Demi Keadilan, Buruh Naik Motor Dari Kalimantan Ke Jakarta

Adhy Pramono Sulistyono, aktivis Serikat Buruh di Berau, Kalimantan Timur, rela melakukan perjalanan cukup jauh, yakni dari Berau (Kaltim) ke Jakarta, dengan menggunakan sepeda motor, demi memperjuangkan hak-haknya yang dirampas pengusaha.

Adhy, 50 tahun, memulai aksinya tanggal 28 Februari 2013 lalu. Dia memperkirakan telah menempuh jarak 1638 km. Dan, setelah menempuh perjalanan selama sepuluh hari, Adhy tiba di Ibukota Republik Indonesia, Jakarta, pada tanggal 9 Maret lalu.

Adhy adalah buruh di perusahaan tambang PT. Riung Mitra Lestari (RML). Tergerak melihat penindasan terhadap kawan-kawannya, ia pun membangun Serikat. Namun, tindakan itu dianggap membahayakan perusahaan. Akhirnya, pada bulan Oktober 2012, ia di-PHK oleh PT. RML.

Praktek Union Busting

Setahun bekerja di PT. RML, Adhy tiba-tiba dipanggil oleh manajemen. Rupanya, ada pertemuan Lembaga Kerjasama (LKS) Bipartit. Dan, tanpa disangka, Adhy ditunjuk sebagai Ketua LKS.

Awalnya Adhy menolak. Baginya, yang mestinya dibentuk adalah serikat, bukan LKS. Namun, pihak manajemen meyakinkan bahwa yang mendesak adalah pembentukan LKS. “Pembentukan Serikat menyusul kemudian,” kata Adhy menirukan ucapan manajemen.

Namun, begitu dilantik sebagai ketua LKS, Adhie menyatakan bahwa dirinya akan mengundurkan diri dari jabatannya apabila LKS gagal mengakomodir aspirasi kaum buruh.

Waktu berjalan tiga bulan. Adhy merasa banyak aspirasi buruh yang tidak terakomodir oleh LKS. Karena itu, sesuai dengan janjinya, ia pun menyatakan pengunduran diri. Lalu, ia menggalang kawan-kawannya membangun serikat buruh. Berdirilah Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (SPSI) di perusahaan tambang tersebut.

Adhy terpilih sebagai ketua PUK SP KEP SPSI di PT RML. Sesuai ketentuan UU, ia pun mendaftarkan serikatnya ke Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) Kabupaten Berau. Namun, pihak manajemen PT. RML mempertanyakan keberadaan serikat itu.

“Pihak manajemen menganggap serikat kami tidak sah karena hanya beranggotakan 9 orang. Saya bilang, 9 orang itu hanya pengurus. Ada 112 anggota kami yang terdaftar di Disnaker,” ujar Adhy.

Bersamaan dengan itu, Adhy dan kawan-kawan menemukan banyak masalah di PT. RML, seperti outsourcing dan PHK tanpa pesangon. Ia dan serikatnya bersuara keras atas persoalan itu. Ironisnya, pihak perusahaan merespon suara itu dengan menskorsing Adhy.

“Saya dituding oleh pihak perusahaan mengancam LKS. Saya sendiri tidak tahu soal ancaman itu,” kata Adhy.

Adhie kemudian mendorong mediasi. Namun, pihak Disnaker menganggap persoalan Adhy terkait pidana. Akhirnya, Adhy pun melapor ke Polisi terkait larangan berserikat dan pemalsuan data. “Pihak perusahaan mencatat saya masuk kerja tahun 2012. Padahal, saya sudah bekerja sejak 2010,” ungkapnya.

Tetapi polisi menganggap laporan tersebut tak cukup bukti. Lebih parah lagi, sekalipun skorsing terhadap Adhy belum berakhir, pihak perusahaan telah menjatuhkan PHK. “Sejak Februari hingga sekarang saya tidak pernah digaji lagi. Saya dianggap sudah di-PHK,” ujarnya.

Naik Motor Ke Jakarta

Karena Disnaker Berau tak memihak pada keadilan, Adhie pun memilih memperjuangkan nasibnya di Jakarta. “Saya ingin melapor ke Komnas HAM, Komisi IX DPR dan Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Menakertrans) terkait perlakuan yang saya alami,” kata Adhie.

Di Berau, Adhie hanya disokong oleh Serikat Buruh Sejahtera Indonesia (SBSI) dan Front Nasional Perjuangan Buruh Indonesia (FNPBI). “Saya berterima kasih, sebab teman-teman FNPBI banyak membantu perjuangan saya,” katanya.

Adhy menjelaskan, aksinya ke Jakarta dimaksudkan untuk mendapatkan keadilan. “Saya berharap, di Jakarta ini saya mendapatkan keadilan. Dengan begitu, tidak ada lagi praktek union-busting di Berau,” tegasnya.

Ia berangkat ke Jakarta dengan modal keberanian. Uang pribadi di sakunya cuma Rp 30 ribu. Kemudian ia menerima sumbangan dari kawan-kawan seperjuangannya. Dengan modal itulah ia meninggalkan kota Berau menuju Jakarta tanggal 28 Februari lalu.

Di sepanjang perjalanan, ujar Adhy, banyak warga yang mendukung aksinya. “Banyak yang menanyakan aksi saya, jadi saya jelaskan ke mereka. Akhirnya mereka tergerak hatinya dan mendukung saya,” ujar Adhie.

Begitu naik kapal, ia dipaksa membayar Rp 650 ribu. Adhy meminta keringanan, namun ditolak oleh pihak kapal. “Ya, terpaksa saya harus bayar segitu. Padahal, itu uang donasi kawan-kawan. Uang dikantong saya tinggal Rp 25 ribu,” ujarnya.

Beruntung, ketika di atas kapal, banyak yang bersimpati kepada Adhie. Sebagian besar sopir-sopir lintas pulau. Sopir-sopir itulah yang selalu membelikan makan dan rokok untuk Adhy. Di sepanjang perjalanan, Adhy banyak menumpang menginap di kantor Polisi.

Tiba di Pulau Jawa, dukungan rakyat makin besar. Di daerah Nganjuk, Jawa Timur, Adhy dijamu nasi pecel oleh warga. “Saya sangat berterima kasih atas solidaritas dan bantuan rakyat terhadap saya,” kata Adhy.

Rencana di Jakarta

Adhy sudah tiba di Jakarta. Untuk sementara ia mengaku menginap rumah kerabatnya. Namun, ia menegaskan, dirinya tidak akan pulang sebelum ada kejelasan soal nasibnya.

“Saya tidak akan pulang. Hanya karena membuat serikat, saya di PHK. Bahkan, saking bencinya mereka sama saya, anak saya pun di PHK. Istri anak saya sedang hamil. Saya tidak punya gaji lagi,” kata Adhy, yang segera disertai deraian air mata.

Bagi Adhy, dirinya tidak hanya bicara kepentingan pribadinya, tapi soal memperjuangkan hak buruh untuk berserikat. “Berserikat itu kan hak kaum buruh sebagaimana dijamin UU. Ini kok saya di PHK gara-gara itu. Saya harus melawannya agar mereka tak sewenang-wenang terhadap buruh lain yang melakukan aktivitas seperti saya,” ujarnya.

Di Jakarta, Adhy akan mendatangi Komnas HAM, Komisi IX DPR RI, dan Kemenakertrans RI. Ia juga akan mengunjungi sejumlah serikat buruh untuk meminta dukungan.

Mahesa Danu

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut