Bisakah Medsos Membebaskan Perempuan dari Domestikasi?

Kemajuan teknologi, sedikit atau banyaknya, turut memajukan cara manusia bermasyarakat. Sejarah dunia menunjukkan, pendobrakan cara bermasyarakat dan berpikir yang kolot seringkali dimulai oleh penemuan teknologi.

Begitu juga perkembangan internet, yang hari ini menghamparkan dunia baru bernama media sosial. Pada 2017, pengguna internet di Indonesia sudah mencapai 143 juta orang atau 54,69 persen dari total populasi Indonesia. Dari jumlah tersebut, hampir separuh atau 48,57 persen diantaranya adalah perempuan.

Sementara dari laman wearesocial.com disebutkan, ada 130 juta pengguna medsos di Indonesia. Menariknya lagi, sekitar 90 persen dari jumlah itu mengakses medsos menggunakan telpon seluler.

Yang menarik, penggunaan medsos telah menghilangkan efek jarak dan batasan ruang. Komunikasi lewat medsos bukan hanya menerobos batas bangsa, tetapi menerjang hingga situs organisasi sosial tertua di dunia: keluarga.

Domestikasi Perempuan

Di sisi lain, hingga sekarang ini masyarakat Indonesia masih dicekik oleh patriarki, sebuah konstruksi sosial yang menempatkan laki-laki lebih unggul atau superior terhadap perempuan, yang mewujud pada kuasa laki-laki terhadap tubuh dan peran-peran perempuan.

Dalam sejarah, seperti ditulis Frederick Engels dalam The Origin of the Family, Private Property and the State, kemunculan patriarki hampir berbarengan dengan pemilikan pribadi dan keluarga. Jadi, seiring dengan bangkitnya pertanian, ada kebutuhan untuk pewarisan kekayaan dan reproduksi tenaga kerja. Dua kebutuhan itu dijawab dengan lahirnya sebuah institusi sosial bernama keluarga patriarkal.

Dalam keluarga patriarkal, suami/laki-laki punya kekuasaan tertinggi, termasuk terhadap istri dan anak-anaknya. Kata “family” (familia) berasal dari bahasa Romawi, Famulus, yang berarti budak domestik (rumah tangga). Dalam hal ini, seperti halnya pemilikan budak dalam masyarakat perbudakan, istri/perempuan menjadi hak milik laki-laki.

Pemilikan perempuan oleh laki-laki punya dua tujuan: pertama, melahirkan anak yang akan menjadi pewaris dari kekayaan suaminya/laki-laki; kedua, melakukan kerja reproduksi tenaga kerja, seperti melahirkan, mengasuh anak, memasak, mengurus/merawat anggota keluarga, dan lain-lain.

Dari situlah muncul anggapan sosial, bahwa melahirkan anak, mengasuh, memaksa, mengurus/merawat anggota keluarga, hingga mengurus rumah tangga adalah kewajiban suci kaum perempuan. Inilah yang saya maksud sebagai domestikasi perempuan.

Karena tugas-tugas domestik itu dianggap kewajiban, yang kadang dilegitimasi dengan anggapan budaya maupun agama, maka kerja domestik perempuan adalah kerja gratis alias kerja tidak dibayar (unpaid work).

Dari perempuan sebagai petugas rumah tangga dikonstruksi peran hingga moralitas perempuan. Peran perempuan diletakkan di ruang privat/rumah tangga, sedangkan peran laki-laki di wilayah publik. Begitu juga soal moralitas, predikat perempuan baik-baik selalu melekat pada perempuan yang memilih tinggal di dalam rumah-tangga, mengurus suami dan anak-anaknya.

Tetapi perlu diketahui, sebagaimana dibuktikan oleh banyak kajian sejarah, peran perempuan sebagai petugas rumah tangga adalah hasil konstruksi sosial, bukan sesuatu yang terbentuk secara alami atau kodrat ilahi.

Terobosan Medsos

Kehadiran medsos, yang telah menembus hingga ke rumah tangga, sedikit banyaknya berhasil memberi ruang bernapas bagi perempuan dari patriarki.

Pertama, medsos menjadi ruang bagi perempuan, terutama ibu rumah tangga, mengungkapkan berbagai persoalan yang bertumpuk-tumpuk dalam pikirannya. Mulai dari persoalan dapur, pengasuhan anak, hingga relasi dengan suami.

Ada banyak kasus KDRT yang terungkap lewat medsos. Bahkan, tidak sedikit perempuan yang menggunakan medsos untuk menyuarakan ketimpangan relasi suami-istri di dalam rumah tangga mereka.

Kedua, medsos menjadi ruang bagi perempuan untuk hadir dan berekspresi di ruang publik. Melalui medsos, perempuan bisa mengunggah foto selfie atau aktivitas kesehariannya.

Selain itu, sebagai ruang bebas pertukaran informasi dan wacana politik, ber-medsos memungkinkan perempuan terlibat dalam diskusi isu-isu publik. Mulai dari harga kebutuhan pokok hingga berbicara soal kebijakan politik pemerintah.

Ketiga, medsos memungkinkan perempuan menyerap informasi dan pengetahuan lebih banyak. Mulai dari pengetahuan soal perawatan anak, kesehatan, pendidikan, bahkan keahlian berbahasa dan keterampilan tangan.

Keempat, medsos memungkinkan perempuan untuk berdaya secara ekonomi. Sejauh ini, belanja online yang lagi menjamur didominasi oleh perempaun. Data Tokopedia menyebutkan, sebanyak 55,75 persen penjual di lapak mereka adalah perempuan.

Kalau kita lihat di medsos, seperti facebook maupun instagram, sebagian besar pelaku bisnis online adalah perempuan. Biasanya, bisnis online itu dilakoni di sela pekerjaan domestik mereka.

Sejumlah tantangan

Meskipun medsos menciptakan ruang bebas bagi perempuan untuk berkiprah di ruang publik, tetapi masih ada beberapa tantangan.

Pertama, keberhasilan perempuan menggunakan medsos untuk mendobrak tembok tinggi domestifikasi belum tentu selaras dengan kehidupan di dunia nyata.

Tetapi, bagaimanapun, jika merempuan sudah berani bersuara lewat media sosial, setidaknya itu sudah merupakan modal besar untuk berani bersuara di dunia nyata.

Kedua, sebagai ruang bebas, medsos juga terbuka bagi berbagai propaganda yang justru mengukuhkan patriarki dan domestifikasi terhadap perempuan. Sulitnya lagi, seringkali propaganda itu dibalut dengan dalil-dalil agama.

Ketiga, medsos juga dapat ditunggangi oleh kepentingan yang ingin mengeksploitasi tubuh perempuan, seperti pornografi, prostitusi online, hingga perdagangan perempuan.

Juga ada banyak kasus perempuan yang menjadi korban penipuan dan eksploitasi seksual lewat media sosial.

Rini Hartono, Sekretaris Jenderal Aksi Perempuan Indonesia (API) Kartini

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut