Dunia Di Bawah Ancaman Virus Zika

Virus Zika menyerang Amerika latin sejak Oktober 2015. Kejadian pertama ditemukan di Brazil. Sekarang, menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), sudah menyebar di 23 negara di Amerika latin dan Karibia.

Brazil mengalami serangan terburuk. Hampir 1 juta rakyat negeri itu yang diduga terkena virus Zika. Dan sejak September, negeri Samba itu melaporkan ada 4000 bayi lahir dengan ukuran kepala mengecil atau microcephaly.

Kasus terbesar kedua dilaporkan oleh Kolombia. Negara ini melaporkan lebih 20.000 orang terserang virus zika. Lebih dari 2000 diantaranya adalah perempuan hamil.

Paraguay di urutan ketiga dengan 1000 hingga 3000 orang diperkirakan terkena virus berbahaya ini. Sementara 150 orang perempuan melahirkan bayi microcephaly.

Sementara di Uruguay, ada 1000 orang yang diperkirakan terkena virus ini. Ada 400 ribu kasus demam berdarah dan 3000 kasus Chikungunya.

WHO, yang membuat pertemuan darurat untuk merespon virus ini pekan lalu, sudah membuat peringatan akan bahaya “ledakan penyebaran” virus ini ke berbagai negara. Diperkirakan ada 3-4 juta orang terserang virus zika di benua Amerika tahun depan.

Direktur Jenderal WHO Dr Margaret Chan mengatakan, ancaman Zika telah berkembang dari tingkat menengah ke “tingkat yang mengkhawatirkan” dan dampak dari virus ini “sangat serius”.

“Level peringatannya tingkat tinggi. Kemunculan virus ini telah dikaitkan dengan peningkatan tajam kelahiran bayi dengan ukuran kepala lebih kecil dari normal,” kata Dr Chan, seperti dikutip media Inggris Guardian.

Namun, Dr Chan mengakui, hubungan langsung antara virus zika dengan kelahiran bayi yang mengalami microcephaly belum bisa dibuktikan, tetapi “bisa diduga kuat”.

Untuk diketahui, virus zika ditularkan lewat gigitan nyamuk Aedes aegypti. Nah, selain virus zika, aedes aegypti juga menularkan penyakit deman berdarah dengue (DBD) dan chikungunya.

Selain itu, gejala virus ini sulit dideteksi. Sekitar 80 persen orang yang terinfeksi virus ini tidak memperlihatkan tanda-tanda. Juga pada perempuan yang hamil. Sudah begitu, belum ada vaksin yang bisa dipakai untuk menghadapi virus ini.

Zika sangat berbahaya bagi janin. Di Amerika latin, khususnya Brazil, virus zika dikaitkan dengan peningkatan jumlah bayi yang lahir dengan ukuran kepala lebih kecil dari ukuran normal atau sering disebut microcephaly.

Tetapi, para ahli menyimpulkan beberapa gejala orang yang terserang virus zika, yakni panas, sakit persendian, sedikit ruam-ruam, dan radang di selaput mata.

Amerika latin sendiri baru kali ini mengenal zika. Konon, virus ini pertama kali ditemukan di hutan Uganda, Afrika, tahun 1947. Virus ini mulai menginfeksi manusia pada tahun 1954. Penderitanya pertama kali ditemuka di Afrika dan Asia.

Nah, karena penularannya melalui nyamuk Aedes Aegypti, maka daerah trofis dan mengalami musim penghujan sangat rentan dengan penyebaran virus ini. Jadi, negara-negara Asia, termasuk Indonesia, perlu waspada.

Dunia sendiri tidak tinggal diam menghadapi virus ini. WHO sudah melakukan pertemuan darurat dan membentuk satuan tugas khusus untuk menghadapi penyebaran virus ini.

Presiden Brazil Dilma Roussef sudah mendeklarasikan perang terhadap virus zika. Tidak tanggung-tanggung, Brazil mengerahkan 220.000 tentara untuk memerangi virus zika. Selain dengan memberantas nyamuk aedes aegypti, serdadu-serdadu itu juga memberi penyuluhan tentang penangangan virus zika.

Hal serupa juga dilakukan Ekuador. Kendati diperkirakan baru 67 orang warganya yang terkena virus ini, Presiden Ekuador Rafael Correa sudah mengerahkan 700 tentaranya untuk terjun langsung membantun Kementerian Kesehatannya mencegah penyebaran virus ini.

Venezuela dan Bolivia juga gencar menghadapi virus ini. Melalui pemberantasan sarang nyamuk aedes aegypti dan sosialisasi ke masyarakat luas. Kedua negara berhaluan sosialis ini juga menempatkan sistim layanan kesehatan universal sebagai garda depan menghadapi virus ini.

Sementara Kuba, negeri komunis di kepulauan Karibia itu, mengonfirmasi sejauh ini belum ada kasus warga Kuba yang terserang atau dijangkiti virus zika. “Meskipun belum ada kasus, kami tetap melakukan pemantauan dan pencegahan,” kata Direktur Kementerian Kesehatan Kuba, Fransisco Duran, seperti dikutip teleSUR.

Lalu, beberapa negara, seperti Kolombia, El Salvador, dan Jamaika, sudah menyarankan kepada kaum perempuan untuk menunda kehamilan hingga serangan virus ini mereda.

Sedangkan Centers for Disease Control and Prevention (CDC) Amerika Serikat pada 15 Januari lalu sudah mengeluarkan peringatan perjalanan yang melarang perempuan hamil bepergian ke negara-negara berikut: Brasil, Venezuela, Bolivia, Paraguay, Kolumbia, Ekuador, Guyana, Suriname, Guyana, Prancis, Panama, Guatemala, Honduras, El Salvador, Puerto Rico, Guadeloupe, St. Martin, Martinique, Barbados, Kepulauan Virgin, Cape Verde, dan Samoa.

Lantas, bagaimana dengan Indonesia?

Peneliti Eijkman Institute for Molecular Biology sudah mengklaim pada hari Minggu (31/1/2015) bahwa pihaknya telah menemukan satu kasus positif terinfeksi virus Zika di Provinsi Jambi. Itu ditemukan pada tahun 2015 lalu.

Nah, seperti dikatakan sebelumnya, sebagai negara trofis dan sekarang sedang musim hujan, Indonesia tentu sangat rentan dengan virus zika. Kembalilah ke motto: lebih baik mencegah daripada mengobati.

Raymond Samuel

Share your vote!


Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Fascinated
  • Happy
  • Sad
  • Angry
  • Bored
  • Afraid