Ibu-Ibu Kendeng Melawan Belenggu Semen

Berbagai jalan perjuangan sudah ditempuh, dari aksi massa, dialog, jalan kaki ratusan kilometer, mogok makan, dan lain-lain, tetapi belum juga berhasil mengetuk hati pengambil kebijakan.

Begitulah jejak berliku perjuangan petani pegunungan Kendeng, Pati, Jawa Tengah. Mereka sudah bertahun-tahun berjuang menentang pendirian pabrik semen yang merusak lingkungan dan sumber penghidupan mereka.

Tetapi petani pegunungan Kendeng tidak menyerah. Selasa (13/4) siang, sembilan orang petani perempuan pegunungan Kendeng menggelar aksi di depan Istana Negara di Jakarta.

Metode aksi mereka kali ini tidak tanggung-tanggung. Sembilan perempuan ini memasung kakinya dengan adukan semen. Satu persatu perempuan itu memasukkan kakinya ke dalam kotak kayu, lalu disemen, diiringi lagu “Ibu Pertiwi”.

Sembilan perempuan itu adalah Sukinah, Supini, Murtini, Surani, Kiyem, Ngadinah, Karsupi, Deni, dan Ambarwati.

“Sengaja aksi ibu-ibu dengan cara menyemen kaki mereka sebagai simbol itulah nasib kami rakyat sekitar gunung kendeng sekarang ini,” ujar Joko Prianto, aktivis Jaringan Masyarakat Peduli Pegunungan Kendeng (JMPPK).

Menurut Joko, pilihan aksi ini diambil untuk menunjukkan kepada pemerintah bahwa kehadiran pabrik semen bukan hanya menghancurlan lingkungan,  sumberdaya alam, pertanian, dan sumber mata air, tapi juga membelenggu hidup petani Kendeng sekarang dan akan datang.

“Jika ruang hidup kami hancur dan rusak bukan hanya hidup kami sekarang yg terancam juga masa depan anak cucu kami juga terancam,” jelasnya.

Joko melanjutkan, melalui aksi yang terbilang berat ini, petani pegunungan Kendeng berharap Presiden Joko Widodo bisa tersentuh nuraninya dan memperhatikan nasib petani.

“Kami ingin Presiden konsisten dengan Nawacita-nya, yaitu membangun dari pinggiran atau desa. Kami tidak butuh pabrik semen. Yang kami butuhkan tanah dan air untuk pertanian dan kehidupan kami,” tegasnya.

Dalam aksi sore tadi, sekitar pukul 17.00 WIB, ibu-ibu petani Kendeng ditemui oleh Deputi VI Kantor Staf Presiden (KSP), Jaleswari Pramodhawardani. Dia memberikan dukungan moral pada perjuangan petani.

Perjuangan petani Kendeng memang militan. Hari ini tepat 665 hari mereka mendirikan tenda perlawanan di Rembang, Jawa Tengah, untuk menolak pabrik semen. Sebelumnya mereka juga pernah menggelar aksi jalan kaki 122 kilometer untuk menjemput keadilan.

Ulfa Ilyas

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut