Rakyat Bolivia Dibolehkan Mengunyah Daun Koka

Perjuangan rakyat Bolivia untuk melegalkan budaya mengunyah daun koka menemukan titik terang. Beberapa hari lalu, tepatnya 11 Januari 2013, PBB menerapkan perlakuan khusus bagi Bolivia untuk mengunyah daun koka.

Dengan demikian, masyarakat adat Bolivia punya hak secara legal untuk mengunyah daun koka lagi. Sebelumnya, daun koka dianggap illegal dan terlarang. Bahkan, pelarangan daun koka diperkuat oleh Konvensi PBB tahun 1961.

Sejak itu, tanaman koka dianggap terlarang. Amerika Serikat terlibat dalam proyek memerangi koka di Bolivia selama puluhan tahun. Kebun-kebu koka dibakar. Petani koka banyak yang ditangkap, dibunuh, dan dikriminalkan.

Masyarakat adat melakukan perlawanan. Mereka mendirikan Serikat Petani Koka. Evo Morales, Presiden Bolivia saat ini, salah satu tokoh yang muncul dari perlawanan ini. Ia sekaligus menjadi simbol perlawanan dari masyarakat adat Bolivia.

Begitu terpilih sebagai Presiden Bolivia di tahun 2006, Evo Morales berjuang keras untuk melegalkan hak mengunyah daun koka bagi masyarakat adat Bolivia. Ia juga berjuang di PBB untuk menghapus konvensi yang memasukkan koka sebagai zat terlarang.

Evo Morales selalu menegaskan bahwa daun koka punya banyak manfaat, termasuk di bidang kesehatan. Bolivia sendiri sudah mengenal tradisi mengunyah daun koka sejak 6000 tahun lalu.

Daun koka mengandung zat stimulan yang bisa mengurangi rasa lapar, haus, sakit, dan lelah. Daun koka juga berguna untuk mengurangi penyakit orang yang tinggal di daerah ketinggian. Karena itu, daun koka sangat penting bagi rakyat Bolivia.

Meski demikian, perjuangan rakyat Bolivia untuk melegalkan daun koka masih berhadapan dengan banyak rintangan. Amerika Serikat dan negara-negara sekutunya tetap menolak pengecualian terhadap Bolivia.

AS bersama 15 negara, seperti Meksiko, Jepang, Rusia, Kanada, Inggris, Jerman, Prancis, Italia, Belanda, Swedia, Finlandia, Portugal, Israel dan Irlandia, berusaha membatalkan keputusan PBB terkait pengecualian terhadap Bolivia tersebut.

Namun, untuk membatalkan keputusan PBB tersebut, diharuskan ada penolakan dari minimal 62 negara anggota.

Bolivia sendiri merupakan negara produsen koka terbesar di dunia setelah Peru. PBB mencatat, 10 juta penduduk adat yang tinggal di pegunungan Andes sangat bergantung pada daun koka.

Raymond Samuel

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut