Dari ‘Manifesto Komunis’ Hingga Kritik Ketidakadilan di Panggung Oscar 2020

Ajang Academy Award 2020 memberi kejutan sekaligus mencetak sejarah. Tak hanya itu, pesan-pesan politik juga bersahut-sahutan di ajang penghargaan film paling bergengsi sejagat ini.

Untuk pertama kalinya, setelah 92 tahun penyelenggaraan Academy Award, ada film dari Asia dan tidak berbahasa Inggris yang bertengger paling di puncak. Ya, film Parasite, karya sutradara Bong Joon-Ho, meraih 4 penghargaan sekaligus: Best Picture, Best Director, Best Original Screenplay, dan Best International Film.

Dia berbeda dengan film-film dengan pemeran yang didominasi orang Asia, tetapi berbahasa Inggris dan disutradarai oleh non-Asia, seperti Last Emperor (1987), Memoirs of a Geisha (2005), Slumdog Millionaire (2009), dan Life of Pi (2012). Parasite benar-benar serba Asia.

Namun, yang luar biasa dari Parasite bukan hanya karena menjadi film dari Asia yang sukses mendobrak dominasifilm-film barat, tetapi pesan kuat yang diangkatnya, yaitu kritik satire terhadap persoalan ketimpangan sosial.  

“Ini kejadian yang alami. Karena aku tinggal di Soul, aku mengangkat kisah orang-orang di sekitar saya, di lingkungan yang saya temui tiap hari,” kata Bong Joon-ho, ketika diwawancari majalah GQ di New York, pada Oktober 2019 lalu.

Menurutnya, siapa pun, termasuk seniman, tak bisa menghindari isu kelas sosial. Sebab, kenyataannya, kelas sosial itu memang ada. Di kereta, di jalanan, di Bandara, di mana-mana.

“Kita selalu heran dengan ini, karena kita hidup di era kapitalisme,” katanya.

Untuk pertama kalinya juga, kata-kata seruan paling kuat dari Manifesto Komunis, Kaum buruh sedunia, bersatulah!, dikutip oleh salah satu pemenang di ajang paling bergengsi paling insan perfileman ini.

Ya, kata kunci sekaligus penutup dari Manifesto Komunis, yang ditulis oleh Karl Marx dan Friedrich Engels di tahun 1848, itu dikutip oleh Julia Reichert, seorang sutradara sekaligus feminis berkebangsaan Amerika Serikat.

Film documenter karya Julia, American Factory, mendapat penghargaan untuk kategori: Best Documentary Feature. Sebelumnya, pada 1983, filmnya berjudul Seeing Red, yang berkisah tentang Partai Komunis Amerika, juga masuk nominasi piala Oscar.

“Rakyat pekerja bekerja keras dan makin keras hari ini. Dan kami percaya, segala sesuatunya akan lebih baik, jika para pekerja sedunia bersatu,” kata Julia, yang tengah berjuang melawan penyakit kanker.

Pesan sangat kuat juga dilantangkan oleh Joaquin Phoenix, yang mendapat penghargaan untuk kategori Best Actor  di film Joker (2019). Joaquin, yang memerankan karakter Arthur Fleck dalam film tersebut, berbicara lantang mengeritik rasisme dan ketidakadilan.

“Saya pikir, ketika kita bicara ketidakadilan gender, rasisme, hak queer, atau hak masyarakat adat, atau hak hewan, kita bicara tentang perjuangan melawan ketidakadilan,” katanya.

Lebih lanjut, dia mengeritik menguatnya keyakinan intoleran dan rasis di berbagai belahan dunia.

“Kita bicara tentang perlawanan terhadap sebuah keyakinan yang menganggap satu bangsa, satu orang, satu ras, satu gender, satu spesies, berhak untuk mendominasi, memanfaatkan, dan mengontrol yang lain dengan impunitas,” ujarnya.

Brad Pitt, aktor kenamaan yang meraih penghargaan Oscar untuk kategori: Best Supporting Actor. Dia diganjar penghargaan itu lantaran aktingnya di film Once Upon a Time in Hollywood, yang disutradarai oleh Quentin Tarantino.

Saat menerima piala, Brad Pitt menggunakan waktunya untuk menyindir sikap para senator dari Partai Republik yang tidak mengizinkan John Bolton, mantan Penasehat Keamanan AS, untuk memberi kesaksian dan bukti di Sidang Senat soal pemakzulan Donald Trump.

“Mereka bilang ke aku hanya punya 45 detik di sini, sama dengan 45 detik yang diberikan oleh Senat kepada John Bolton minggu ini,” katanya membuka komentar singkatnya sambil memegang pialanya.

Untuk diketahui, aktor berusia 56 tahun ini memang salah satu selebriti papan atas penentang Donald Trump. Ia pernah menyebut Trump sebagai ancaman terbesar bagi masyarakat Amerika dan dunia.

Namun, ngomong-ngomong tentang pidato politis di ajang Oscar, ini bukan yang pertama. Jauh-jauh tahun sudah banyak yang melakukannya.

Di penghargaan Oscar tahun 2016, saat memerangkan penghargaan untuk kategori: Best Actor, Leonardo DiCaprio juga melakukan yang sama. Ia bicara tentang bahaya perubahan iklim yang mengancam manusia dan alam.

Melongok ke belakang lagi, di tahun 2009, ada Sean Penn yang berbicara tentang perlunya memberi pengakuan terhadap pernikahan sesama jenis dan penghargaan terhadap hak-hak LGBT.

Jauh sedikit, di tahun 2003, ada sutradara Michael Moore yang bersuara keras menentang kebijakan Bush terkait penyerbuan ke Irak. “Kita hidup di sebuah zaman, yang mana seseorang mengirim kita ke medang perang untuk alasan yang fiktif,” katanya.

Dan yang terdahsyat, di tahun 1973, Marlon Brando justru membuat aksi menggemparkan. Ia menolak penghargaan Oscar yang diberikan kepadanya, sebagai Best Actor, karena perannya sebagai Don Vito Corleone di film The Godfahter.

Marlon mengecam film-film Amerika dan komunitas perfileman yang berkontribusi memberikan strereotif negatif dan diskriminatif terhadap masyarakat asli Amerika, yaitu orang-orang Indian.

Sebagai bentuk protesnya, Marlon menolak menerima piala, lalu mengirim seorang aktivis masyarakat asli, Sacheen Littlefeather, untuk membacakan surat protesnya di ajang itu.

“Komunitas perfilman harus bertanggung jawab atas penurunan martabat warga Indian dan membuat karakter mereka sebagai bahan olok-olok, menggambarkan mereka sebagai orang biadab, kejam, dan jahat,” tulis Brando di suratnya.

Begitulah, ajang Penghargaan Oscar bukan sekedar unjuk kemewahan, tetapi juga panggung untuk protes sosial dan mengekspresikan sikap politik.

Raymond Samuel

Share your vote!


Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Fascinated
  • Happy
  • Sad
  • Angry
  • Bored
  • Afraid