Bung Karno Tidak Setuju Partai politik Pakai Azas Pancasila

Soekarno-top

Orde baru (Orba), yang mendaku diri sebagai ‘penyelamat’ dan ‘pembela’ Pancasila, memberlakukan Pancasila sebagai ‘azas tunggal’ bagi semua organisasi dan partai politik.

Itu terjadi tahun 1985. Melalui UU Nomor 3 Tahun 1985 tentang Partai Politik dan UU Nomor 8 tahun 1985 tentang Organisasi Kemasyarakatan, rezim Orba memaksa semua partai politik dan organisasi kemasyarakatan untuk mengadopsi Pancasila sebagai azas masing-masing.

Proses itu disertai dengan pemaksaan dan kekerasan. Organisasi atau kelompok yang menolak langsung digebuk. Salah satunya adalah peristiwa Tanjung Priok, yaitu pembantaian jemaah masjid di Tanjung Priok, Jakarta Utara, karena aktivitas ceramah yang mengeritik pemberlakuan Pancasila sebagai azas tunggal.

Tetapi, rupanya, Bung Karno tidak setuju jika ada partai politik yang menggunakan Pancasila sebagai azas partainya. Ketidaksetujuan Bung Karno itu disampaikan kepada Gerakan Pembela Pancasila, di Istana Negara, pada 17 Juni 1954. “Jangan Pancasila diaku oleh sesuatu partai! Jangan ada se­suatu partai berkata: Pancasila adalah azasku,” ujar Bung Karno.

Menurut dia, setiap partai politik tetap saja mengadopsi azas sesuai garis ideologinya. Sebagai misal, Partai Nasional Indonesia (PNI), partai bentukan Sukarno, tetap menggunakan azas Marhaenisme. Meskipun PNI akan berjuang mati-matian untuk mempertahankan Pancasila sebagai dasar negara.

Begitu juga dengan partai lain: PKI dengan azas marxisme-leninismenya, Masyumi dengan Islamnya, PSI dengan sosialisme-nya, NU dengan Islamnya, dan lain-lain. Artinya, negara ini dibangun di atas dasar Pancasila, tetapi manusianya bisa memeluk ideologi yang beragam.

Bung Karno mengandaikan negara sebagai wadah, sedangkan rakyat adalah isinya. Wadah bernama Indonesia ini harus tetap berazaskan Pancasila, sedangkan isinya bisa beraneka-warna. Ia pun membuat tamsil berikut:

Ini wadah diisi air, engkau mau apa, airnya diisi dengan warna apa, warna hijau, ya isilah dengan hijau air ini. Engkau senang warna merah, isilah dengan warna merah. Engkau senang dengan warna kuning, isilah air ini dengan warna kuning. Engkau senang kepada warna hitam, isilah air ini dengan warna hitam. Airnya yang harus diisi, bukan wadahnya. Wadahnya biar tetap dengan berdasarkan Pancasila, tetap terbuat daripada elemen-elemen Pancasila ini.”

Jadi, bagi Bung Karno, negara Indonesia harus tetap berdasarkan Pancasila. Jika tidak, negara ini bisa retak. Dan itu memang terbukti: selama 70 tahun bangsa ini tetap utuh. Meskipun banyak konflik, bahkan ketidakpuasan, tetapi komitmen hidup bersama dalam wadah bernama negara Indonesia tetap kuat.

Saya kira, salah satu kunci mengapa Pancasila sebagai ideologi pemersatu adalah pengakuannya terhadap pluralisme masyarakat Indonesia, termasuk pluralisme ideologinya. Ideologi yang tumbuh di taman sari Indonesia boleh beragam, sehingga tampak berwarna-warni, tetapi pijakannya tetaplah Pancasila.

Dengan begitulah Pancasila menjadi kekuatan. Ia memayungi sekaligus merekatkan sebuah bangsa dengan beragam suku, agama, ras, dan tradisi. Juga beragam keyakinan politik dan ideologi. Semuanya tumbuh bermekaran bersama.

Sayang, naiknya kekuasaan Orba menumpas itu semua. Pancasila dikerangkeng sebagai ideologi tanpa jiwa. Selalu dipidatokan, dielu-elukan, dipaksakan sebagai azas tunggal, tetapi nilai-nilai dasarnya dibongsai menjadi sekedar rangkaian huruf-huruf.

Di bawah Orba juga, atas nama Pancasila, cara berpikir kritis ditumpas. Ideologi yang beragam, yang menawarkan beragam pandangan dunia, juga dibasmi. Alhasil, rezim Orba mewariskan manusia Indonesia yang miskin imajinasi politik.

Pemberlakuan azas tunggal pada semua ormas dan parpol juga membawa konsekuensi buruk: mendegradasi Pancasila. Bayangkan, berapa banyak koruptor yang tumbuh-berkembang dari parpol-parpol yang mengusung Pancasila itu. Belum lagi keberadaan ormas-ormas yang menenteng nama Pancasila tapi pekerjaannya memukuli rakyat kecil dan pejuang demokrasi.

Mahesa Danu

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut
  • Martin D. Sumiadi

    Aazas tunggal adalah pemasungan terhadap asasi dan demokrasi.Pancasila sebagai Wadah..lebih tepat….Pancasila menjadi Rambu bagi perkembangan polotik di Indonesia