Dangdut, Penyambung Lidah Rakyat Jelata Indonesia

Musik apa yang paling populer di kalangan rakyat Indonesia? Orang tidak perlu berfikir panjang untuk menjawab: dangdut. Dangdut dikenal oleh seluruh lapisan rakyat Indonesia, khususnya kalangan rakyat jelata, dari Sabang sampai Merauke.

Coba tengoklah ke kampung-kampung atau pelosok-pelosok. Di hampir semua hajatan, dari sunatan hingga resepsi pernikahan, dangdut disodorkan sebagai hiburan bagi rakyat. Begitu pula dengan perayaan-perayaan Hari Nasional, seperti peringatan proklamasi kemerdekaan 17 Agustus 1945, musik dangdut bersanding dengan panjat pinang.

Si raja dangdut, Rhoma Irama, mengatakan, musik dangdut sudah muncul di Indonesia sejak tahun 1950-an. Rhoma mengklaim musik dangdut berakar pada musik melayu—tepatnya di Deli Serdang, Sumatera Utara. Karena itu, boleh dikatakan, dangdut merupakan musik asli rakyat Indonesia.

Soneta band dianggap salah satu pelopor dangdut Indonesia modern. Pada eranya, band soneta dikenal di seantero Indonesia. Konser-konser Soneta selalu diserbu oleh rakyat Indonesia yang haus hiburan kala itu.

Pada saat kemunculannya, seperti dikisahkan Rhoma Irama, Soneta berusaha mengembangkan musik melayu. Maklum, saat itu terjadi “peperangan” antara musik melayu versus musik rock. Perseteruan itu berakhir setelah Yapto Soerjosumarno (?) mempertemukan Soneta dengan Godbless.

Rhoma pun berusaha merevolusionerkan musik melayu. Tentu saja, caranya adalah menyerap jenis musik modern. Dangdut pun mulai berkembang. Nama-nama besar pun bermunculan, seperti Rhoma Irama, Elvi Sukaesih, Elia Kadam, Muchsin Alatas, Camelia Malik dan lain-lain.

Pendapat bahwa musik dangdut adalah musik asli Indonesia diperkuat oleh seorang peneliti musik dari University of Pittsburg, Amerika Serikat, Prof Andrew Weintraub BA MA PhD. Prof Andrew Weintraub meneliti musik Indonesia sejak tahun 1980-an.

Penelitian Prof Andrew menyimpulkan, dangdut merupakan musik asli bangsa Indonesia, bukan impor dari India ataupun Malaysia. Meskipun demikian, Prof Andrew mengaku ada pengaruh India dalam musik dangdut.

Karena musik dangdut berasal dari rahim “kesenian” rakyat Indonesia, maka banyak orang yang mengidentikkan dangdut dengan “musik kampungan”. Sebab, saat itu yang disebut musik keren adalah yang berasal dari luar. Akan tetapi, meski sering diolok-olok sebagai musik kampungan, perkembangan musik dangdut justru tidak terbendung. Dangdut menjalar kemana-mana dan menasional.

Perkembangan dangdut melahirkan banyak varian, seperti Dangdut Minang, Danggut Banjar, Dangdut Koplo, Dangdut Remix, dangdut Pantura dan lain-lain. Grup musik dangdut berdiri di mana-mana. Pada jaman orde baru, di stasiun TVRI, ada tayangan khusus untuk musik dangdut. Di akhir-akhir ini, TPI dan Indosiar juga gencar menyiarkan dangdut. Bahkan, MTV pun bertekut lutut dan membuat program khusus musik dangdut: salam dangdut!

Kenapa musik dangdut sangat merakyat? Tejo Priyono, seorang aktivis di Jaringan Kerja Kebudayaan Rakyat, menyebut dangdut sebagai “penyambung lidah rakyat jelata Indonesia.”

Syair musik dangdut mewakili penderitaan rakyat: ditinggal kekasih karena miskin, cinta ditolak karena miskin, cinta terpisah jauh karena tuntutan ekonomi (bekerja di kota atau merantau), batal menikah karena di-PHK, pacar dirampas oleh pengusaha sukses dari kota, hidup susah di kontrakan, dan lain-lain.

Belum lagi, musik dangdut disertai joget dan goyangan, yang berfungsi sebagai obat penghilang penat dan stress. Dalam banyak kasus, joget dangdut banyak mengelaborasi budaya nusantara, seperti jaipongan dan ronggeng. Belakangan, artis dangdut seperti Inul Daratista dan Uut Permatasari merevolusionerkan goyangan dangdut: goyang “ngebor” dan goyang “ngecor”.

Umumnya, artis-artis dangdut juga berangkat dari latar-belakang keluarga klas proletar atau marhaen. Biasanya, mereka meniti karir dari bawah. Kecuali sekarang ketika popularitas bisa disulap dalam sehari.

Saking merakyatnya, musik dangdut—khususnya koplo– pun terkesan copyleft. Ia bisa dinyanyikan siapa saja, kapan saja, dan dimana saja. Di sini, syair lagu lain—seperti pop dan rock—bisa diubah dalam versi dangdut.

Jalur distribusi musik dangdut juga merakyat: lapak-lapak tradisional, stasiun, terminal, dan lain-lain. Produsennya juga bukan label-label besar. Jalur distribusi yang merakyat ini menyebabkan musik dangdut juga sangat ‘merakyat’. Inilah perlawanan terhadap kecenderungan komoditifikasi musik dan hiburan.

Budayawan dari Universitas Negeri Surabaya (Unesa), Prof (emeritus) Dr Henricus Supriyanto, berusaha menghubungkan fenomena dangdut koplo dan tari jaranan, seperti dalam lagu Iwak Peyek (dipopulerkan lagi oleh Trio Macan) atau Alamat Palsu (dinyanyikan Ayu Ting Ting).

Menurut Prof Henricus, tarian jaranan populer di Jawa Timur sebagai kesenian rakyat, yakni kombinasi dari musik yang dinamis dengan pukulan kendang menghentak-hentak. Ini adalah ciri bentuk pertunjukan rakyat yang langsung berhadapan dengan massa penonton, dan karenanya, harus terus menerus mempertahankan daya tarik dengan musik yang menghentak membangkitkan semangat.

“Jaranan” sendiri, kata Prof Henricus, adalah sejenis tarian tradisional yang lebih ringkas padat, memenuhi selera masyarakat yang memerlukan semua bentuk budaya instan. Jaranan adalah kombinasi tari dan teater, yang menceritakan tari perburuan celeng (diperankan oleh penari yang menunggang properti tari celeng dari bahan bambu) oleh pemburu naik kuda (jaran = kuda).

Selain itu, Prof Henricus menjelaskan, rakyat selalu butuh untuk ‘escaping from routine life’ (lari dari kehidupan yang rutin dan membosankan). Dan, tentu saja, dangdut koplo menjadi salah satu medium untuk menampung pelarian itu.

Dangdut memang sudah sangat merakyat. Saking merakyatnya, ada niat untuk mendaftarkan dangdut sebagai musik asli bangsa Indonesia di UNESCO. Sebuah ide yang bagus tentunya. Akan tetapi, diakui atau tidak, dangdut akan tetap hidup di tengah-tengah rakyat Indonesia.

ANNA YULIA, kontributor Berdikari Online

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut