SIMPONI Dan Indonesia Tanpa Korupsi

Semua karena korupsi
Negeri kaya anak kurang gizi
Rakus pejabat politisi
Bangsa kaya anak tak sekolah

Pengusaha rakus hutan gundul
Bencana datang tak henti
Vonis hakim bisa dibeli
Koruptor dilindungi

Itulah salah satu baik dari lagu berjudul “Vonis”, yang dinyanyikan oleh grup musik Simponi. Simponi singkatan dari Sindikat Musik Penghuni Bumi. Grup musik ini berdiri tanggal 20 Oktober 2010—bertepatan dengan peringatan Hari Sumpah Pemuda.

Rendy Ahmad, pemeran “Arai” dalam film “Sang Pemimpi”, menjadi motor sekaligus vokalis grup ini.  Simponi menjadi komunitas anak muda penikmat dan pemain musik (pop, alternatif, rock, reggae, beatbox). Juga pencinta tari-tarian dan teater.

Namun, berbeda dengan kebanyakan band anak-muda, Simponi dibangun di atas sebuah ide dan cita-cita. Mereka terang-terang menyatakan: “We are making a movement /We are not a silent generation/Share your wild imagination/We are building a revolution.

Karena itu, Simponi lebih banyak melakukan penyuluhan dan pentas musik ke sekolah-sekolah, pesantren dan universitas. Dalam kegiatan bertajuk “Rock N’ Green Tour”, Simponi mengunjungi 82 sekolah di Jabodetabek, Bandung, dan Lampung. Di situ mereka berkampanye tentang bahaya pemanasan global (global warming).

Rendy dan Simfoni memegang erat-erat pesan penyair WS Rendra: “Apakah artinya kesenian, bila terpisah dari derita lingkungan.” “Saya dan SIMPONI ikut serta dalam usaha pemberantasan korupsi dengan cara belajar dan bernyanyi bersama dengan anak muda lainnya,” kata Rendy kepada Rolling Stone Indonesia.

Memang, sejauh ini, ada dua isu besar yang digarap Simfoni: korupsi dan lingkungan. Bagi Rendy, masalah terbesar di Republik tercinta ini adalah korupsi. Dan, gara-gara korupsi pula, banyak perizinan keluar melalui jalur yang tidak benar. Inilah salah satu penyebab kerusakan lingkungan.

Melalui jalur musik, Simfoni menganyam mimpinya: Indonesia tanpa korupsi. “Dukungan bisa dalam bentuk apapun, sekecil apapun, dan di manapun,” kata Rendy Ahmad. Ia dan Simponi menggunakan konser musik, demonstrasi, petisi online di change.org/savekpk, saweran, lagu, film, penyuluhan, atau usaha kreatif lainnya sebagai jalan memerangi korupsi.

Beberapa bulan lalu, Simfoni menelurkan lagu berjudul “Vonis/Verdict”. Video klip-nya dibuat oleh Dandhy Laksono (WatchdoC Indonesia). Lagu itu pun diikut sertakan dalam kompetisi Internasional “Musik Anti-Korupsi” di Belgia/Brazil dan untuk Roadshow Penyuluhan Anti-Korupsi di sembilan propinsi.

“Alhamdulillah, Vonis menjadi juara kedua, mengalahkan 75 video musik dari 35 negara lain di dunia,” kata Rendy. Juara pertama diraih oleh grup band asal Mesir, Youssra El Hawary.

Berbekal sukses itu, Simofini diundang konser di Brasilia, ibukota Brasil, pada 6 November 2012 dan 10 November 2012 lalu. Konser pertama, 6 November 2012, di Orla Clube de Engenharia, di pinggir Danau Paranoa, Brasilia”. Sedangkan konser kedua, 10 November 2012, di Ulysses Guimarães Convention Center (CCUG), Brasília.

Ketika tampil di Brazil, Simponi tampil memukau. Bahkan, saat membawakan lagu berjudul “Donna Donna”, Peter Eigen, pendiri lembaga antikorupsi global Transparency International, naik ke atas panggung dan menyanyi bersama.

Dalam isu lingkungan, Rendy dan Simponi menaruh keprihatinan sangat besar. Mereka pun menciptakan dua lagu, “Merintih” dan “We Are Sinking”, yang khusus berbicara soal lingkungan. Bagi Rendy, kerusakan lingkungan paling banyak disebabkan oleh kebijakan pembangunan pemerintah, yang sekedar mengejar keuntungan belaka, tanpa memperhatikan aspek ekologis. “Rakyat Indonesia menjadi korban bencana karena pembangunan yang tidak ekologis,” katanya kepada media lingkungan, Mongabay.co.id.

Namun, jangan kira Simfoni tidak menggarap isu sosial lainnya. Bertepatan dengan hari Valentine, 14 Februari 2013 lalu, yang juga ditandai dengan aksi internasional menolak kekerasan terhadap perempuan, yakni gerakan “”One Billion Rising, Simfoni menciptakan lagu khusus. Judulnya: “Sister In Danger”.

“Kami tahu kalau kasus perkosaan dan pelecehan seksual terhadap perempuan sudah berlangsung lama di Indonesia. Tapi kami baru terhenyak ketika seorang mahasiswi di India menjadi korban perkosaan dan penyiksaan brutal oleh beberapa lelaki beberapa bulan lalu, yang menimbulkan gelombang amarah rakyat India,” tulis Simponi dalam releasenya.

Meski terbilang baru, tetapi Simponi sudah menembus dunia internasional. Namun demikian, mereka tidak cepat merasa besar kepala. Mereka tetap pada keyakinannya: Kami semua akan melakukan sesuatu lewat peran masing-masing. Kemudian Tuhan pasti akan memeluk mimpi kami, dan generasi masa kini dan masa depan akan menikmatinya.

Anna Yulianti, pemerhati masalah sosial, perempuan, dan HAM.

[youtube]OFW-zemUsUM[/youtube]

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut