Bernie Sanders: Perjuangan akan terus Berlanjut

Pertarungan memperebutkan tiket Calon Presiden dari Partai Demokrat sudah berakhir. Hillary Clinton, kandidat yang disokong oleh elit bisnis Amerika Serikat, sudah didaulat sebagai pemenang, Rabu (8/6/2016).

Berdasarkan hitungan Associated Press, Hillary telah mengumpulkan 1.812 delegasi. Dia pun memiliki dukungan dari 571 super delegasi. Konon, jumlah itu sudah cukup untuk mengantarkan dia sebagai Capres dari kubu Demokrat.

Kabarnya lagi, capaian Hillary itu tidak mungkin terkejar lagi oleh pesaing terberatnya, Bernie Sanders. Namun, senator progressif dari Vermont itu tidak mau menyerah. Dia akan terus melanjutkan pertarungan hingga konvensi usai.

Melalui halaman resmi facebooknya, Bernie menyatakan bahwa perjuangan masih akan berlanjut. “Perjuangan kami adalah untuk mengubah negeri ini. Dan kami sadar, ini harus dilakukan bersama-sama. Dan karena itu, perjuangan akan terus berlanjut,” tulisnya.

Bernie mengaku, kendati selama ini dianggap pemain pinggiran, tetapi kampanyenya berhasil meraih kemenangan di pemilihan pendahuluan dan kaukus di 22 negara bagian. Bernie berhasil meraup 11 juta suara pemilih Demokrat.

Yang lebih mencengankan, kata Bernie, di hampir semua negara bagian, dirinya berhasil memenangkan dukungan kaum muda. “Kaum muda sadar bahwa mereka adalah masa depan. Dan mereka berniat membantu membentuk masa depan itu,” ujar Bernie.

Bernie yakin, kaum muda Amerika sangat mendukung visinya tentang keadilan sosial, keadilan ekonomi, keadilan rasial, dan keadilan lingkungan.

Dia juga mengingatkan bahwa tujuan utama perjuangannya adalah mengubah struktur sosial Amerika yang sangat timpang dan tidak adil.

“Ketika jutaan rakyat Amerika bekerja dengan waktu lebih panjang dan upah lebih kecil, kami tidak akan membiarkan 57 persen penghasilan baru jatuh ke tangan golongan 1 persen,” tegasnya.

Politisi yang mendaku “demokrat sosialis” ini menegaskan bahwa perubahan tidak pernah datang dari atas ke bawah, melainkan dari bawah ke atas.

Kemunculan Bernie Sanders sebagai Capres dari partai Demokrat memang membawa antusiasme politik yang luar biasa di tengah-tengah rakyat Amerika, terutama kalangan menengah ke bawah dan kaum muda.

Baca juga di sini: Mengenal Capres Progressif Amerika Serikat: Bernie Sanders

Awalnya, dia tidak diunggulkan, malah dianggap pemain pinggiran. Namun, lama kelamaan kampanyenya terus membludak oleh jumlah massa yang membesar.

Memang, kampanye Bernie terbilang menarik. Dia menyebutnya “revolusi politik”, yang menampilkan gaya kampanye yang berbeda dengan politisi mapan dan status-quo.

“Kita akan membawa kampanye ini langsung kepada rakyat—di rapat-rapat umum, dialog dari pintu ke pintu, di setiap sudut jalan, dan di media sosial,” katanya saat mendeklarasikan diri sebagai Calon Presiden pada tahun lalu.

Menariknya lagi, kalau bisanya capres-capres Amerika dibiayai oleh korporasi, terutama oleh Wall Street, maka Bernie justru menggalang dana kampanyenya dari pendukungnya.

“Kami tidak mewakili kepentingan klas miliarder, Wall Street, atau korporasi Amerika. Kami tidak mau uang mereka,” tegasnya.

Sekarang Hillary tampil sebagai pemenang. Banyak yang bersuka cita atas kemenangannya. Pasalnya, mantan Menteri Luar Negeri AS itu dianggap mencetak sejarah baru: perempuan pertama yang maju sebagai Calon Presiden dalam sejarah AS. Maklum, dari 44 Presiden AS sejak merdeka, semuanya laki-laki. Amerika butuh 227 tahun untuk punya Capres perempuan.

Namun, kemenangan Hillary adalah kemenangan oligarki yang berkuasa di sepanjang sejarah negeri Paman Sam itu. Dia mewakili kelompok 1 persen warga kapitalis AS. Dia juga mewakili politik luar negeri Amerika yang imperialistik.

Raymond Samuel

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut