Ekuador Digoyang Kontra-Revolusi

correa

Revolusi Warga Negara, yang dicetuskan oleh Presiden Rafael Correa di Ekuador, sedang bertubrukan dengan kepentingan kaum elit yang selama ini menikmati hak istimewa di negeri berpenduduk 16 juta jiwa ini.

Sejak tanggal 8 Juni lalu, oposisi sayap kanan Ekuador menggelar demonstrasi di depan kantor pusat partai Aliansi PAIS, partai berkuasa di Ekuador saat ini, di Quito. Aksi demonstrasi tersebut nyaris dilakukan tiap hari.

Pada awalnya, pihak oposisi menyuarakan penolakan terhadap Rancangan Undang-Undang (RUU) tentang pajak warisan dan pendapatan. Tetapi, tidak sampai seminggu, isu yang diusung oleh oposisi bergeser menjadi isu penggulingan terhadap Presiden Rafael Correa.

Malahan, pada Rabu (10/6) malam, demonstrasi yang digelar oleh oposisi sayap kanan itu berujung kekerasan. Mereka berupaya merengsek masuk ke kantor aliansi PAIS, tetapi dihadang oleh ratusan massa pendukung pemerintah yang sudah tiba lebih dahulu di depan kantor tersebut.

Jaringan Televisi Amerika Latin, TeleSUR, melaporkan bahwa massa oposisi melemparkan botol ke arah pendukung Presiden Correa. Tidak hanya itu, salah seorang pendukung Correa, Paco Velasco, mantan Menteri Kebudayaan, mengalami pendarahan di kepala karena dipukul dengan botol.

Presiden Correa sendiri sedang keluar negeri. Ia menghadiri pertemuan Uni Eropa-CELAC (Komunitas Negara-Negara Amerika Latin dan Karibia) di Eropa. Dari luar negeri Correa memperingatkan rakyatnya akan bahaya kontra-revolusi di negerinya.

Menurut dia, mobilisasi yang sedang digalang oleh oposisi merupakan bagian dari skenario untuk mendestabilisasi pemerintahannya. Malahan, kata Correa, untuk melancarkan aksinya, oposisi sudah mengumpulkan uang dan logistik.

“Mereka ingin menurunkan saya di tahun 2016…tetapi di sini, tidak seorang pun yang lelah, kami lebih kuat dibanding sebelumnya,” kata Presiden yang bekas ekonom ini.

Oposisi memang sudah tidak sabar lagi untuk menggulingkan Correa. Saking tidak sabarnya, mereka menggelar karavan mobil untuk memblokade kepulangan Correa dari Eropa.

Tetapi rencana mereka gagal. Rakyat Ekuador turun ke jalan dan memenuhi Plaza Grande atau “Lapangan Kemerdekaan” di Quito, Ibukota Ekuador, untuk menyambut kepulangan Correa.

“Ini untuk mempertahankan nilai dan keyakinan revolusioner kami. Proses transformasi di Ekuador telah mengembalikan harapan jutaan orang Ekuador. Bukan hanya segelintir,” kata Maria Jose Carrion, seorang anggota parlemen dari Aliansi PAIS, seperti dikutip teleSUR, Senin (15/6).

Pemberontakan Kaum Kaya

Pemicu dari aksi protes oposisi ini adalah RUU Redistribusi Kekayaan yang akan menyasar ‘kelas atas’ Ekuador yang jumlahnya tidak melebihi 2 persen dari jumlah penduduk Ekuador.

RUU redistribusi kekayaan ini menerapkan model pajak progressif terhadap nilai kekayaan dan pendapatan. Termasuk dalam kasus pajak warisan. Dalam RUU yang baru ini, nilai warisan di atas 35,400 USD akan dikenai pajak 2,5 persen. Sedangkan nilai warisan di atas 849.600 USD akan dikenai pajak 47,5 persen jika pewarisnya anak-anak dan 77,7 persen untuk dewasa.

Correa mengklaim, kebijakan ini untuk mengurangi ketimpangan ekonomi dan sosial di Ekuador. Dengan pajak progressif terhadap harta warisan, kekayaan Ekuador yang terkonsentrasi di tangan segelintir orang akan terdistribusi ke banyak orang.

“Ini menarget si kaya, untuk redistribusi kekayaan. Ini tidak akan mempengaruhi kelas menengah dan kaum miskin,” ujar Correa kepada media lokal seperti dikutip teleSUR.

Untuk diketahui, di Ekuador, 2 persen warga negara mengontrol 90 persen kakayaan negara. Selama ini mereka nyaris tidak membayar pajak atas kekayaan mereka. Situasi ini menyebabkan kekayaan dan kekuasaan istimewa kaum kaya ini tidak terganggu.

Pemerintah sudah menghitung, hanya 3 dari 100.000 orang Ekuador yang memiliki harta warisan di atas 50.000 USD. Merekalah yang akan terkena langsung oleh kebijakan ini. Sementara pihak oposisi mengklaim, 1 dari 3000 orang Ekuador akan terkena kebijakan pajak baru ini.

Yang juga menarik, beberapa tokoh yang menjadi penggerak aksi oposisi ini justru merupakan bagian dari kaum kaya Ekuador yang tidak tersentuh kekayaannya.

Salah satunya adalah Guillermo Lasso, bekas calon Presiden dari sayap kanan yang dikalahkan oleh Correa di pemilu lalu. Dia adalah seorang bankir dengan pendapatan 70.000 USD per bulan atau setara dengan gaji seorang pekerja Ekuador selama 16 tahun. Pada tahun 2014, nilai kekayaan Lasso mencapai 15 juta USD atau setara dengan seorang buruh Ekuador yang bekerja selama 3500 tahun.

Tetapi Correa tetap bergeming dengan kebijakannya. Baginya, memerangi ketimpangan adalah keharusan bagi terwujudnya keadilan sosial. “Menumpuk kekayaan secara berlebihan itu tidak adil dan tidak bermoral,” tegasnya.

Ekonom peraih nobel, Joseph Stiglitz, juga mengakui bahwa pajak harta warisan merupakan metode paling efektif untuk memotong kesimbungan kekayaan di segelintir tangan.

“Jika pajak warisan bisa efektif ditegakkan, maka dia akan menjadi instrumen penting dalam mencegah penciptaan kesinambungan rezim plutokrasi,” tegasnya.

Kekalahan Demi Kekalahan

Rafael Correa adalah produk perlawanan rakyat Ekuador yang menentang neoliberalisme sejak tahun 1990-an. Dalam kurun waktu 10 tahun, 7 Presiden berhaluan neoliberal di Ekuador dipaksa lengser dari jabatannya oleh gerakan rakyat.

Correa, yang bekas Menteri Ekonomi di era Alfredo Palacio, memenangi pemilu 2006. Begitu berkuasa, ia menjungkirbalikkan semua agenda neoliberal rezim sebelumnya. Selain itu, melalui ‘Revolusi Warga Negara/ Revolución Ciudadana”, Correa mengembalikan harapan mayoritas rakyat Ekuador.

Revolusi Warga Negara sukses besar: lebih dari 1 juta orang berhasil dibebaskan dari kemiskinan, upah minimum naik 80 persen, ekonomi tumbuh 4 persen per tahun, pendidikan gratis hingga universitas, layanan kesehatan gratis untuk seluruh warga negara tanpa diskriminasi, dan masih banyak lagi.

Inilah yang membuat Correa kembali memenangi Pemilu berikutnya di tahun 2009 dan 2013. Di pemilu tahun 2013, Correa meraup 57 persen suara pemilih. Dia juga memenangi 3 kali referendum, yakni 2007, 2008, dan 2011.

Itulah yang membuat oposisi patah semangat. Jalan demokratis, yakni melalui kotak suara di pemilu, tidak memberi harapan kepada oposisi untuk mengalahkan Correa dan Revolusi Warga Negara-nya.

Karena itu, oposisi memilih jalan kekerasan jalanan. Lucunya, demonstran oposisi menyebut Correa sebagai ‘diktator’. Sementara mereka tidak bisa menutupi fakta bahwa Correa terpilih sebagai Presiden melalui pemilu demokratis. Lucu sekali, kan?

Dan jalan kekerasan bukan kali pertama ini dipakai oleh oposisi sayap kanan Ekuador. Sebelumnya, pada tanggal 30 September 2010, sayap kanan menggunakan ketidakpuasan polisi untuk melancarkan kudeta terhadap Correa.

Saat itu aksi mogok polisi yang ditunggangi oposisi sayap kanan berusaha menyandera Rafael Correa. Tetapi usaha itu digagalkan oleh rakyat dan militer Ekuador yang pro-revolusi. Rakyat Ekuador mengenai kejadian itu dengan nama “Tragedi 30 September”.

Dan memang, seperti dikatakan Soekarno, “dalam tiap-tiap revolusi pasti ada kontra-revolusi.” Apalagi jika revolusi itu benar-benar revolusi yang digerakkan oleh rakyat. Kita berharap, rakyat Ekuador bisa menghalau kontra-revolusi ini.

Dan, tentu saja, solidaritas internasional sangat dibutuhkan untuk meneguhkan semangat rakyat Ekuador melawan penindasnya dan sekaligus untuk menghalau potensi campur tangan asing, khususnya AS, yang ingin memperkeruh situasi di Ekuador.

Mahesa Danu

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut
  • Kaleksanan Barqi Aji Massani

    Semangat wahai rakyat Ekuador ! Pesan ini saya sampaikan dari negri kami