Hariman Siregar: Sesungguhnya Revolusi Yang Kita Mau

Empat belas tahun yang lalu, ketika reformasi merekah, kita sempat dihinggapi optimisme, bahwa cita-cita masyarakat adil dan makmur akan segera kita raih.

Sayang, empat belas tahun berlalu, optimisme itu perlahan-lahan redup.  Korupsi merajalela. Kemiskinan dan pengangguran kian tak terbendung. Kekacauan terjadi di mana-mana.

Sementara para elit politik sibuk mengeruk uang negara. Lalu, bersamaan dengan itu, modal asing semakin mengangkangi hampir seluruh sumber daya dan kekayaan alam nasional. Tragis!

Tokoh pergerakan mahasiswa 1970-an, Hariman Siregar, mengaku sangat kecewa dengan keadaan sekarang ini. Menurut dia, perjuangan masyarakat luas untuk menumbangkan orde baru sudah dibajak.

“Mereka (penguasa pembajak) menggunakan kekuasaan hanya untuk memperkaya diri sendiri, keluarga, dan konco-konconya,” kata Hariman dalam orasi politik bertajuk “Sesungguhnya Revolusi Yang Kita Mau” di Taman Ismail Marzuki (TIM), Selasa (15/1).

Kata Hariman, Indonesia sudah mengalami defisit demokrasi. Penguasa (pemerintah dan parpol) memerlukan rakyat hanya setiap lima tahun sekali atau saat pemilu.  Namun, setelah pemilu berlalu, rakyat diceraikan.

“Setelah pemilu usai, rakyat diperlakukan seperti istri yang dicerai. Lima tahun kemudian, ketika ada pemilu lagi, istri itu dipaksa tidur bersama lagi. Inilah defisit dalam demokrasi kita,” kata Hariman.

Akibatnya, kata Hariman, Indonesia sekarang menjadi seolah-olah sebuah negara dengan dua bangsa (One State Two Nation). Kenyataan itu ditandai dengan meluasnya ketimpangan ekonomi.

“Di satu sisi ada segelintir warga bangsa yang berkelimpahan, tetapi di sisi lain ada mayoritas warga bangsa yang kesulitan mengakses sumber kehidupan. Atau, istilah sekarang 1% yang sangat kaya dan 99% yang hidup sangat pas-pasan,” kata Hariman.

Karena itu, Hariman tidak setuju dengan konsep “Reformasi”, yang dianggapnya ide susupan (intruder). “Kalau kita mau jujur, sebenarnya bukan reformasi yang kita mau, melainkan revolusi yang kita mau,” ujar Hariman dengan berapi-api.

Hariman menganjurkan agar kita tidak alergi dengan kata “Revolusi”. Baginya, revolusi adalah pergantian tatanan secara besar-besaran, yang bukan sebatas demokrasi prosedural, melainkan terbangunnya pemerintahan yang bersolidaritas alias senasib dan sepenanggungan.

Untuk diketahui, Orasi Politik Hariman Siregar ini sekaligus peringatan atas peristiwa “Malapetaka Lima Belas Januari” atau sering disebut peristiwa Malari tahun 1974.

Acara ini dihadiri sejumlah tokoh politik, seperti mantan Wapres Try Sutrisno, Adnan Buyung Nasution, Akbar Tanjung, dan Bursah Zarnubi. Budayawan Emha Ainun Najib juga tampil memberikan orasi budaya.

Ia menyindir pemerintahan sekarang dengan jenaka. “Bangsa Indonesia harus memilih, mau jadi burung garuda atau emprit,” kata Emha Ainun Najib.

Acara peringatan Malari ini kemudian ditutup dengan peluncuran dan diskusi Buku berjudul “Merajut Kembali Nusantara”, yang diterbitkan oleh Yayasan Kalimasadha Nusantara.

Buku “Merajut Kembali Nusantara” ini merupakan kumpulan tulisan dan gagasan sejumlah intelektual kritis dan progressif, seperti Marwan Batubara (pengamat energy), Radhar Panca Dahana (budayawan), R Siti Zuhro (peneliti LIPI), Salamuddin Daeng (IGJ), Rocky Gerung (pengajar UI), Yustinus Prastowo (peneliti), Rudi Hartono (PRD/Berdikari Online), Wandy Nicodemus Tutorng (peneliti), Dani Setiawan (KAU), dan Ivan Hadar (IDe).

Mahesa Danu

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut