Aidit Dan Koperasi

Bicara koperasi, orang langsung merujuk ke Bung Hatta. Wakil Presiden pertama Republik Indonesia ini memang dikenal sebagai “Bapak Koperasi Indonesia”.

Namun, tahukah anda, ada tokoh lain yang juga bicara koperasi, tetapi kurang terangkat oleh sejarah. Dia adalah Dipa Nusantara Aidit, ketua Central Comitte Partai Komunis Indonesia (PKI). Gagasan koperasi dari tokoh yang mendapat cap hitam dalam sejarah resmi ini menarik untuk didiskusikan.

Yang pertama, Aidit menentang habis  pandangan yang meletakkan koperasi sebagai substitusi dari perjuangan menggulingkan kapitalisme dan feodalisme dengan gerakan koperasi. Seolah-olah koperasi bisa memakmurkan rakyat tanpa harus melikuidasi kapitalisme dan feodalisme.

Aidit berpegang pada teori ekonomi-politik Marxis. “Klas buruh hanya mungkin sampai kepada tujuan perjuanganya, yaitu pembebasan darinya dari segala bentuk penghisapan, jika sistem kapitalisme itu dihapus sama sekali,” katanya.

Sebaliknya, Aidit juga menolak keras pandangan yang mengabaikan kontribusi koperasi di bawah kapitalisme. Menurutnya, kendati masih di bawah sistim kapitalisme, koperasi bisa berguna untuk perbaikan tingkat penghidupan rakyat.

Hanya saja, kita tidak boleh berilusi, bahwa koperasi bisa mengatasi krisis ekonomi yang tengah menimpa rakyat. Yang harus ditekankan, koperasi hanya bisa mengangkat tingkat penghidupan rakyat.

Yang kedua, Aidit membeberkan dua manfaat koperasi bagi rakyat pekerja. Pertama, koperasi dapat mempersatukan rakyat pekerja sesuai lapangan penghidupannya dan mencegah keterpecahan/fragmentasi produsen-produsen kecil.

Jika produsen kecil atau ekonomi lemah ini disatukan, setidaknya mereka bisa mengurangi penghisapan tuan tanah, lintah darat, tukang ijon, tengkulak, dan para kapitalis.

Prinsipnya: koperasi hanya mengurangi penghisapan, tetapi tidak menghapuskan penghisapan itu sendiri. Hanya revolusi yang bisa menghapuskan penghisapan itu.

Kedua, koperasi dapat digunakan untuk meningkatkan produksi, sehingga menambah penghasilan atau pendapatan anggotanya.

Lebih penting lagi, menurut Aidit, pengalaman berkoperasi di jaman sekarang bisa menjadi semacam “sekolah” untuk menuju koperasi tingkat tinggi, yakni koperasi sosialis. Koperasi tipe ini hanya muncul di bawah sistim masyarakat sosialistik.

Yang ketiga, Aidit menggarisbawahi perbedaan koperasi di bawah kapitalisme dan koperasi di bawah sosialisme. Perbedaan pokoknya terletak pada soal hubungan kepemilikan. Dalam koperasi sosialis, alat produksi dimiliki secara kolektif. Dalam koperasi pertanian, misalnya, tanah dan alat-alat produksi lainnya dimiliki secara kolektif oleh kaum tani. Sementara koperasi di bawah kapitalisme masih mengakui kepemilikan perseorangan.

Bagaimana strateginya supaya koperasi bisa sejalan dengan cita-cita sosialisme? Aidit menjawab: koperasinya harus berwatak progressif, bukan kapitalistik. Artinya, koperasi itu tidak boleh dikembangkan dalam logika kapitalistik, yakni mencari untung.

Nah, supaya pengelolaan koperasi tidak salah urus, Aidit menganjurkan agar gerakan koperasi menghindari dua penyakit. Pertama, kecenderungan kekiri-kirian, yaitu penyakit kekanak-kanakan dalam revolusi, yang menempatkan pembangunan koperasi sekarang adalah koperasi sosialis dan menuntut penghapusan kapitalis nasional, termasuk pedagang kecil.

Perkoperasian harus diletakkan searas dengan tahap Revolusi Indonesia. Dengan demikian, dalam tahap revolusi nasional-demokratis, musuh pokok koperasi adalah menghapuskan imperialisme dan feodalisme. Termasuk menyasar kapitalis birokrat dan komprador.

Kedua, kecenderungan kekanan-kananan, yaitu praktek menjalankan koperasi dengan watak kapitalistik. Kata Aidit, potensi menyeleweng ke kanan, yakni praktik kapitalis, sangat besar. Maklum, kita hidup di tengah-tengah struktur masyarakat kapitalis.

Aidit jelas tidak sesumbar. Sekarang saja, dari sekitar 186.000 koperasi yang ada di Indonesia, ternyata ada 70 persen yang tinggal papan nama. Banyak yang bangkrut karena tata kelola yang kapitalistik. Sebagian besar juga karena digilas liberalisasi ekonomi.

Karena itu, koperasi harus dibangun di atas dasar yang tepat. Aidit bilang, koperasi mesti dibangun di atas kerjasama diantara kaum yang lemah ekonominya. Supaya, ketika mereka bersatu, kapital besar tidak gampang melumat mereka.

Selain itu, koperasi juga harus dibangun di atas kesamaan kepentingan. Koperasi tidak bisa dibangun di atas himpunan kelas-kelas yang bertolak-belakang kepentingannya. Tuan tanah, tani kaya, tani sedang, dan tani miskin tidak bisa dihimpun dalam koperasi bersama. Kepentingan mereka jelas berlawanan. Begitu pula antara penguasa dan kaum buruh.

Mencoba menghimpun kelas-kelas yang berbeda kepentingan itu ke dalam sebuah koperasi, bukan saja menyebabkan kehancuran koperasi, tetapi membuka peluang bagi si kuat menindas yang lemah.

Yang menarik, pendapat Aidit soal koperasi pertanian. Menurut dia, pembangunan koperasi pertanian akan sulit terlaksana tanpa penuntasan agenda land-reform. Tanpa pelaksanaan land-reform, struktur kepemilikan tanah tetap timpang. Tanah akan dikuasai oleh tuan tanah dan perusahaan besar. Sementara mayoritas kaum tani tidak punya akses terhadap tanah sebagai alat produksi.

Dalam pengembangan koperasi, banyak yang berpendapat, sebaiknya peranan negara dikurangi atau ditiadakan. Sebab, kehadiran negara justru akan mengkooptasi gerakan koperasi itu.

Aidit menolak pendapat itu. Baginya, di tengah tekanan kapitalisme, peranan pemerintah justru dibutuhkan. Pemerintah bisa memberi sokongan berupa: fasilitas, kemudahan mendapat bahan baku, memberikan order-order, keringanan pajak, bantuan finansial, dan pendidikan bagi anggota koperasi.

Tetapi Aidit juga berpesan agar koperasi bisa tumbuh seperti pohon di udara bebas. Tidak seperti “Kamer-plant”—tanaman penghias kamar, yang tumbuh karena disirami terus-menerus. Artinya, koperasi harus tumbuh secara wajar dan demokratis, dan tidak selalu menyusu pada bantuan.

Itulah sekilas pemikiran Aidit soal koperasi. Cara pandang dia memakili pandangan kaum komunis dalam melihat gerakan koperasi. Setidaknya ini bisa memperkaya teori perkoperasi di Indonesia. Semoga.

Kusno

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut