Pengetahuan untuk Melawan Ketertindasan: Pikiran dan Strategi si Kuda Liar Kartini*

“Biarkan orang banyak itu bodoh, maka kekuasaan atas mereka ada di tangan kita! Kiranya demikianlah semboyan kebanyakan pembesar. Mereka tidak suka melihat orang-orang lain juga menginginkan pengetahuan dan kemajuan.”—(Kartini, 1903)

Pikiran-pikiran Kartini

Kartini mengamati, di masanya, pendidikan dan pengetahuan, hal yang mendasar bagi emasipasi perempuan dan bangsanya. Karena pembodohan yang dibiarkan terus menerus membuat perempuan dan rakyat bumi putra tidak menyadari dan menghamba pada yang menindasnya –bangsawan dan Kerajaan Belanda. Kartini juga mengkritisi pendidikan tidak serta merta membuat bangsawan –kelas beruntung di zamannya—merasa senasib sepenanggungan dengan rakyat jelata. Pengetahuan tanpa pembentukan budi pekerti telah disalahgunakan oleh bangsawan untuk menguasai rakyat bumi putera.  Sehingga tidak mungkin kelas bangsawan ini mengajak rakyat bumi putra menikmati nasi  putih pengetahuan bersama-sama di meja makan mereka. Dalam pembodoan itu, bangsawan menikmati sanjungan dan kekayaan bumi hasil kerja keras rakyat. Ya, bangsawan dan kerajaan Belanda yang menunjuk para bangsawan itu untuk memerintah rakyat pribumi. Padahal tanah air ini tanah milik seluruh rakyat bumi putra yang harus dikelola untuk kesejahteraan. Tidak saja kesejahteraan fisik yang bersifat kebendaan tapi juga kesejahteraan berpikir rakyat bumi putra. Untuk itu pembentukan budi pekerti, Kartini rancang sama pentingnya dengan pendidikan-pengetahuan bagi perempuan dan bangsanya.

Sebagai pemikir yang bertubuh perempuan dengan segala kontruksi gender yang memenjarakannya. Sadarlah Kartini bahwa relasi kuasa yang tidak imbang antara kerajaan Belanda – Bangsawan dan rakyat Bumi Putra itu berlipat-lipat lebih menjerat perempuan rakyat jelata bahkan perempuan bangsawan sepertinya. Bersama saudara-saudara perempuannya, Kartini berpikir keras, mencari jalan untuk mentransformasi situasi perempuan yang paling dirugikan dalam lingkaran penguasaan kekayaan tanah air dan pembodohan bangsa menjadi subjek penggerak untuk melawan pembodohan. Karena dalam pembodohan orang tidak akan merasakan penindasan, ia terus menghamba pada yang membodohkan. Sehingga soal-soal itu yang ingin Kartini bersaudara jawab melalui penciptaan peluang perempuan untuk  mengakses pendidikan agar berpengetahuan.

Suasana yang dihadapi Kartini itu telah berjalan sekitar 116 tahun lalu (1899). Tapi perjuangan Kartini masih harus terus kita lanjutkan. Hari ini perjuangan perempuan untuk menikmati pendidikan  dan pengetahuan masih menghadapi tantangan sama dengan cara berbeda dibanding masa Kartini. Sebagian warga perempuan menghadapi hambatan akses pendidikan akibat pemiskinan. Bila di masa Kartini pemiskinan itu dibuat oleh kolonialisme, maka hari ini pemiskinan terus memburuk akibat politik ekonomi global dunia. Akibat perjanjian-perjanjian dagang pemerintah dan pengendali tata kelola ekonomi global. Sudah menjadi pengetahuan bersama, pengelolaan bumi dan air yang hanya memikirkan keuntungan sebagian kecil pemilik modal menimbulkan konflik dan pemiskinan yang memperburuk akses rakyat pada pendidikan dan penikmatan hak yang lain. Keluarga-keluarga di desa yang tak dapat meraih kesejahteraan dari bidang  pertanian, dipaksa menjadi buruh di kota-kota dan negara yang lebih kaya. Di Desa yang kemudian jadi pengirim buruh migran, mimpi  pendidikan anak perempuan diperpendek hingga tingkat SMA. Karena saat kelulusan tiba, para perekrut buruh migran sudah menanti mereka di depan sekolah. Bersekutu dengan orang tuanya, dengan agen-industri buruh migran, dan majikan-majikan di negara yang lebih maju untuk menyokong kesejahteraan mereka. Perempuan tidak perlu berpendidikan tinggi agar segera menghasilkan uang dan keuntungan untuk keluarga, industri buruh migran dan majikan di negara maju. Tantangan yang barangkali tak dibayangkan Kartini, saat memperjuangkan cita-citanya mendirikan sekolah untuk perempuan.

Tantangan lain,  lembaga-lembaga pendidikan lebih banyak mengabdi pada kekayaan daripada untuk menyiapkan generasi untuk membawa bangsa Indonesia lebih maju –sebagaimana yang dicitakan Kartini. Sekolah hari ini bisa jadi industri yang paling keji. Untuk biaya anak sekolah dasar yang diiklankan sebagai sekolah favorit bisa berlipat mahal dibandingkan SPP di universitas swasta di Pamulang (tempat penulis tinggal), misalnya. Lebih dari itu, kurikulum yang disiapkan tidak untuk menjadi pemimpin bangsa tapi bagaimana menjadi  buruh yang baik untuk pengelola sumber daya alam tanah air. Sebuah pengelolaan yang bukan sebesar-besarnya untuk kesejahteraan kebendaan dan alam pikir rakyat seperti yang dicitakan Kartini. Tetapi sebesar-besarnya untuk pemilik modal.

Gagasan Kartini tentang pentingnya pemerintah memperkerjakan guru-guru yang setia mengabdi untuk murid-murid yang kelak memajukan bangsa juga belum sepenuhnya mewujud hingga kini. Bahkan di universitas-unversitas negara dan ternama, dosen-dosen direkrut  berdasarkan kedekatan kekerabatan dan keuntungan lain para pengelola universitas. Warga yang berpendidikan dan becita-cita tinggi untuk bangsa banyak yang tidak diterima. Mereka menjadi dosen, peneliti  di negara-negara lain yang membaca kemampuan mereka.

Sedang tantangan patriarkis di masa Kartini, terus membelit hingga kini kawin mawin dengan kepentingan industri buruh migran, industri lembaga pendidikan, hingga tantangan dalam perempuan berelasi dengan kekasih dan suaminya. Masih banyak perempuan yang merasa bahagia ketika laki-laki menikahinya dan memintanya berhenti kuliah, berhenti mengabdi pada masyarakat, untuk menjadi peliharaan suami atau kekasihnya.

Apa surat yang akan Kartini tulis kepada Presiden Republik Indonesia,   sekiranya ia hidup sejaman dengan kita? Hal itu, akan membuat kita malu –sebagai gerakan perempuan dan warga Indonesia—karena belum berbuat banyak. Terutama untuk pendidikan bangsa yang melawan penguasaan semena-mena atas kekayaan tanah air dan alam pikir.

Strategi ‘Pendidikan Selendang’

Kartini tidak cukup menuliskan, membagikan dan mendiskusikan pikiran-pikiran emansipasinya. Ia juga berkeras hati untuk mempraktikan pikiran-pikirannya. Ia bersama saudara-saudara perempuannya menyusun strategi untuk mewujudkan cita-cita penghapusan pembodohan bangsanya.

Ia menyadari tidak mudah memberikan pendidikan sekaligus pada embrio bangsa Indonesia yang di  masanya ia tulis berjumlah 27 juta jiwa. Di sisi lain ia menyadari rakyat yang terlalu lama ditindas mudah kagum dan meniru yang menindasnya –bangsawan. Karena itu ia memilih untuk memilih lapisan tertinggi bangsa –kelas bangsawan—sebagai sasaran untuk dididik menjadi calon pendidik. Walaupun secara etis, kewajiban mendidik dan membentuk budi pekerti rakyat oleh bangsawan, sebagai hal yang harus dilakukan atas sikap rakyat yang menjungjung tinggi bangsawan. Dari lapisan bangsawan itu ia pilih kelas perempuan sebagai agen pendidik. Karena ibu pendidik pertama manusia –belajar merasa, berpikir, berbicara. Dan baginya pendidikan pada di sekolah saja tidak cukup tapi  keluarga di rumah harus bekerja untuk kemajuan bangsa.

Sedikitnya Kartini mengembangkan 10 strategi untuk mengajak bangsanya meninggalkan pembodohan:

  1. Pemerintah wajib meningkatkan kesadraan budi perempuan Jawa, mendidiknya, memberikan pelajaran, menjadikan mereka sebagai ibu dan pendidikan bagi anak-anak perempuannya dengan cara membnatu segala kebutuhan sekolah.
  2. Pemerintah menghargai hasilnya, kemajuan perempuan Jawa setelah menikmati pendidikan.
  3. Guru-guru berkewajiban menjadikan anak-anak yang dipercayakan kepada mereka menjadikan perempuan yang beradab, cerdas menjadi ibu yang penuh kasih sayang, pendidik yang berbudi dan cakap.
  4. Bahasa pengantar pendidikan bahasa Belanda sebagai kunci untuk membuka khasanah peradaban dan pengetahuan barat– dengan tetap memberikan pengajaran bahasa Jawa
  5. Menerjemahkan buku-buku karya Eropa ke dalam bahasa Jawa guna mencerdaskan dan mendidik orang Jawa
  6. Mengembangkan-memproduksi bacaan untuk orang Jawa yang ditulis dalam bahasa populer, dapat dipahami semua orang, bukan khotbah, juga melainkan cerita yang disajikan sederhana, segar dan memikat hati. Dan bahan bacaan itu juga menyediakan petunjuk yang berguna bagi kehidupan praktis sehari-hari. Kerja-kerja penerbitan buku, majalah secara periodik untuk bacaan dewasa dan anak-anak.
  7. Menyediakan perpustakaan dengan buku-buku berbahasa Jawa, Melayu dan Belanda.
  8. Perpustakaan itu kemudian mendorong pembaca untuk berdiskusi melalui program bimbingan membaca dan diskusi buku yang dikaitkan dengan persoalan hidup sehari-hari yang ia sebut “malam bercakap-cakap.”
  9. Dalam bacaan dan pendidikan pengetahuan tentang Hindia diutamakan, karena anak-anak didik itu yang akan memimpin Hindia di kemudian hari. Pendidikan itu antara lain melalui pameran barang kesenian, gamelan dan lain-lain yang diselenggarakan di rumah bumi putra.
  10. Pembentukan budi pekerti pada anak didik bahwa mereka harus memenuhi panggilan budi masyarakat terhadap bangsa yang akan mereka kemudikan.

Dalam bangunan strategi itu, Kartni dan saudaranya Roekmini membagi diri untuk terlibat langsung. Roekmini akan sekolah gambar ke Eropa  karena seni untuk rakyat sungguh penting dan studi Ilmu kesehatan, menyulam merenda  dan menjahit. Sedang Kartini akan sekolah bidang pengajaran untuk mempersiapkan dirinya mendirikan sekolah swsata dengan pemondokan di Magelang atau Salatiga untuk anak-anak perempuan kepala bumi putra yang harapannya kelak mereka menjadi pendidik perempuan rakyat bumi putra. Seluruh pemikiran dan strateginya ia sampaikan kepada pemerintah melalui tangan Sijthoff, Residen Semarang yang mengirimkan surat permohonan dukungan terhadap gagasan Kartini kepada Paduka Yang Mulia Gubernur Jenderal Hindia Belanda.

Strategi pendidikan yang Kartini sebut sebagai pendidikan selendang ini, tidak hanya bertujuan untuk membebaskan perempuan dari larangan berpengetahuan dan kolonialisme pada rakyat bumi putra. Tetapi juga feodalisme yang terlalu lama kawin-mawin dengan patriarkis dan kolonialisme yang merugikan rakyat bumi putra terlebih perempuan. Kartini mengingatkan kepada sesama perempuan yang seringkali justru mendidik anaknya untuk melanggengkan berpikir dan bersikap feodal. “Memuji anak yang membentak pembantu karena tidak memanggilnya bendoro. Sakit hati kami melihat bagaimana orang yang telah beruban merendahkan diri terhadap anak-anak kecil, yang kebetulan orang tuanya  berpangkat tinggi dan keturunan bangsawan! Hal itu hamir tidak perlu dikatakan. Itu lebih jahat dari pada racun! Dan kelak mereka memerintah rakyat!” tulis Kartini. Ia sendiri menyatakan hanya ingin dipanggil Kartini saja, tanpa gelar kebangsawanannya.

Sebagaimana pemikir-praktisi perempuan di sepanjang masa, gagasan-gagasan Kartini juga mendapat tantangan. Dari ibu dan ayahnya, orang-orang yang paling dikasihinya.  “Usul ditolak oleh Ibu dan ayah, tetapi ayah sendirilah yang menanamkan pikiran-pikiran itu dalam hati lewat pendidikan yang diberikan kepada kami. Ayah menekan apa yang dipeliharanya sendiri. Dengan demikian menghancurkan  kebahagiaan hidup kami,” keluh Kartini. Tantangan juga datang dari bupati-bupati yang berpikir belum saatnya mendirikan sekolah-sekolah bagi anak-anak perempuan  para pembesar bumiputra. “Mereka tidak suka melihat orang lain pandai – rasa setia kawan pada bumi putra itu memang tidak ada bahkan pada anaknya sendiri, padahal tanpa perasaan senasib ini tidak mungkin seluruh bangsa maju,” kritik Kartini.

Apa yang bisa kita lakukan hari ini? 

Bila melihat ketajaman analisa sosial dan pemikiran Kartini yang berhasil melihat persoalan perempuan dengan rakyat bumi putra –embrio bangsa Indonesia—juga cara ia mengidentikasi pentingnya kesejahteraan bukan kebendaan –pendidikan-pengetahuan sebagai alat perlawanan. Kartini adalah satu dari yang masih terus kita cari sebagai pemikir-praktisi gerakan perempuan di masa moderen. Strateginya yang liar – holistik dari rancangan advokasi pada pemerintah, hingga komponen-komponen pendukung pendidikan –penerbitan, perpustakaan dan diskusi buku. Menunjukan pandangannya yang luas dan rencana panjang. Kartini juga berhasil menunjuk ke dalam dirinya – kelas bangsawan, sebagai sumber pembodohan – penindasan karena terus menikmati keistimewaan feodalisme. Yang kemudian menjadikan penghapusan feodalisme menjadi  agenda dalam kurikulum dan strategi pendidikan selendangnya.

Kini saatnya kita menunjuk diri,  gagasan dan strategi apa yang harusnya kita kembangkan di masa kini? Dan keistimewaan-keistimewaan apa yang harus dilepaskan sebagian warga Indonesia pada warga lain, agar pemiskinan dan patriarkis tak terus melanggengkan pembodohan pada warga perempuan dan seluruh warga Indonesia?

Dewi Nova Wahyuni, penulis, cerpenis, dan aktivis perempuan; Saat ini bergiat di Perempuan Berbagai, sebuah organisasi relawan untuk kedaulatan perempuan di kota Tangerang Selatan

*) Tulisan ini disampaikan dalam diskusi bertema “Menggali Gagasan Kartini Dalam Gerakan Perempuan Hari Ini”, yang diselenggarakan oleh DPP API Kartini di Jakarta, pada tanggal 22 April 2015.

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut