuah kebijakan, dia mesti diturunkan menjadi program politik.

Program politik yang baik harus mencerminkan kebutuhan pokok rakyat, didukung oleh data-data, dan terukur.

Lantas, bagaimana jika program politik yang dimenangkan dikhianati oleh pengusungnya?

Sebagai konstituen sekaligus warga negara, kita punya hak untuk menagih realisasi dari sebuah program politik. Namun, jika tetap tidak ditepati, kita punya ruang konstitusional untuk menghukum partai atau politisi bersangkutan, yaitu pemilu: jangan pilih mereka lagi di pemilu selanjutnya.

  1. Politik merontokkan idealisme

 

Ada anggapan yang menuding politik bisa merontokkan idealisme seseorang. Di sini, idealisme yang dimaksud adalah jalan hidup yang dituntun oleh cita-cita yang ideal. Karena itu, untuk memagari idealisme, pilihannya adalah menjauhi gelanggang politik.

Di sisi lain, apatisme tidak mengubah keadaan. Justru semakin banyak orang apatis, maka politik akan semakin leluasa dikuasai oleh segelintir elit atau oligarki. Dan suka atau tidak, kebijakan politik yang mereka ambil akan mempengaruhi kehidupan semua warga negara.

Jadi, mau apa lagi, tidak ada jalan lain untuk memperjuangkan perubahan sosial selain jalan politik.

Tetapi apakah jalan politik akan selalu membelokkan idealisme kita ke pragmatisme?

Tentu saja tidak. Ada banyak pilihan-pilihan untuk mempertahankan idealisme dalam jalan politik. Pertama, pilihlah organisasi atau partai politik yang sejalan dengan idealismemu. Kedua, jika tidak ada, bangunlah organisasi atau partai dengan menghimpun orang-orang yang sejalan dengan idealismemu.

Jika dua pilihan di atas sangat sulit, masih ada pilihan lain: bergabunglah dengan organisasi atau partai yang sudah ada. Pilihlah partai yang paling membuka ruang untukmu, sehingga ada ruang untuk memperjuangkan idealismemu.

Jaga idealismemu dengan tetap membangun hubungan dengan gerakan rakyat (serikat buruh, serikat petani, organisasi mahasiswa, organisasi perempuan, organisasi masyarakat adat, dan lain-lain). Rajin-rajinlah turun ke bawah, bertemu dengan rakyat dan mendengarkan suara mereka. Itu bisa jadi obat rohani untuk menjaga idealismemu.

Bagaskara Wicaksono

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut