Hasil Referendum: Rakyat Yunani Nyatakan ‘Tidak’ Pada Troika

Yunani

Hari Minggu (5/7/2015), rakyat Yunani berhasil menegakkan kepalanya di hadapan Troika (Uni Eropa, Bank Sentral Eropa, dan Dana Moneter Internasional/IMF) dan kreditur Eropa lainnya.

Hasil referendum yang digelar oleh Yunani pada hari Minggu menegaskan penolakan terhadap proposal dana talangan yang diajukan oleh kreditur Eropa. Dari 98 persen suara pemilih yang sudah dihitung, sebanyak 61,3 persen menyatakan “Tidak” (Oxi) dan 38,7 persen menyatakan “Ya” (Nai).

Jumlah rakyat Yunani yang berpartisipasi dalam referendum ini melebihi 70 persen dari sekitar 10 juta rakyat Yunani yang punya hak suara. Sementara hasil sebuah referendum dinyatakan sah jika partisipasi pemilih mencapai 40 persen.

Kementerian Dalam Negeri Yunani melaporkan, referendum berlangsung di seantero negeri tanpa gangguan atau insiden. “Sampai saat ini, tidak ada keluhan atau laporan tentang masalah selama pemungutuan suara referendum berlangsung,” kata pejabat bersangkutan.

Kemenangan suara “No” di rayakan oleh para pendukungnya dengan turun ke jalan. Di Athena, ibukota Yunani, puluhan ribu massa pendukung “No” membanjiri lapangan Syntagma. Ada juga massa yang memilih berkonvoi di jalan-jalan.

“Hari ini adalah hari perayaan karena demokrasi memang untuk dirayakan, untuk bergembira. Dan ketika demokrasi menyingkirkan ketakutan dan pemerasan, maka itu berarti penebusan, dan sebuah langkah kedepan,” kata Perdana Menteri Yunani, Alexis Tsipras, sesaat setelah memberikan suaranya.

Tsipras yakin, dengan mayoritas rakyat menyatakan “Tidak” pada proposal kreditor, maka posisi pemerintah dalam negosiasi selanjutnya akan semakin kuat.

“Banyak yang mungkin mengabaikan keinginan pemerintah (Yunani). Tetapi tidak ada yang bisa mengabaikan kehendak rakyat yang ingin hidup bermartabat, yang ingin hidup dengan cara mereka sendiri,” ujarnya.

Sesaat setelah hasil referendum mulai diketahui, Alexis Tsipras muncul di televisi. Ia mengajak seluruh Eropa untuk berjuang mengatasi krisis ekonomi yang menyelemuti hampir seluruh benua ini. Tsipras juga berterima kepada kepada rakyat Yunani dan Eropa yang telah memberikan dukungan kepada pemerintahannya dengan memberikan suara “Tidak” dalam referendum.

“Bangsa kami telah memutuskan sebuah kelanjutan yang kuat dan demokrasi partisipatif; rakyat Yunani telah membuat pilihan berani, dan satu yang akan mengubah perdebatan di Eropa,” katanya.

Dia melanjutkan, Yunani akan memasuki perundingan dengan posisi yang lebih kuat karena mendapat mandat langsung dari rakyatnya melalui referendum.

Namun ia mengakui, pemilih tidak memberinya mandat untuk melawan Eropa, melainkan sebuah mandat untuk mencari solusi yang berkelanjutan. Ia juga mengakui, sekarang tidak ada solusi yang mudah, tetapi solusi yang adil akan ditemukan jika semua pihak menginginkannya.

Sementara itu, pemimpin dari pihak oposisi yang mengusung kampanye “Ya” (Nai), Antonio Samaras, menyatakan pengunduran dirinya sebagai Ketua Partai Demokrasi Baru hanya sesaat setelah hasil referendum diumumkan.

“Saya mengerti bahwa gerakan besar kita membutuhkan awal yang baru. Dari hari ini saya mengundurkan diri dari kepemimpinan partai,” kata Samaras di layar televisi.

Keluar dari situasi sulit

Pada saat rakyat Yunani sedang memilih dalam referendum, Kanselir Jerman Angela Merkel langsung terbang ke Paris, Perancis, untuk menemui koleganya, Presiden Perancis François Hollande, untuk merespon keadaan di Yunani.

Keduanya mengaku meminta diadakannya pertemuan tingkat tinggi zona Eropa pada hari Selasa (7/7) besok. Pertemuan tersebut, antara lain, akan membahas respon terhadap hasil referendum di Yunani.

Tetapi wakil Kanselir Jerman, Sigmar Gabriel, menyatakan bahwa sulit untuk melihat Yunani dapat bernegosiasi di perundingan dana talangan ketiga. Ia juga menuding Perdana Menteri Yunani, Alexis Tsipras, telah membakar jembatan terakhir yang menghubungkan Yunani dan Eropa.

Sementera Menteri Keuangan Belanda, Jeroen Dijsselbloem, menganggap hasil referendum “sangat disesalkan” untuk masa depan Yunani. “Untuk memulihkan ekonomi Yunani, langkah-langkah yang sulit dan reformasi menjadi tidak terelakkan. Kami sekarang menunggu inisiatif pemerintah Yunani,” kata politisi yang juga memimpin para Menteri Keuangan zona Eropa ini.

Situasi ekonomi Yunani sendiri masih gelap. Akhir Juni lalu, Yunani menolak membayar utangnya kepada IMF senilai 1,5 milyar euro. Sementara dalam dua minggu kedepan, negeri para filsuf ini diharuskan melunasi utangnya kepada Bank Sentral Eropa sebesar 3,5 milyar euro.

Malam sebelum referendum, Menteri Keuangan Yunani Yanis Varoufakis menggelar pertemuan darurat dengan para bos bank-bank lokal di Yunani. Ia membicarakan langkah antisipasi terhadap berbagai kemungkinan pasca referendum.

Saat ini, bank-bank di Yunani dilaporkan hanya punya uang sebesar 500 juta euro dalam bentuk tunai. Artinya, setiap warga Yunani yang berjumlah 11 juta orang hanya bisa mendapat 45 euro. Ancaman Yunani akan kehabisan uang euro terus menghantui rakyat dan pelaku usaha di negeri itu.

Sementara ketakutan terus-menerus direproduksi untuk meneror rakyat Yunani. Seperti pernyataan Presiden Parlemen Eropa, Martin Schulz, seperti dikutip Daily Telegraph: “Tanpa uang baru, gaji tidak mungkin dibayarkan, sistem kesehatan tidak mungkin berfungsi, jaringan listrik dan transportasi publik akan berhenti, dan mereka tidak akan mungkin mengimpor barang-barang yang dirasa penting karena tidak seorang pun sanggup membeli.”

Bank Sentral Eropa dijadwalkan akan menggelar pertemuan pada hari Senin (6/7) ini. Pertemuan tersebut akan memutuskan soal apakah memperpanjang atau tidak ‘Bantuan Likuiditas Darurat’ ke bank-bank di Yunani.

Yunani sendiri, sejak beberapa hari menjelang Referendum, sudah menerapkan kebijakan kontrol kapital. Pemerintah membatasi penarikan uang dari mesin ATM maksimal 60 euro (sekitar Rp 900.000) per hari.

Sementara itu, pemerintah Yunani sendiri menaruh optimisme besar. Dengan bermodalkan hasil referendum, mereka akan berangkat ke Brussel, Belgia, untuk melanjutkan proses negosiasi dengan para kreditur Eropa.

Mandat Rakyat Yunani

Referendum yang berlangsung damai pada hari Minggu (5/7) telah mengartikulasikan kehendak mayoritas rakyat Yunani yang menolak kebijakan penghematan.

Di samping itu, hasil referendum itu telah memperkuat mandat dan dukungan terhadap pemerintahan kiri di bawah Perdana Menteri Alexis Tsipras.

Tidak hanya itu, hari-hari menjelang referendum juga ditandai oleh mobilisasi besar-besaran berbagai sektor sosial, terutama mereka yang selama ini menjadi korban penghematan. Mobilisasi-mobilisasi tersebut penting untuk menegaskan bahwa kekuatan rakyat berdiri di belakang pemerintah.

Referendum juga menguatkan komitmen pemerintahan yang dipimpin oleh Syriza terhadap demokrasi yang berbasiskan partisipasi rakyat. Dalam periode rezim sebelumnya, George Papandreou (PASOK), Lucas Papademos (teknokrat), dan Antonis Samaras (ND), rakyat tidak pernah dilibatkan dalam proses pengambilan keputusan terkait dana talangan.

Yunani, tanah kelahiran demokrasi, telah mempergunakan jalan demokrasi untuk menghadapi pemerasan dan penghinaan oleh Troika dan para kreditur Eropa.

Pemerintahan kiri Yunani sendiri punya komitmen kuat untuk menunaikan janji kampanyenya. Selain tetap teguh menolak kebijakan penghematan di meja perundingan, mereka juga sudah menerapkan sejumlah kebijakan darurat untuk menolong rakyat Yunani yang paling terpukul oleh krisis eonomi, seperti menaikkan upah minimum dari 680 euro menjadi 751 euro, kupon makanan gratis untuk 300.000 keluarga berpendapatan paling rendah, listrik gratis untuk 150.000 rumah tangga miskin, mengembalikan sistem kesehatan publik, dan melarang penyitaan rumah.

Raymond Samuel

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut