Cara Kreatif Menolak Kenaikan Tarif Subway Di Meksiko

Ada beragam cara untuk mengekspresikan protes. Salah satunya yang dilakukan aktivis dan para penggguna kereta bawah tanah (subway) di Mexico City, Ibukota Meksiko.

Tanggal 13 Desember lalu, tarif subway di Mexico City naik drastis, yakni dari 3 peso (sekitar Rp 2700)  menjadi 5 peso (Rp 4500). Kenaikannya mencapai 66,66%. Alhasil, kenaikan signifikan itu menyebabkan tarif subway Mexico termasuk termahal diantara negara-negara OECD.

Sekedar sebagai perbandingan, upah minumum di Meksiko adalah 64 peso atau sekitar Rp 57.000 per hari. Artinya, dengan pengeluaran satu kali perjalanan pulang pergi sebesar 10 peso, berarti seperenam dari upah tersebut habis untuk ongkos subway. Belum menghitung ongkos tambahan bila harus “nyambung” menggunakan bus dan sejenisnya.

Hal tersebut sangat menyeramkan bagi pengguna harian subway, seperti pekerja, pelajar, mahasiswa, dan lain-lain. Singkat cerita, warga Meksiko pun melawan. Ratusan mahasiswa dan pemuda, yang sebagian besar terkoordinasikan via jejaring sosial, mengorganisir gerakan #PosMeSalto pada hari pertama kenaikan.

Gerakan #PosMeSalto (kurang lebih berarti: “baik, saya akan melompat”) menggelar aksi di berbagai stasiun utama di seluruh Mexico City. Dalam aksinya, para aktivis menyarankan kepada para penumpang untuk melompati gerbang tiket eletronik, berjalan seperti bebek di bawahnya, atau lewat samping. Pihak kepolisian stasiun tidak bisa berbuat apa-apa.

Dalam aksinya para aktivis meneriakkan yel-yel “Metro Popular”. Di sejumlah video yang tersebar di Youtube dan Vimeo, dukungan warga atau pengguna subway terhadap gerakan ini cukup positif. Banyak penumpang yang mengikuti seruan para aktivis. Tak sedikit juga yang meneriakkan “Metro Popular”.

Salah satu yel-yel yang juga banyak diteriakkan dalam aksi #PosMeSalto adalah “mereka tidak mensurvei kami, kami hanya jalan bebek di sini.” Yel-yel ini merupakan sindiran terhadap survei Mitofsky, yang menjadi acuan pemangku kebijakan untuk menaikkan tarif. Survei hanya dilakukan terhadap 2400 responden atau 0,5% dari komuter di Mexico City.

Pertanyaan yang diajukan oleh survei:, apakah komuter mendukung kenaikan tarif dua peso jika pemerintah akan membarenginya dengan perbaikan layanan, saluran udara, dan keamanan gerbong. Pertanyaan itu seolah-olah menangkap rasa frustasi para komuter: harus menunggu tiga kereta lewat baru bisa terangkut dan itupun seperti ditumpuk. Alhasil, 52% dari responden menyatakan setuju dengan kenaikan tarif. Pemerintah kemudian menggunakan hasil survei ini sebagai bahan propaganda untuk membenarkan kebijakan kenaikan tarif. Bahkan, untuk membenarkan dalihnya, pihak berwenang sengaja memperlambat layanan.

Tetapi, ya, janji hanya sekedar janji. Seorang siswa anonim berbicara melalui Video yang diunggah oleh Subversiones AAC, sebuah jaring media yang digerakkan oleh kaum anarkis, berbicara mengenai janji-janji palsu Metro Mexico City tersebut. “Kami tidak melihat sedikitpun perbaikan ketika mereka menaikkan tarif sebelumnya, terus terjadi yang sama, jadi konyol ketika mereka menaikkan itu,” kata pemuda itu. Seperti juga anak muda itu, banyak komuter marah dengan survei Mitofsky, yang hanya mengambil persentasi terkecil dari rakyat untuk disurvei, memperlihatkan penolakan mereka terhadap kenaikan tarif itu.

Sebaliknya, sejumlah peneliti independen dari berbagai disiplin ilmu dari  Autonomous University of Mexico (UNAM) melakukan studi online dengan melibatkan 35.000. Sekitar 30.000 dianggap valid. Dari 30.000 orang ini, yang berasal dari semua lingkungan kota dan wilayah metropolitan, sebanyak 93% menyatakan menolak kenaikan tarif.

Sebuah slogan atau penanda populer yang sering terbaca dari massa aksi: “Ini bukan hanya soal 2 peso, ini soal negara.” Lonjakan tarif ini diterapkan di bulan Desember sebagai bagian dari paket reformasi UU energi yang membolehkan privatisasi terhadap perusahaan minyak Meksiko, Pemex. Juga bersamaan dengan keluarnya UU (setingkat Perda di Indonesia) oleh pemerintah kota Mexico City yang membatasi kebebasan berekspresi.

Terkait metode aksi yang digalang oleh #PosMeSalto, muncul pro dan kontra. Sementara mayoritas memuji aksi para aktivis, sebagian menganggap aksi tersebut kontra-produktif karena dapat menganggung perjalanan 5 juta orang setiap hari di kota Mexico City. Ada yang menyebut itu akrobat populisme. Ada juga yang menyebutkan kemarahan yang disalurkan secara salah.

“Sungguh dalam pendapatku, saya pikir ini bukanlah jalan yang baik untuk mengekspresikan diri, selain menganggu pemerintah, juga menggangu kami karena layanan kereta berhenti,” tulis seorang bernama Felipe Flores di akun Twitternya.

Namun, bagi Johann Rodriguez, seorang organiser dari gerakan  #PosMeSalto, mengatakan, aksi langsung seperti meloncati gerbang elektronik hanyalah metode supaya tuntutan mereka didengar. Sebab, jalan lain cenderung diabaikan oleh pemerintah.

Untuk diketahui, selain menggelar aksi di halte-halte subway, gerakan #PosMeSalto juga turun ke jalan. Selama dua protes besar berturut-turut, ratusan massa aksi dikepung oleh polisi dan dilarang bergerak meninggalkan titik aksi mereka,  Angel of Independence on Reforma, salah satu jalan utama di Mexico City. Namun, setelah beberapa jam di tahan, massa aksi dibolehkan melanjutkan aksinya. Tetapi dengan pengawalan dan pembatasan ketat dari Polisi.

Jauh sebelum pengesahan UU, represi terhadap gerakan sosial di Mexico City di bawah Walikota yang baru terpilih, Miguel Mancera, seorang bekas ekonom, sudah meningkat. Selama setahun protes, ratusan orang ditahan secara sewenang-wenang dan dipukuli. Termasuk penonton dan pedagang kaki lima yang tidak terlibat dalam aksi. Ribuan orang berpartisipasi dalam gerakan #PosMeSalto ini, mengingatkan meluasnya kemarahan rakyat atas kenaikan tarif, tetapi mungkin hanya sedikit yang mau turun ke jalan karena takut direpresi.

Diana Cortaza, yang terlibat dalam aksi ini bersama ibunya, mengaku tidak sanggup lagi membeli tiket subway dan menganggap kenaikan tarif itu makin menambah kesulitan hidupnya. Beberapa tahun lalu, dia keluar dari Universitas yang menggratiskan biaya kuliahnya karena dirinya tidak mampu membayar ongkos pulang-pergi kampus.

Pemerintah kota Mexico City menawarkan 30.000 karcis dengan tarif diskon. Namun, statistik menunjukkan bahwa ada 2 juta penduduk kota yang hidup di bawah kemiskinan. Artinya, 30.000 karcis diskon itu tidak bisa mengcakup mereka semua. Juga patut dicatat, bahwa Metro Mexico City tidak mengenal diskon mingguan atau bulanan ataupun kartu yang memungkinkan pindah gratis ke bus.

Penguman kenaikan tarif subway juga bersamaan dengan pengumuman kenaikan upah minumum, yang naiknya hanya naik 2,5 peso, yang berarti tidak cukup untuk membiayai satu tiket perjalanan. Kenaikan 2,5 peso itu setara dengan kenaikan 3%–disesuaikan dengan inflasi. Sementara biaya kebutuhan pokok terus melonjak naik. Termasuk roti tortilla, yang menjadi bahan makanan diet utama di Meksiko.

Cortaza yakin, warga akan terus melakukan protes dan akan berhasil membatalkan kenaikan itu. “Pemerintah mensahkan reformasinya karena kami tidak melakukan protes, yang membawa kita dalam penderitaan,” katanya ketika mengajak lebih banyak orang untuk protes. Beberapa aktivis dari Passe Libre movement (Brazil) datang bergabung dan berbagi pengalama mereka menggagalkan kenaikan tarif angkutan umum di Brazil tahun 2013. Gerakan mereka melibatkan mahasiswa dan pekerja untuk memprotes kenaikan, sembari mendeklarasikan “angkutan gratis atau terjangkau adalah hak sosial dasar.”

Sementara belum jelas apakah gerakan #PosMeSalto akan terus mengumpulkan lebih banyak kekuatan dan mengerem kenaikan tarif subway ini. Yang jelas, penderitaan rakyat Meksiko secara ekonomi di bawah sistem ekonomi neoliberal akan terus berlanjut.

Artikel ini diolah dari dari Artikel yang ditulis oleh Andalusia Knoll, seorang jurnalis multimedia di Mexico City, berjudul It’s not just 2 pesos; It’s the country:” Mexico City’s #PosMeSalto Movement Protests Rising Transit Costs”.

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut