Bagaimana Sinema Indosiar Menjadi Aparatus Ideologis Patriarki?

Film bukan sekedar produk industri atau barang untuk tujuan komersil. Bukan sekedar hiburan pelepas lelah. Lebih dari itu, film bisa menjelma sebagai aparatus ideologis yang membawa teks dan pesan untuk dipatrikan dalam ruang kesadaran penontonnya.

Teks dan pesan itu bukan sekedar pesan sponsor. Bukan sekedar iklan komersil. Tetapi juga nilai-nilai dan cara pandang dalam melihat berbagai persoalan kehidupan.

Bagi saya, begitulah kita seharusnya melihat setiap film atau sinetron yang disuguhkan di hadapan kita. Begitu juga kita seharusnya melihat film televisi (FTV) yang sambung-menyambung dari pagi hingga malam hari di stasiun televisi kebanggaan emak-emak: Indosiar.

FTV atau sinema Indosiar itu, dari Azab, Kisah Nyata, dan Pintu Berkah, dengan judulnya yang membuat kita geleng-geleng kepala, bukan sekedar membuat penontonnya menitikkan air mata dan terbawa emosi, tetapi juga membuat penontonnya bisa terpapar nilai-nilai dan cara pandang  dalam melihat berbagai persoalan kehidupan.

Boleh jadi, di balik keberhasilan wacana konservatisme mendominasi kehidupan berbangsa kita, ada kontribusi tak terhitung dari sinema-sinema Indosiar. Termasuk dalam memenangkan ideologi patriarki ke masyarakat luas.

Beberapa bulan terakhir, saya menonton hingga tuntas beberapa sinema Indosiar itu. Tentu sebagai penonton yang sudah punya alat pertahanan pemikiran. Saya berusaha menangkap pesan-pesan apa saja yang hendak mereka jejalkan oleh sinema-sinema tersebut dalam ruang kesadaran penontonnya.

Berikut, beberapa kesimpulan saya:

Pertama, perempuan yang bekerja di kantor, apalagi yang mau mengejar karier, dengan mencampakkan suami dan anak-anaknya, pasti akan menemui jalan derita-nestapa.

Ada banyak FTV yang bertema seperti ini. Salah satunya adalah FTV berjudul Karir Cemerlang, Keutuhan Rumahtangga Hilang. Sinta, yang diperankan oleh Dewi Persik, sukses sebagai wanita karier. Penghasilannya melebihi suaminya, Erwin (Arie Dwi Andika). Lantaran itu, Sinta sering menganggap enteng suaminya. Walhasil, mereka bercerai.

Setelah itu, jalan cerita menuju antiklimaks. Di puncak kariernya, Sinta justru merasa hambar, tanpa suami dan anak-anaknya. Di sisi lain, mantan suaminya yang sudah menikah lagi pelan-pelan menanjak naik kehidupannya. Ujung ceritanya gampang ditebak: jalan hidup Sinta celaka, sedangkan suaminya terang-gemilang.

Kisah nyaris serupa juga hadir dalam FTV Indosiar yang berjudul: Demi Mengejar Karir Aku Mencampakkan Lelaki yang Kucintai. Demi mengejar karier, Sandra meninggalkan rencana pernikahan dengan kekasih tercintanya. Ujung ceritanya pun gampang ditebak: kekasihnya menikah dengan perempuan lain dan hidup berbahagia, sedangkan Sandra berujung nestafa.

Ironisnya, sinema-sinema ini diberi label #KisahNyata. Bagi penonton, yang sejak awal gagap membedakan dunia sinetron dan dunia nyata, apalagi menemukan label kisah nyata di sudut layar televisinya, pasti gampang termakan mentah-mentah oleh sudut pandang yang hendak dibangun oleh FTV ini.

Di FTV Indosiar yang dilabeli Kisah Nyata, selalu ada prolog: perempuan dengan wajah tertutup jubah, menyampaikan testimoni tentang kisah pahit hidupnya. Jadi, seolah-olah ini kisah nyata beneran.

Inti pesannya: jalan terbaik bagi seorang perempuan, terutama yang sudah menjadi istri, adalah tetap tinggal di rumah untuk melayani sepenuh hati suami dan anak-anaknya.

Kedua, perempuan terbaik, yang selalu menjadi tokoh utama (protagonis) di sinema Indosiar, adalah perempuan yang soleh, penyabar, penurut alias taat suami, dan menerima dengan tulus-ikhlas untuk tinggal di rumah sembari melayani suami dan mengurus anak-anaknya.

Atau bahasa lainnya: perempuan terbaik dalam sudut pandang yang dibangun oleh FTV Indosiar adalah perempuan yang tulus-ikhlas menerima domestikasi.

Tenang saja, seperti setiap happy-ending yang disuguhkan oleh FTV Indosiar, perempuan yang menerima domestikasi akan memiliki keluarga makmur nan bahagia.

Ketiga, peran antagonis seringkali dilekatkan pada perempuan. Mulai dari perempuan yang suka iri dengan keberhasilan tetangga atau orang lain. Mertua perempuan yang serakah dan hanya suka dengan menantu kaya. Perempuan yang suka merebut suami orang. Perempuan suka belanja alias konsumtif. Jarang sekali, peran antagonis semacam itu diperankan oleh laki-laki.

Padahal, dalam dunia nyata, perasaan tidak suka dengan kelebihan orang lain, mengingingkan lebih banyak harta atau orang, atau merebut pasangan orang lain, tidak memandang gender. Bisa laki-laki, perempuan, atau manusia apa pun.

Keempat, perselingkuhan atau bubarnya rumah tangga selalu ditimpakan sebagai kesalahan perempuan.

Istri ditinggal cerai oleh suaminya karena tidak bisa merawat diri, tidak bisa bersolek, kurang melayani suami, dan tidak bisa memberi keturunan.

Sementara perempuan yang terlibat dalam perselingkuhan diberi cap negatif sebagai perebut suami orang. Bahkan diberi persepsi sangat negatif, bahwa perempuan yang merebut suami orang itu selalu bermotif ingin naik status sosial atau merebut harta dari laki-laki tersebut.

Sementara laki-laki yang berselingkuh selalu digambarkan hanya sebagai korban pasif: khilaf, terperdaya, dan terpaksa oleh keadaan.

Kelima, jalan terbaik bagi perempuan atau istri ketika mendapat perlakuan kasar, bahkan KDRT, dari suaminya adalah bersabar. Sebab, dari semua jalan cerita FTV Indosiar, kesabaran perempuan akan berbalas kebahagian: suami akan insyaf dan seterusnya rumah-tangga jadi bahagia.

Padahal, negara ini sudah punya pandangan tegas terhadap persoalan kekeraan ini: kekerasan terhadap perempuan adalah kejahatan pidana yang harus dihukum berat. Dan untuk memerangi KDRT, Negara sudah punya UU nomor 23 tahun 2004 tentang penghapusan kekerasan dalam rumah tangga.

Ini ironis, kan? Di satu sisi Negara menganggap KDRT sebagai kejahatan yang harus dihukum, sementara di sisi lain FTV Indosiar menyuruh perempuan/istri untuk bersabar.

Singkatnya, FTV-FTV Indosiar berusaha merawat sekaligus memasarkan cara pandang masyarakat patriarkal dalam melihat dan memperlakukan perempuan.

Pertama, sinema-sinema Indosiar hendak menegaskan ulang pembagian kerja usang dalam masyarakat patriarkal. Bahwa laki-laki sebagai pencari nafkah dan terlibat urusan publik, sedangkan perempuan sebagai pengurus rumah tangga (domestik).

Kedua, menegaskan ulang superioritas laki-laki (suami) atas perempuan (istri). Bahwa perempuan terbaik dalam masyarakat patriarkal adalah perempuan yang tunduk di bawah kuasa laki-laki. Dan cara terbaik perempuan menghadapi perlakuan tidak baik adalah bersabar.

Ketiga, mempertahankan angagapan-anggapan sosial yang misoginis: perempuan suka merebut suami orang, perempuan kemaruk harta menghalalkan segala cara, perempuan bersolek cenderung berperilaku negatif, mertua perempuan yang kemaruk merusak rumah tangga anaknya, perempuan suka berbelanja tanpa batas alias konsumtif, dan seterusnya.

Begitulah, nilai-nilai dan cara pandang patriarkal dijejalkan di ruang kesadaran publik, terutama para penggila sinema-sinema di televisi, entah disadari atau tidak.

Dan tentu saja, nilai dan cara pandang begini bukan hanya berkembang biak di Indosiar, tetapi juga di sinetron dan FTV di stasiun televisi yang lain.

Seharusnya, jika peduli dengan nasib perempuan dan punya komitmen serius untuk menegakkan kesetaraan gender, Negara perlu turun tangan untuk “menertibkan” sinema-sinema televisi yang merendahkan martabat perempuan.

Rini, S.Pd, Sekretaris Jenderal Aksi Perempuan Indonesia (API) Kartini

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut