Benarkah NII Bangkit Lagi?

Suatu pagi di tahun 1964. Mayjend S Parman, Asisten I/Menteri Panglima AD saat itu, menghadap Presiden Soekarno di Istana Negara. Rupanya, ia membawa surat keputusan eksekusi mati Kartosuwiryo untuk ditandatangani Bung Karno.

Menurut Solichim Salam dalam buku “Soekarno-Hatta”, saat itu Bung Karno meminta Mayjend S Parman kembali sehabis maghrib. Setelah selesai sholat dan berdoa, barulah Bung Karno menandatangani SK tersebut.

Bung Karno mengaku menanda-tangani SK itu dengan berat hati. Kartosuwiryo adalah bekas sahabatnya semasa tinggal di rumah HOS Tjokroaminoto. Konon, Bung Karno sempat memandangi foto Kartosuwiryo, dan air matanya berlinang saat itu.

Kartosuwiryo kemudian dieksekusi di pulau onrust, salah satu pulau tahanan di kawasan pulau Seribu, Jakarta utara.

***

Suatu sore 3 Juni 1962, Batalion 328 Kujang berhasil menemukan tempat persembunyian SM Kartuswiryo di sebuah gubug tersembunyi di hutan gunung Rakutak. Hari itu juga, Kartusuwiryo yang sedang terbaring sakit, menanda-tangani surat perintah menyerah kepada seluruh anak-buahnya yang tersebar di Jawa Barat.

Konon, menurut penuturan Dewi Siti Kalsum, istri Kartosuwiryo,  sebelum dieksekusi Kartosuwiryo sempat menyampaikan wasiat. “Tidak akan ada lagi perjuangan seperti ini sampai seribu tahun,” begitulah wasiat Kartosuwiryo, yang disampaikan melalui istrinya kepada seluruh anak buahnya.

Sebagian besar mengikuti wasiat itu, tapi ada juga yang menolak. Pada tahun 1963, Achmad Sobari, mantan Bupati Priangan Timur (bupati wilayah Darul Islam), lalu mendirikan Negara Islam Tejamaya, yang disebut gerakan Islam murni.

Lalu, pada tahun 1968, Aceng Kurnia, salah satu pengikut Kartosuwiryo lainnya, membentuk Penggerakan Rumah Tangga Islam/Persiapan Tentara Islam Indonesia. Ia mendatangi sejumlah komandan wilayah: Adah Djaelani, Ateng Jaelani, Danu Muhammad Hasan, dan Haji Ismail Pranoto (Hispran).
Pada tahun 1971, bertempat di rumah Danu Muhammad Hasan di Jalan Situ Aksan 120, Bandung, 300-an orang bekas DI berkumpul selama tiga hari tiga malam untuk mendiskusikan masa depan perjuangan. Belakangan, diketahui bahwa hasil pertemuan ini adalah Darul Islam memaklumatkan untuk mendukung partai Golkar.

Sejak kematian Kartosuwiryo, gerakan DI/TII terpecah menjadi dua: pertama, gerakan Di Fillah, yaitu gerakan yang meninggalkan perjuaangan bersenjata, dengan tokohnya Djaja Sudjadi, bekas menteri NII; kedua, DI Fisabilillah, yaitu kelompok yang memaklumkan perjuangan jangka panjang, dengan tokohnya Aceng Kurnia.

Pada 1974, kelompok kedua membentuk Komando Perang Wilayah Besar yang dibagi tiga: Sulawesi, Jawa, dan Sumatera. Daerah itu masing-masing dipimpin satu orang: Sulawesi dipegang oleh Ali A.T., Sumatera oleh Gaos, dan Jawa oleh Danu Hasan.

Pada tahun 1976, Gaoslah yang pertama sekali melakukan aksi. Dia kemudian meledakkan acara Musabaqah Tilawatil Quran di Medan, disusul pengeboman rumah sakit Kristen di Bukit Tinggi.

Sayang, aksi wilayah Sumatera itu tidak diikuti oleh Jawa Barat, yang merupakan basis pendukung utama DI/TII. Ada dugaan bahwa Jawa Barat sudah digembosi sebelum melakukan aksi. Letnan Kolonel Pitut Soeharto, Direktur III Badan Koordinasi Intelijen Negara (Bakin) saat itu, mengaku berhasil membina tiga orang DI: Danu, Ateng, dan Dodo Muhammad Darda.

Setahun kemudian, 800 pengikut DI ditangkap karena dituding terlibat gerakan Komando Jihad. Tokohnya Danu Muhammad Hasan, Dodo Muhammad Darda, Gaos Taufik, dan Haji Ismail Pranoto. Tetapi sumber lain menyebut bahwa penangkapan ini terkait pemilu dan ada usaha tentara untuk menggembosi suara Partai Persatuan Pembangunan (PPP).

***

Pada kurun tahun 1980-an sampai 1990an, berdiri Negara Islam Indonesia (NII) KW 9. Abu Toto alias Panji Gumilang bergabung dengan KW-9. Abu Toto mengaku mendapat mandat dari Adah Djaelani.

Menurut Sofwan, bekas juru warta di media milik Ma’had Al-Zaytun,  NII KW-9 Abu Toto bertentangan dengan ajaran Islam. Mereka disebut-sebut menggelar pengajian tertutup dan tidak mewajibkan anggotanya melakukan sholat lima waktu dan menutup aurat. Mereka juga disebut-sebut mewajibkan jemaahnya menyetor uang kepada kelompok sebagai biaya hijrah dari situasi kafir menjadi Islam.

Investigasi majalah Tempo pada 2002 menemukan bahwa ada setoran Rp 7 miliar per bulan hanya dari satu wilayah. Di seluruh Indonesia ada 28 wilayah kerja NII. Jurnal Van Zorge menyebutkan pendapatan tahunan Al-Zaytun adalah Rp 162 miliar. Perhitungan tim investigasi Tempo menunjukkan angka yang jauh lebih tinggi: sekitar Rp 770 miliar.

Pengamat terorisme, Al Chaidar, menganggap NII KW 9 adalah bentukan pemerintah dan tidak ada hubungannya dengan NII yang dulu dipimpin oleh Kartosuwiryo. “NII KW 9 adalah bentukan pemerintah yang digunakan untuk mengurangi radikalisme dan aksi terorisme di negara ini,” kata pengamat terorisme yang sering muncul di TV ini.

***

Dengan pemberitaan besar-besaran soal NII akhir-akhir ini, ada sebagian orang yang melihat bahwa hal itu adalah sepenuhnya pekerjaan intelijen.

Sejumlah kelompok Islam, yang merasa sangat dirugikan oleh pengembangan isu ini, menuding penggunaan isu NII ini untuk tujuan pengesahan RUU Intelijen.

Ketua Umum PP Muhammadiyah, Din Syamsuddin, pemerintah bersikap mendua dalam menyipaki persoalan NII ini. “Di satu sisi pemerintah menganggapnya sebagai ancaman, namun di sisi lain pemerintah memperalatnya untuk kepentingan politik,” katanya.

Majelis Ulama Indonesia (MUI) melalui ketuanya, Amidhan, juga menuding adanya pihak yang menjadi backing keberadaan NII ini.

Namun, Menkopolka Djoko Suyanto buru-buru membantah tudingan keterlibatan tentara atau intelijen di balik isu NII ini. “Kayak kurang kerjaan TNI sama intelijen saja,” ujarnya.

Namun, diluar pernyataan saling berbantahan itu, isu NII memang sangat kontra-produktif. Selain terlalu dilebih-lebihkan oleh media masa, penjelasan faktualnya juga sangat tidak memadai.

Terlebih lagi, isu NII ini lagi-lagi mencuat ketika berbagai persoalan bangsa yang lebih serius, seperti kemiskinan dan pengangguran, gagal diatasi oleh pemerintah.

RISAL KURNIA

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut
  • yang paling ber-bahaya itu NMI negara miskin Indonesia mas………….lebih ber-bahaya ……….

  • Negara Republik Indonesia \Tak\ Usah terusss mempolitisasi NII yang sudah \Roboh\ dari dulu yang harus di waspadai Naiknya BBM , Pengangguran meraja Lela,Korupsi yang sudah ber\Jamaah\ Naik BBm…mas pasti karena Pemerintah RI tidak mampu untuk \Mengurus\ memberdayakan rakyatnya sendiri…….masss