Dua Bom Meledak Di Tengah Aksi Protes Di Turki

Dua bom meledak di tengah-tengah aksi protes damai yang digelar oleh sejumlah serikat buruh di kota Ankara, Turki, Sabtu (10/10/2015). Serangan tersebut menewaskan 97 orang dan melukai 250 orang lainnya.

Menurut laman Guardian, bom tersebut meledak di dekat sebuah stasiun kereta api di tengah kota dan menyasar ribuan buruh yang sedang bersiap-siap menggelar aksi protes damai untuk menuntut penghentian konflik bersenjata antara pemerintah dengan Partai Pekerja Kurdistan (PKK).

Aksi protes damai itu diorganisir oleh Konfederasi Serikat Buruh Sektor Publik (KESK), Konfederasi Serikat Buruh Revolusioner Turki (DİSK), Asosiasi Pekerja Medis Turki (TTB), dan Perhimpunan Insinyur dan Arsitek Turki (TMMOB).

Belum ada pihak yang mengaku bertanggung jawab atas serangan bom biadab tersebut. Namun, pemerintah Turki menyebut serangan bom itu sebagai “serangan teroris” yang dilakukan oleh pelaku bom bunuh diri.

Presiden Turki, Recep Erdoğan, mengutuk serangan bom tersebut. Ia menyebut serangan itu menyasar kesatuan dan perdamaian. “Aku sangat mengutuk serangan keji ini pada persatuan kita dan perdamaian negara kita,” ujarnya.

Lebih lanjut, dia mengatakan, tidak ada perbedaan antara serangan bom yang dilakukan teroris dengan serangan yang dilakukan oleh orang-orang terhadap tentara dan polisi Turki. Pernyataan Erdoğan ini seakan-akan menyalahkan Partai Pekerja Kurdistan (PKK).

Partai Rakyat Demokratik (HDP), yang turut bergabung dalam aksi protes ini, mengklaim bahwa justru anggotanya menjadi target dari serangan bom ini. HDP juga menunjuk hidung pemerintah sebagai pihak yang harus bertanggung-jawab.

“Harus diketahui bahwa tidak ada polisi di sekitar tempat kejadian saat ledakan bom terjadi. Pasukan anti huru-hara tiba di lokasi 15 menit kemudian. Tetapi ketika mereka tiba, mereka menyerang dengan gas air mata terhadap orang-orang yang bermaksud menolong korban yang terluka,” demikian statemen HDP.

Memang, seperti tampak di video amatir yang diunggah di laman Guardian, pasukan anti huru-hara justru sibuk memukuli demonstran. Padahal, di video itu terlihat masih banyak korban luka yang terbaring di jalanan.

“Kami menyaksikan pembantaian di sini. Serangan yang kejam dan barbar dilakukan. Jumlah orang yang tewas sangat banyak,” kata Selahattin Demirtaş, seorang aktivis HDP.

HDP adalah partai berhaluan kiri dan pro-Kurdistan. Pada pemilu bulan Juli lalu, HDP berhasil meraih suara mencengangkan, yaitu lebih dari 10 persen, dan berhasil menempatkan wakilnya di parlemen. Keberhasilan tersebut berhasil menjungkalkan dominasi partai berkuasa, Partai Keadilan dan Pembangunan (AKP), yang dipimpin oleh Erdogan.

HDP adalah penentang utama kebijakan Erdogan. Terutama kebijakan neoliberalnya yang dibarengi dengan penutupan ruang demokrasi. Tidak hanya itu, Erdogan juga sangat brutal dalam memberangus aspirasi bangsa Kurdi.

Ini serangan bom ketiga terhadap HDP. Serangan bom pertama terjadi pada bulan Juni lalu, di Diyarbakir, saat HDP sedang menggelar aksi massa. Kemudian serangan kedua terjadi pada 20 Juli lalu, ketika militan ISIS melakukan aksi bom bunuh diri di di Suruç, sebuah kota yang dihuni orang Kurdi berbatasan dengan Suriah, yang menyebabkan 32 orang pemuda anggota Federasi Pemuda Sosialis (SGDF) terbunuh. Dan serangan yang sekarang merupakan yang ketiga.

Ironisnya, pemerintahan Erdoğan justru menjadikan kejadian itu sebagai dalih untuk menyerang pejuang Kurdistan, khususnya Partai Pekerja Kurdistan (PKK) yang beraliran marxis.

Beberapa saat setelah protes, ratusan ribu orang turun ke jalan memprotes pemerintahan Erdoğan. Mereka menyalahkan pemerintahan terkait serangan bom mematikan yang dilakukan di tengah aksi protes damai itu.

Sementara itu, sesaat setelah kejadian itu, pemerintah Turki membekukan sementara pemberitaan media massa terkait kejadian itu. Media-media Turki dilarang memperlihatkan gambar di lokasi kejadian, terutama gambar berdarah, yang bisa menciptakan kepanikan publik.

Sejumlah orang di Ankara, Ibukota Turki, melaporkan tidak bisa mengakses Twitter dan media sosial lainnya sesaat setelah ledakan bom. Tidak jelas apakah pemerintah Turki sengaja memblokir akses ke situs-situs tersebut.

Yang jelas, sejak Erdoğan berkuasa, serangan terhadap media dan kebebasan berpendapat meningkat. Media-media yang mengkritik pemerintah dibungkam. Pada hari Jumat lalu, pemimpin redaksi koran berbahasa Inggris, Today’s Zaman, ditangkap dan dipenjara.

Raymond Samuel

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut