Bank Selatan, Bank Tandingan IMF dari Amerika Latin

Banyak negara yang kecewa pada Dana Moneter Internasional alias IMF. Maklum, alih-alih membantu ekonomi negara dunia ketiga, IMF justru memberi “resep” yang membunuh ekonomi nasional mereka.

Indonesia pernah merasakannya. Negara-negara Amerika Latin juga. Dengan dalih hendak “menyelamatkan”, IMF memaksa negara-negara penerima pinjaman untuk menerapkan kebijakan penyesuaian struktural.

Pada intinya, kebijakan penyesuaian struktural ini adalah perombakan ekonomi negeri pinjaman agar selaras dengan kepentingan kapitalisme global. Ini meliputi: privatisasi, liberalisasi perdagangan dan investasi, penghapusan subsidi, politik upah murah, dan lain sebagainya.

Setelah mengadopsi penyesuaian struktural, ekonomi negara berkembang yang sakit bukannya sembuh, malah makin sekarat. Itulah yang dialami Argentina, Meksiko, Indonesia dan banyak negara berkembang lainnya.

Belajar dari pengalaman itu, Amerika latin tidak mau lagi didikte oleh IMF. Bermula dari Argentina, di bawah pemerintahan Nestor Kirchner, tahun 2005, Negeri Tango itu menendang keluar IMF. Disusul oleh Venezuela, Bolivia dan Ekuador.

Di tahun 2006, Presiden Venezuela Hugo Chavez mulai merancang gagasan soal perlunya bank alternatif terhadap IMF dan Bank Dunia. Ide Chavez ini disambut gembira oleh Presiden Argentina, Nestor Kirchner. Keduanya kemudian menggodok ide pembentukan Banco del Sur atau Bank Selatan. Ide ini makin bergerak maju setelah disambut oleh Brazil, Ekuador, Bolivia, Paraguay dan Uruguay.

Kehadiran Bank Selatan dipuji banyak pihak. Salah satunya adalah ekonom peraih nobel, Joseph Stiglitz. Menurut Stiglitz, Bank Selatan akan bermanfaat bagi negara-negara Amerika latin dan akan menggeser posisi lembaga pemberi pinjaman dari barat (IMF dan Bank Dunia).

“Salah satu keuntungan yang dipunyai Bank Selatan adalah bahwa mereka mencerminkan sudut pandang dari mereka yang di selatan,” kata Stiglitz.

Tanggal 3 November 2007, Bank yang berkantor di Caracas, Ibukota Venezuela, ini diluncurkan dan sekaligus mulai beroperasi. Negara anggotanya meliputi Venezuela, Argentina, Brazil, Ekuador, Paraguay, Uruguay dan Bolivia.

Lalu, pada Jumat (2/9/2016) lalu, Menteri Keuangan negara anggota Bank Selatan kembali berkumpul di Quito, Ekuador, untuk membicarakan langkah lebih maju dari bank alternatif ini.

Akhirnya, negara-negara berhaluan kiri seperti Bolivia, Ekuador dan Venezuela sepakat untuk menyetor dana awal untuk Bank ini sebesar 4,5 juta USD untuk operasi dan kebutuhan administrasi bank ini.

Bank Selatan saat ini mengantongi dana sebesar 7 milyar USD, yang merupakan setoran dari Venezuela, Argentina dan Brazil masing-masing 2 milyar USD. Sedangkan Uruguay dan Ekuador masing-masing 400 juta USD. Sedangkan Bolivia dan Paraguay masing-masing menyetor 100 juta USD.

Selanjutnya, negara-negara seperti Chile, Kolombia (sudah meminta bergabung ke Bank Selatan sejak 2007), Suriname, Guyana dan Peru, akan diajak bergabung di Bank Selatan. Ini untuk memperkuat peran Bank Selatan sebagai bank negara-negara selatan, terutama Amerika latin.

Selain Amerika latin, negara-negara anggota BRICS (Brasil, Rusia, India, China, dan Afrika Selatan) juga menggagas penciptaan Bank alternatif, yaitu New Development Bank (NDB), yang diharapkan bisa membantu pembiayaan pembangunan di negara berkembang.

Bank yang diluncurkan di kota Shanghai, Tiongkok, itu juga diharapkan bisa menjadi alternatif terhadap IMF dan Bank Dunia.

Raymond Samuel

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut