Diskusi PRD Lampung: Trisakti Jalan Menuju Masyarakat Adil dan Makmur

Ketua Umum Partai Rakyat Demokratik (PRD) Agus Jabo Priyono menegaskan, Trisakti sebagai pilar kemerdekaan merupakan prasyarat mutlak untuk mewujudkan masyarakat adil dan makmur.

“Trisakti adalah pilar kemerdekaan, yang berdiri tegak bersama jiwa bangsa Indonesia ini untuk hidup berdaulat, mandiri, dan berkepribadian, merupakan jalan untuk mewujudkan masyarakat adil makmur atau Republik Indonesia Keempat,” kata Agus Jabo saat menyampaikan pidato sambutan dalam diskusi “Pancasila Dasarnya, Trisakti Jalannya, Republik Indonesia Ke-IV: Masyarakat Adil Makmur, Tujuannya” di Ruang Anggrek Hotel Marcopolo Bandar Lampung, Senin (25/5/2015).

Agus Jabo juga menilai, Kebijakan pemerintahan di Indonesia saat ini tidak berbeda jauh dengan situasi di bawah kolonialisme. Akibatnya, kapital asing menguasai perekonomian Indonesia.

“Apa yang kita punya setelah hampir 70 tahun merdeka, tinggal papan nama Negara Kesatuan Republik Indonesia yang kita punya, tanah air dengan segala isinya sudah kembali dikuasai kapital, persis seperti pada masa colonial,” ungkapnya.

Lebih jauh, dia menambahkan, liberalisme telah merobohkan Trisakti dan menghilangkan tanggung jawab negara untuk melindungi segenap bangsa serta memajukan kesejahteraan umum.

Dalam pidatonya Agus Jabo juga menegaskan bahwa PRD anti terhadap modal asing secara membabi buta. “PRD tegas anti terhadap modal asing yang hendak menjadikan negeri ini sebagai sasaran penjarahan dan penjajahan,” tegasnya.

Karena itu, Agus Jabo mengajak seluruh bangsa Indonesia untuk bersatu menghentikan imperialisme dan mewujudkan Trisakti. Katanya, Trisakti merupakan sebuah gerakan sekaligus kekuatan untuk mengubah negara pelayan kapital menjadi negara yang bisa memperjuangkan masyarakat adil dan makmur.

Diskusi publik yang digelar oleh Komite Pimpinan Wilayah PRD Lampung ini juga dihadiri Walikota Bandar Lampung, Herman HN. Dalam sambutannya, Herman HN menegaskan, untuk mewujudkan kesejahteraan masyarakat, pihaknya mengusung empat program prioritas, yakni pendidikan gratis, kesehatan gratis, pembangunan infrastruktur jalan, dan jaminan keamanan.

Dalam sambutannya, Herman HN mendukung perjuangan PRD asalkan benar-benar untuk kepentingan rakyat. “Selama perjuangannya murni untuk rakyat, saya akan dukung gagasan dan perjuangan PRD,” pungkasnya.

Diskusi untuk memperingati 107 tahun Harkitnas ini menghadirkan sejumlah pembicara, seperti Mingrum Gumay (Sekretaris PDIP Lampung), Fajrun Najjah Ahamad (Sekretaris DPD Partai Demokrat Lampung), Abi Hasan Mu’an (Ketua Peradi Lampung), Dr. Jauhari Zaelani (Akademisi UBL), Abi Hasan Mu’an (Ketua Peradi Lampung), Jauhari Jailani (Akademisi pengamat politik), dan Ahmad Rifai (Wasekjend KPP PRD).

Dalam pemaparannya, Sekretaris PDIP Lampung Minggrum Gumay menjelaskan posisi PDIP terhadap pemerintahan. Dia bilang, PDI-P selamanya tidak merasa diri telah menjadi partai penguasa, sekalipun faktanya PDIP memenangkan pemilu legislatif dan capres yang diusungnya pun kader internal.

“Itu hanya stigma yang disematkan saja oleh publik saja. Tetapi kemenangan Jokowi adalah kemenangan koalisi parpol pendukung. Itu yang membuat PDIP tetap memposisikan Jokowi sebagai kadernya, bukan sebagai Presiden, di Kongres Bali,” tegasnya.

Dia pun menegaskan bahwa PDIP tetap konsisten dengan program Trisakti dan tetap berada di garis depan untuk mengawal pemerintahan Jokowi-JK saat ini.

Sementara Sekretaris Partai Demokrat Lampung Fajrun Najjah mengatakan, partai Demokrat punya pengalaman berkuasa sepuluh tahun yang masih hangat.

“Karenanya, partai kami berupaya untuk menjadi penengah yang punya jarak untuk mengawal pemerintahan baru ini,” paparnya.

Ia mengaku setuju dengan gagasan-gagasan yang dikampanyekan oleh PRD. Hanya saja, dia mengakui, perjuangan untuk mewujudkan gagasan itu di dalam lingkaran kekuasaan tidaklah mudah. Sebab, kekuasaan dibentuk banyak partai dengan program-programnya sendiri.

Sementara itu Abi Hasan Mu’an dari PERADI menyoroti soal gagasan para pendiri bangsa (founding father) yang makin diabaikan oleh banyak pihak.

“Kaum muda yang paling bisa diandalkan untuk menggebrak malah semakin larut dalam hedonisme, kongkow-kongkow tanpa isi dan terlampau anti pada politik, ini membuat bangsa kita sekarang sangat miskin pada gagasan gagasan orisinil yang baru dan segar,” ujar mantan aktivis PRD ini.

Dia berharap, PRD bisa menjadi partai alternatif untuk memperjuangkan perubahan yang lebih baik di Indonesia. “Konsepsi Republik Ke-IV kali ini patut jadi kajian yang menarik bagi semua pihak,” ujarnya.

Pembicara yang mewakili akademisi, Jauhari Jailani, mengakui keberhasilan PRD bertarung di ranah wacana. Namun, katanya, wacana itu baru bisa diterapkan kalau PRD bisa merebut kekuasaan.

“Kunci dari keberhasilan dari gagasan Republik Indonesia ke-IV ini adalah tidak mengabaikan proses kaderisasi dan pembesaran basis-basis massanya agar legitimasi politiknya semakin kuat,” jelasnya.

Dia berharap, PRD tidak terjebak dalam logika kekuasaan Indonesia hanya selama satu abad ke belakang yang terkubur oleh kolonialisme dan pengerdilannya.

“Tapi tengoklah juga sejarah kejayaan bangsa nusantara ribuan tahun lalu yang layak menjadi bekal bagi kebangkitan yang gemilang,” tegasnya.

Acara diskusi publik diikuti oleh ratusan peserta yang berasal dari kabupaten dan kota di Lampung. Mereka juga antusias mengikuti diskusi dengan bersemangat.

Saddam Cahyo

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut