Gagasan Kartini dan Gerakan Perempuan Hari Ini

Tahun ini, tepatnya tanggal 21 April, kita memperingati 136 tahun kelahiran Kartini. Meski sudah berusia lebih dari seabad, namun semangat dan gagasan Kartini masih terus mewarnai pergerakan perempuan Indonesia hari ini.

Begitu pula dengan peringatan Hari Kartini tahun ini. Berbagai kegiatan, dari mulai diskusi, perlombaan, hingga diskusi, digelar untuk menangkap semangat dan gagasan Kartini.

Itu pula yang dilakukan oleh kaum perempuan yang tergabung dalam Aksi Perempuan Indonesia (API) Kartini. Dalam rangka menyambut Hari Kartini, organisasi perempuan yang berdiri pada bulan Desember 2014 ini menggelar diskusi bertema “Menggali Gagasan Kartini dalam Gerakan Perempuan Hari ini.”

Diskusi yang berlangsung di cafe D’light, Rabu (22/04/2015) itu, menghadirkan lima orang pembicara yang melatari berbagai macam bidang. Yaitu: Dewi Nova Wahyuni; seorang penulis dan aktivis perempuan; Minaria Christin Natalia, ketua umum API Kartini; Ai Rahma, ketua mum Kopri (PB PMII), Vivin Sri Wahyuni; ketua umum Liga Mahasiswa Nasional Demokrasi (LMND); dan Wahida Baharuddin Upa, ketua umum Serikat Rakyat Miskin Indonesia (SRMI).

Kartini dan Semangat Pendidikan

Diskusi dimulai dengan pemaparan soal gagasan Kartini terkait pendidikan. Pada zamannya, Kartini telah berpikir keras tentang bagaimana cara memajukan pendidikan di kalangan pribumi untuk melawan penjajahan.

Dewi Nova dalam pemaparannya menjelaskan, Kartini menganggap pembodohan sebagai musuh yang harus dilawan. “Karena dalam pembodohan orang tidak akan merasakan penindasan. Ia terus menghamba pada yang membodohkan,” jelasnya.

Masalahnya, kata Dewi Nova, suasana yang dihadapi Kartini sekitar 116 tahun lalu, yakni pembodohan yang bergandengan dengan penjajahan, masih terasa terjadi sekarang. Ia bicara tentang kapitalisme global yang menyebabkan pemiskinan terhadap rakyat.

Tidak hanya itu, kapitalisme global juga mengubah lembaga pendidikan menjadi pengejar kekayaan ketimbang menyiapkan generasi untuk memajukan Indonesia di masa mendatang. “Sekolah hari ini boleh jadi menjadi industri yang paling keji,” tandasnya.

Dalam konteks sekarang ini, Dewi Nova menarik strategi Kartini di bidang pendidikan, yakni strategi pendidikan selendang. Yang menarik, ungkap Dewi, saat itu Kartini sudah bicara tentang pentingnya pendidikan untuk seluruh rakyat.

Namun, Kartini sadar, rakyat yang terlalu lama ditindas mudah kagum dan meniru penindasnya (bangsawan). Karena itu, Kartini menggunakan strategi menarik lapisan bangsawan untuk dididik menjadi calon pendidik.

“Di lapisan bangsawan itu ia pilih perempuan. Karena pendidikan itu tidak cukup di sekolah, tapi juga di rumah,” paparnya.

Gagasan Kartini di bidang pendidikan juga diulas oleh Vivin Sri Wahyuni. Menurut Vivin, bangunan sosial yang sangat patriarkhis di era Kartini mempersempit ruang gerak dan cakrawala berpikir perempuan.

Dia melanjutkan, untuk mendobrak keadaan itu, Kartini memilih jalan pendidikan. “Dia membangun sekolah khusus perempuan dan mendirikan perpustakaan. Dia sadar, pendidikan itu sangat penting bagi perempuan,” terangnya.

Vivin juga menjelaskan visi pendidikan Kartini. Kata dia, Kartini menginginkan pendidikan yang inklusif, yang tidak membeda-bedakan laki-laki dan perempuan, kaya dan miskin, tidak memandang perbedaan suku, agama, dan ras.

Semangat Kartini untuk Melawan Kolonialisme

Kartini banyak mengulasi mengenai kemiskinan dan kesengsaraan rakyat akibat kolonialisme. Tulisan-tulisan Kartini banyak yang menusuk langsung kejahatan kolonialisme.

Dalam pemaparannya, Minaria Christyn Natalia menyoroti soal perbedaan dan kesamaan masa Kartini dan sekarang ini. “Di awal abad 20, bangsa ini dijajah secara langsung oleh kolonialisme Belanda. Sedangkan sekarang, kendati sudah merdeka, modal asing masih mendominasi perekonomian kita,” kata Minar.

“Sekarang ini rakyat Indonesia, termasuk kaum perempuan, berada di bawah penindasan neoliberal,” kata alumnus Fakultas Hukum Universitas Simalungun ini.

Pendapat Minaria diamini oleh Wahida. Bahkan secara eksplisit Wahida menyimpulkan persoalan pokok bangsa Indonesia sekarang ini adalah: “Neokolonialisme, dengan wajah barunya ‘neoliberalisme’, telah merontokkan ekonomi nasional, menghancurkan relasi sosial rakyat, dan merusak kepribadian bangsa.”

Lebih lanjut, Wahida mengungkapkan, neoliberalisme hanya menguntungkan pemilik modal dan barisan elit politik yang menjadi pendukungnya. Sementara rakyat hanya menjadi sasaran penghisapan dan penindasan.

“Yang kaya menindas si miskin. Sedangkan si miskin dipaksa hidup seperti hukum rimba,” katanya.

Wahida juga menyoroti soal neoliberalisme yang melanggengkan patriarkhi. “Dengan melanggengkan patriarkhi, neoliberalisme menjadikan perempuan sebagai sasaran politik upah murah dan komoditifikasi tubuh,” imbuhnya.

Strategi Perjuangan Kedepan

Dalam menghadapi neokolonialisme, Minaria mengajukan tiga strategi perjuangan. Pertama, perempuan harus ber-Trisakti, yakni berdaulat dalam kesadaran politiknya, mandiri dalam membangun ekonominya, dan berkepribadian dalam budaya.

Kedua, perempuan harus berorganisasi. Sebab, organisasilah alat perjuangan untuk menghimpun perempuan, tempat belajar, menempa pengetahuan dan pengalaman.

Ketiga, perempuan harus berpolitik. Perempuan harus berani bertarung dalam memenangkan ruang-ruang politik, dari RT/RW, kepala daerah, anggota parlemen, hingga Presiden, demi memenangkan kepentingan rakyat, termasuk perempuan.

Ai Rahma dari PB KOPRI PMII menambahkan, untuk membangun gerakan kaum perempuan hendaknya dilandasi dengan semangat kartini—anti kolonialisme dan feodalisme. “sudah saatnya perempuan untuk keluar dan tampil dihadapan publik, dengan semangat Kartini, maka gerakan perempuan hari ini, akan mencapai jalannya, menuju cita-cita bangsa yang sejahtera,” katanya.

Sedangkan Wahida menjelaskan, perempun harus punya keberanian untuk tampil di ruang publik, termasuk dalam urusan-urusan politik. Menurutnya, ruang politik sekarang ini sudah sangat terbuka, tetapi kurang dimanfaatkan oleh kaum perempuan. (Rini/RH)

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut