Asal-Usul Pancasila

Pancasila

Pohon sukun itu, yang berdiri kokoh di atas bukit, menghadap kelaut. Di situlah, pada tahun 1934 hingga 1938, Soekarno banyak merenung. Beberapa saksi sejarah menuturkan, salah satu hasil perenungan Bung Karno di bawah pohon sukun itu adalah Pancasila.

Pohon sukun itu kemudian diberi nama “pohon Pancasila”. Lalu, lapangan—dulunya bukit—tempat sukun itu berdiri di beri nama “Lapangan Pancasila”. Di Ende, sebuah kota indah di Pulau Flores, Soekarno menjahit ide-ide besarnya mengenai Indonesia masa depan, termasuk ideologi Pancasila.

Akan tetapi, kita belum tahu seberapa besar pengaruh pengalaman Soekarno di Ende dalam perumusan Pancasila. Fakta-fakta soal ini masih sangat minim. Yuke Ardhiati, seorang arsitek yang penelitiannya sempat menyinggung soal ini, mengatakan, pemikiran Soekarno di Ende sudah meliputi semua sila Pancasila. Saat itu, katanya, Soekarno menyebut sebagai Lima Butir Mutiara.

Dalam buku otobiografinya, Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat Indonesia, Soekarno mengatakan: “Di pulau Bunga yang sepi tidak berkawan aku telah menghabiskan waktu berjam-jam lamanya merenungkan di bawah pohon kayu. Ketika itu datang ilham yang diturunkan oleh Tuhan mengenai lima dasar falsafah hidup yang sekarang dikenal dengan Pancasila. Aku tidak mengatakan, bahwa aku menciptakan Pancasila. Apa yang kukerjakan hanyalah menggali tradisi kami jauh sampai ke dasarnya dan keluarlah aku dengan lima butir mutiara yang indah.”

Dengan demikian, banyak yang menyebut Ende sebagai tempat “penyusunan gagasan-gagasan Pancasila”. Setelah itu, seiring dengan proses di Dokuritsu Zyunbi Tyoosakai (Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan, BPUPKI), Soekarno makin mematangkan gagasan tersebut.

BPUPKI resmi dibentuk tanggal 29 April 1945. Badan ini, yang beranggotakan 63 orang, memulai sidang pertamanya pada tanggal 29 Mei 1945. Nah, di sini ada kontroversi: ada yang menyebut Mohammad Yamin menyampaikan pidato tanggal 29 Mei 1945 dan isi pidatonya sama persis dengan Pancasila sekarang ini.

Dalam pidatonya Yamin mengusulkan 5 azas: peri kebangsaan, peri kemanusiaan, peri ke Tuhanan, peri kerakyatan, dan kesejahteraan rakyat.

Karena itu, banyak orang yang menyebut Muhamad Yamin sebagai penemu Pancasila. BJ Boland dalam bukunya, The Struggle of Islam in Modern Indonesia, secara terang-terangan menyebut Muh Yamin sebagai penemu Pancasila, bukan Bung Karno.

Tesis ini makin diperkuat di jaman Orde Baru. Ini juga dalam kerangka de-soekarnoisme. Nugroho Notosusanto, salah seorang ideolog orde baru, banyak menulis tentang sejarah kelahiran Pancasila dengan mengabaikan sama sekali peranan Soekarno.

Dengan penelitian yang sudah bisa ditebak hasilnya, Nugroho Notosusanto menyimpulkan bahwa penemu Pancasila bukanlah Soekarno, melainkan Mohammad Yamin dan Soepomo. Itu menjadi pegangan dalam buku-buku penataran P4 dan buku-buku sejarah Orde Baru.

Nugroho Notosusanto, seorang yang anti-marxisme, menuding sila kedua Pancasila  versi Bung Karno, yaitu Peri Kemanusiaan/Internationalisme, sangat identik dengan semangat internasionalisme kaum komunis.

Suatu hari, ketika Bung Hatta memberi ceramah di Makassar, seorang mahasiswa mengeritik Bung Hatta karena menyebut Bung Karno sebagai penggali Pancasila. Si mahasiswa itu, entah dicekoki oleh kesimpulan Nugroho Notosusanto, menyebut Mohammad Yamin sebagai penemu Pancasila. Hatta pun bertanya dari mana mahasiswa tahu? Dijawab oleh sang mahasiswa, “Dari buku Yamin”. Hatta segera mengatakan, “Buku itu tak benar!”

Rupanya, menurut versi Bung Hatta, Mohamad Yamin tidak berpidato tentang 5 azas itu pada 29 Mei 1945. Pidato itu, kata Bung Hatta—yang saat itu anggota BPUPKI dan panitia kecil—mengingat Pidato Yamin itu disampaikan di Panitia Kecil.

Menurut Bung Hatta, yang saat itu juga anggota BPUPKI, penemu Pancasila itu adalah Bung Karno. Saat itu, kata Bung Hatta, di kalangan anggota BPUPKI muncul pertanyaan: Negara Indonesia Merdeka” yang kita bangun itu, apa dasarnya? Kebanyakan anggota BPUPKI tidak mau menjawab pertanyaan itu karena takut terjebak dalam perdebatan filosofis berkepanjangan.

Akan tetapi, pada tanggal 1 Juni 1945, Soekarno menjawab pertanyaan itu melalui pidato berdurasi 1 jam. Pidato itu mendapat tepuk-tangan riuh dari anggota BPUPKI. Sesudah itu, dibentuklah panitia kecil beranggotakan 9 orang untuk merumuskan Pancasila sesuai pidato Soekarno. Panitia kecil itu menunjuk 9 orang: Soekarno, Hatta, Yamin, Soebardjo, Maramis, Wahid Hasyim, Abikusno Tjokrosuyoso, dan Abdul Kahar Muzakkir.

Panitia kecil inilah yang mengubah susunan lima sila itu dan meletakkan Ketuhanan Yang Maha Esa di bagian pertama. Pada tanggal 22 Juni 1945 pembaruan rumusan Panitia 9 itu diserahkan kepada Panitia Penyelidik Usaha–Usaha Kemerdekaan Indonesia dan diberi nama “Piagam Jakarta”.

Pada 18 Agustus 1945, saat penyusunan Undang-Undang Dasar, Piagam Jakarta itu mengalami sedikit perubahan: pencoretan 7 kata di belakang Ketuhanan, yaitu “dengan kewajiban menjalankan syariat islam kepada penduduknya.” Begitulah, Pancasila masuk dalam pembukaan UUD 1945.

Apa yang dikatakan Bung Hatta mirip dengan penuturan Bung Karno. Dalam Buku “Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat”, Bung Karno mengatakan, selama tiga hari sidang pertama terjadi perbedaan pendapat. Artinya, jika sidang dimulai tanggal 29 Mei 1945, maka hingga tanggal 31 Mei belum ada kesepakatan.

Terkait tanggal 29 Mei itu, seorang pakar UI, Ananda B Kusuma, menemukan Pringgodigdo Archief. Dokumen ini cukup penting, sebab memuat catatan-catatan tentang sidang itu. Menurut dokumen itu, orang-orang yang berpidato pada tanggal 29 Mei 1945 itu: MRM. Yamin (20 menit), Tn. Soemitro (5 menit), Tn. Margono (20 menit), Tn. Sanusi (45 menit), Tn. Sosro diningrat (5 menit), Tn. Wiranatakusumah (15 menit).

Sidang itu diberi alokasi waktu 130 menit. Akan tetapi, yang cukup aneh, Yamin disebut berpidato 120 menit. Padahal, saat itu ada lima pembicara lain yang juga harus menyampaikan pidatonya.

G. Moedjanto, seorang sejarahwan, juga menemukan kejanggalan pada pidato Yamin—yang disebut tanggal 29 Mei 1945 itu. Pada alinea terakhir berbunyi: “Dua hari yang lampau tuan Ketua memberi kesempatan kepada kita sekalian juga boleh mengeluarkan perasaan”. “Dua hari yang lampau” itu berarti tanggal 27 Mei 1945, sedangkan sidang baru dibuka pada tanggal 29 Mei 1945. Artinya, seperti dikatakan Bung Hatta, pidato Yamin itu memang disampaikan di Panitia Kecil—pasca Soekarno menyampaikan pidato tanggal 1 Juni 1945.

Mohammad Yamin sendiri mengakui Bung Karno sebagai penggali Pancasila. Itu dapat dilihat di pidato Yamin pada 5 Januari 1958 : “Untuk penjelasan ingatlah beberapa tanggapan sebagai pegangan sejarah: 1 Juni 1945 diucapkan pidato yang pertama tentang Pancasila…, tanggal 22 Juni 1945 segala ajaran itu dirumuskan di dalam satu naskah politik yang bernama Piagam Jakarta … dan pada tanggal 18 Agustus 1945 disiarkanlah Konstitusi Republik Indonesia, sehari sesudah permakluman kemerdekaan Republik Indonesia. Dalam konstitusi itu pada bagian pembukaan atau Mukadimahnya dituliskan hitam di atas putih dengan resmi ajaran filsafat pancasila.”

Roeslan Abdulgani, yang sempat menjadi Menteri Penerangan di era Bung Karno, juga menyebut Bung Karno sebagai penggali Pancasila. Dua pemikiran besar di dalam pancasila, yaitu Sosio-nasionalisme (penggabungan sila ke-2 dan ke-3) dan Sosio-demokrasi (penggabungan sila ke-4 dan ke-5), sudah ‘digarap’ oleh Bung Karno sejak tahun 1920-an. Dalam konteks ini, Hatta juga punya peranan ketika menaburkan ide-ide tentang demokrasi kerakyatan.

Dari mana datangnya istilah Pancasila itu? Dalam buku “Manusia dan Masyarakat Baru Indonesia (Civic)” dikatakan, kata “Pancasila” berasal dari bahasa Sangsekerta: Panca berarti lima, sedangkan sila berarti dasar kesusilaan.

Sebagai kata majemuk, kata “Pancaҫila” sudah dikenal dalam agama Budha. Bila diartikan secara negatif, ia berarti lima pantangan: (1) larangan membinasakan makhluk hidup, (2) larangan mencuri, (3) larangan berzinah, (4) larangan menipu, dan (5) larangan minum miras.

Dalam karangan Mpu Prapantja, Negarakretagama, kata “Pancaҫila” juga ditemukan di buku (sarga) ke-53 bait kedua: “Yatnanggegwani Pancaҫila Krtasangskarabhisekakrama (Raja menjalankan dengan setia kelima pantangan itu, begitu pula upacara ibadat dan penobatan).

Akan tetapi, jika diperhatikan dengan seksama, tidak ada keterkaitan antara Pancaҫila dalam Budha dan Negarakretagama dengan Pancasila yang menjadi dasar atau ideologi bangsa kita itu.

Bung Karno, dalam kursus Pancasila di Istana Negara, 5 Juni 1958, membantah pendapat bahwa “Pancasila (dasar negara kita) adalah perasan dari Buddhisme. Katanya, Pancasila itu tidak pernah congruent dengan agama tertentu, tetapi juga tidak pernah bertentangan dengan agama tertentu.

Soekarno sendiri menolak disebut sebagai “penemu Pancasila”. Baginya, lima mutiara dalam Pancasila itu sudah ada dan hidup di bumi dan tradisi historis bangsa Indonesia. Soekarno hanya menggalinya setelah sekian lama tercampakkan oleh kolonialisme dan penetrasi kebudayaan asing. (Rudi Hartono)

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut
  • ivan tawaqal

    trusss kenapa lambang pancasila burung garuda??? en trussss kenapa burung garudanya mirip lambang kerajaan samudra pasai di Aceh

  • ThaifahManshurah

    pancasila adalah man-made system alias produk budaya bikinannya manusia
    belom ada catatan sejarahnya, bhw dg pancasila, suatu bangsa yg menjalankannya bisa sejahtera, damai, adil makmur, tentram, dll
    justru yg ada adalah
    pembantaian masal, penipuan/rekayasa sejarah, premanisme yg di backing aparat, penindasan, perampokan kekayaan alam oleh asing, kemiskinan, kesenjangan sosial, korupsi, kolusi, nepotisme, dll

  • AhmadSiregar

    yang bukan man-made systeem atau produk budaya bikinan manusia itu apa yak? kitab suci? ditulis manusia juga kok.. hehehe..

  • PETER ROHI

    Dalam buku Bung Hatta: Sekitar Proklamasi, pada tanggal 1 Juni 1945, tidak ada jadwal untuk Moh. Yamin berpidato. Yamin cuma berbicara sebagai penanggap dari flour, sehingga kata Hatta tidak mungkin Yamin berpidato sepanjang itu. Sementara itu ayat2 kitab suci pun belum tentu menjamin kesejahteraan umat manusia, aman, dan tenteram. Buktinya di Eropah, ketika semua rujukan undang-undang berdasarkan kitab suci justru banyak terjadi peperangan, hukuman mati, dengan cara gantung dan bakar, serta pembantaian sesama manusia. Para korban adalah para pemikir yang dianggap memiliki ide atau gagasan yang tidak sejalan dengan agama mayoritas di Eropa. Maka muncullah kaum reformis dan kaum rasionalis, yang pada perkembangan terakhir menjadi DEMOKRASI. Jadi semuanya tergantung dari kesadaran sebuah bangsa untuk MENJAMIN hidup berdampingan bersama semua golongan manusia di dunia, dengan menjamin hak asasi setiap orang, selama orang itu tidak melanggar hak asasi orang lain, atau tidak memaksakan kehendaknya sendiri. Itu semua sudah menjadi perenungan Bung Karno untuk menciptakan satu Indonesia yang adil tentram, sejahtera. Karena itu ia menggali apa yang sudah hidup dalam semangat bangsa Indonesia, yaitu:PANCASILA.

  • jadi anda tidak percaya bahwa al quran bersumber dari firman Allah?
    Astagfirullah….

  • AhmadSiregar

    sudut pandang iman nggak bisa ketemu dengan sudut pandang ilmiah. Iman sudah sampai level “pokoknya”, sedangkan ilmiah bukti pembuktian. jelaslah al quran secara iman dianggap demikian (bersumber dari firman Allah). tapi dari sudut pandang ilmiah, isi al quran punya banyak kemiripan dengan kitab taurat dan kitab suci agama kristiani. seorang sejarawan atau arkelog sudah tentu menganggap ini sebagai produk peradaban manusia.

  • pancasila adalah thogut

  • puspita pertiwi

    komentar yang gak nyambung. yang membuat negara bisa sejahtera bukan hanya ideologinya, tapi juga komitmen warga negaranya dalam mengamalkan ideologi itu. indonesia belum sejahtera bukan karena pancasilanya, tapi manusianya banyak yan g bodoh, gak ngerti ideologi bangsa. hal ini disebabkan tidak ada pendidikan politik jaman orde baru.

  • puspita pertiwi

    percaya bahwa qur’an adalah firman tuhan, tapi SAYA TIDAK PERCAYA KALAU QUR’AN YANG ADA SEKARANG ADALAH MURNI FIRMAN TUHAN SEMUA. Perlu kita ketahui bahwa qur’an baru ada setelah 100 tahun sepeninggal nabi Muhamad. dan pada saat itu kurang lebih ada 6 sampai 7 versi al qur’an. mana yang paling benar ? kenapa kita memakai qur’anyg sekarang ini ? siapa yang menjamin kemurniaannya ? dari 6 atau 7 tadi, mengapa bisa diputuskan alqur’an yang sekarang ? BELAJAR SEJARAH JUGA BROW… BIAR AGAK RASIONAL..

  • tapi SAYA TIDAK PERCAYA KALAU
    QUR’AN YANG ADA SEKARANG ADALAH MURNI FIRMAN TUHAN SEMUA. pertanyaan saya kemudian, kira-kira bagian mana yg menurud anda meragukan..

    versi al-qur’an sebelum di susun memang ada yg berbeda hal ini di karenakan, Nabi Muhammad sendiri memberikan kebebasan dalam melakukan hafalan, baru kemudian pembukuan al-qur;an pertama kali di lakukan oleh Abu Bakar As-Shidiq yg di karenakan ada 70 orang yg hafal al-qur’an meninggal dunia dalam perang Yamamah meskipun sebelumnya juga sudah ada yang meninggal. atas usulan Umar Bin Khotob maka si susunlah lah al-qur’an yang di tulis oleh Zaid Bin Tsabit, Beliau bekerja amat teliti. Sekalipun beliau hafal Al-Qur’an seluruhnya, tetapi
    untuk kepentingan pengumpulan Al-Qur’an yang sangat penting bagi umat
    Islam itu, masih memandang perlu mencocokkan hafalan atau catatan
    sahabat-sahabat yang lain dengan disaksikan oleh dua orang saksi. kemudian di serahkan kepada Abu Bakar sampai beliau wafat dan kemudian di pindahkan di rumah Umar Bin Khottob. Setelah Umar bin Khottob wafat, Mushaf itu dipindahkan ke rumah Hafsah, puteri
    Umar, istri Rasulullah sampai masa pengumpulan dan penyusunan Al-Qur’an
    di masa Khalifah Utsman.
    Di masa Khalifah Utsman bin Affan inilah terjadi berbagai versi al-qur’an. untuk itu diperlukan kesamaan biar tidak terjadi bias. Orang yang pertama memperhatikan hal ini adalah seorang sahabat yang bernama Huzaifah bin Yaman. Maka Khalifah Utsman bin Affan meminta Hafsah binti Umar
    lembaran-lembaran Al-Qur’an yang ditulis di masa Khalifah Abu Bakar yang
    di simpan olehnya untuk disalin. Oleh Utsman dibentuklah satu panitia
    yang terdiri dari Zaid bin Tsabit sebagai ketua, Abdullah bin Zubair,
    Sa’id bin ‘Ash dan Abdur Rahman bin Harits bin Hisyam. hal ini menandakan bahwa penulis pertama masih sama yakni Zaid bin Tsabit.Tugas panitia ini adalah membukukan Al-Qur’an dengan menyalin dari
    lembaran-lembaran tersebut menjadi buku. Dalam pelaksanaan tugas ini,
    Utsman menasehatkan agar: Mengambil pedoman kepada bacaan mereka yang hafal Al-Qur’an. Bila ada pertikaian antara mereka tentang bahasa (bacaan), maka haruslah
    dituliskan menurut dialek suku Quraisy, sebab Al-Qur’an itu diturunkan
    menurut dialek mereka.

    Maka tugas tersebut dikerjakan oleh para panitia, dan setelah tugas
    selesai, maka lembaran-lembaran Al-Qur’an yang dipinjam dari Hafsah itu
    dikembalikan kepadanya. Al-Qur’an yang telah dibukukan itu dinamai dengan “Al-Mushhaf”, dan oleh
    panitia ditulis lima buah Al Mushhaf, Empat buah diantaranya dikirim ke
    Mekah, Syiria, Basrah dan Kufah, agar di tempat-tempat tersebut disalin
    pula dari masing-masing Mushhaf itu, dan satu buah ditinggalkan di
    Madinah, untuk Utsman sendiri, dan itulah yang dinamai dengan “Mushhaf
    Al Imam”
    Setelah itu Utsman memerintahkan mengumpulkan semua lembaran-lembaran
    yang bertuliskan Al-Qur’an yang ditulis sebelum itu dan membakarnya.
    Maka dari Mushhaf yang ditulis di zaman Utsman itulah kaum Muslimin di
    seluruh pelosok menyalin Al-Qur’an itu.
    dari situ mana celah bahwa al-qur’an itu tdk asli…..
    sebagai perbandingan,
    di dlm al-qur’an terdapat kodifikasi angka 19. di mana di dalam al-qur’an sendiri tidak bisa di lepaskan dengan angka 19.
    mari kita lihat…
    angka 19 ini adalah huruf yg terdapat dalam bacaan basmalah, (bukan huruf vokalnya seperti, ba’, sin, mim, lam ,lam, dll).

    sementara lafat ismun di dalam al-qur’an di temukan 19 kali yang berarti 19 x 1.
    lafal Allah ketemu 2698 kali yang berarti 142 x 19
    lafal Ar rohman ketemu 57 kali yang berarti 3 x 19
    lafal Ar Rohim ketemu 114 yang berarti 6 x 19
    contoh lagi
    dalam surat qof surat ke 50, huruf qof-nya ketemu 57 kali yang berarti 3 x 19
    dalam surat al-qolam pada permulaanya berhuruf nun, ternyata huruf nun-nya ketemu 133 kali yang berarti 133 x 19
    dalam surat yasin, jumlah ya dan sin-nya sama yakni 285 yang berarti 15 x 19
    dan lain sebagainya..
    jd logis manakah dengan pertanyaan anda yang menyatakan bahwa al-qur’an itu bukan murni firman tuhan….

  • adit jogja

    Manusia kan hanya sebagai Syariatnya atau Pelaksana saja…. janganlah meragukan Kebenaran Firman Allah….

  • adit jogja

    Pancasila itu bukan Ideologi tetapi Keyakinan… Nah Ideologi itu ialah
    Artifisel Factor (Terdapat Unsur – unsur Rekayasa Manusia) sedangkan
    Keyakinan itu Gifen Factor (Murni Ciptaan Allah SWT) dan Pancasila itu
    ialah Falsafah Bangsa Indonesia Yang berarti Keyakinan Standard Bangsa
    Indonesia sehingga Pancasila menjadi Landasan bagi lahirnya Ideologi –
    ideologi baru…. Kalau ada yang bilang Pancasila sebagai Ideologi itu
    artinya orang yang tak mengenal Sejarah Bangsa Indonesia…. Dan sekrang
    ini Pancasila sebagai Moral Bangsa Indonesia sama sekali tak pernah
    digunakan jadi jangan dibilang Pancasila itu tidak menjamin akan
    tercapainya Kesejahteraan bagi seluruh Rakyat Indonesia bagi Orang orang
    yang tak tahu sejarah dan masih perlu lagi ditata pengetahuannya….

  • adit jogja

    hahaha Al-Qur’an itu kan sebagai Kitab Penyempurna dari Kitab2 sebelumnya…. Kalau memang ada orang yang mengatakan masih Ragu bukan Al – Qur’an itu yang dipertanyakan tetapi Ente yang tidak sanggup untuk Menggali Kebenaran yang terdapat didalam Al-Qur’an itu….

  • ahmad siregar

    penyempurna ato bukan, itukan pemahaman anda, iman dan keyakinan anda. tertulis Al-Qur’an demikian, Lantas anda percaya. Silahkan saja, tapi perlu digarisbawahi bahwa ada orang yg punya keyakinan berbeda. Kalau yang namanya ilmah, itu tidak ada urusan dengan keyakinan. Ilmiah itu wajib mempertanyakan segala sesuatu. Anda pelajari dulu kitab taurat, kemudian pelajari kitabnya nasrani, baru kemudian anda tunjukkan bagian2 mana saja dari Al-Qur’an yang dianggap penyempurna itu. Kenapa dianggap penyempurna. Dalam konteks situasi sejarah seperti apa penyempurna itu lahir. dan seterusnya, dan seterusnya.

  • zeogiggo

    Di dunia ini hanya dua negara yang memiliki asas ketuhanan dalam pemerintahannya,
    israel dan Indonesia,

  • salah satu aja saya tunjukin ya bang ahmad siregar!!!! .. “Dia (Tuhan dalam hal ini Allah) itu tidak beranak dan tiada pula diperanakan” (Al Ikhlas 122:3)… jadi lupakan komentar anda yang provookatif dan sok bergaya ilmiah…

  • ahmad siregar

    Di awal saya bilang bhw gak ada titik temu antara sudut pandang iman dan ilmiah. Anda kok jadi emosi? saya tdk provokatif, atau sok ilmiah. Kalo anda tidak setuju dengan pendapat saya, ya coba ditunjukkan dong alasannya.. tapi jangan bawa2 keyakinan agama, karena saya juga punya keyakinan agama. para pembaca lain juga punya keyakinan agama masing2.. saya nggak mau mendadak jadi ustad atau penceramah agama, apalagi di ruang publik yg menurut saya seharusnya ilmiah, yang pendapatnya bisa dicerna akal sehat oleh orang dari latar belakang keyakinan apapun.. semoga anda bisa paham ya.

  • Ikut nimbrung akh ..

    Sebenarnya simpel aja, pertama klo kita sebagai muslim yang mengacu kepada Al-Quran dan Sunnah. Jika memang menurut bung Ahmad Siregar bahwa Al Quran atau kitab suci lainnya “produk budaya bikinan manusia” kembali kepada keyakinan itu sendiri. Keyakinan kepada “Tuhan Versi Kita” yang paling kita yakini KEBENARANNYA. Selanjutnya ada hal yang tidak dapat kita tembus dengan logika, angka atau rumus-rumus statistik. Klo memang isi Al-Quran tidak dapat dibuktikan secara ilmiah, coba dikaji ulang.

    ThaifahManshurah : yang terpenting saat ini mengaplikasikannya nilai pancasila dalam kesaharian atau aku sering menyebutnya dengan “Revolusi Diri” Tidak usah mengkritik kebobrokan pribadi lain, negara atau bangsa ini yang telah melenceng dari PANCASILA. yang terpenting adalah sudahkah hari ini kita Mengamalkan Pancasila dalam kehidupan kita hari ini? meminjam perkatan K Marx “Para Filsuf berusaha menfsirkan dunia dengan berbagai cara, yang terpenting merubahnya”

    Ali Sadad : Thanks untuk infonya

  • Maap y.., klo ada yg bilang iman n ilmiah tu saling tidak ketemu titiknya.., anda SALAH BESAR..

    Ingat, ayat Allah tuh ada 2.., yg tersurat di kitab suci n yg tersirat d alam semesta ini..

    Klo saudara Ahmad Siregar bilang tidak ada titik temu antara iman n ilmiah.., berarti itu ketidakmampuan anda dlm membaca ayat2 Allah (baik yg tersurat ato tersirat)..

    Yg pasti ayat tersurat dlm hal ini Al Qur’an slalu sejalan dg ayat tersirat (alam semesta ini)..

    Nama anda ada AHMADnya.., tp sungguh ironis klo anda tidak tau sm skali ttg Islam.., klo anda tidak mampu mengenal Islam dg baik, lbh baik anda diam.., jgn menyalahkn agama ato iman, salahkan keterbatasan anda yag tidak mampu mencerna ayat2 Allah..

    Salah 1 ayat d Al Qur’an berbicara ttg pertemuan dua laut yg terdapat dlm surat Al Furqon ayat 53: “Dan Dialah yang membiarkan dua laut yang mengalir (berdampingan); yang ini tawar lagi segar dan yang lain asin lagi pahit; dan Dia jadikan antara keduanya dinding dan batas yang menghalangi”

    Atau surat Ar Rahman ayat 19-20 : “Dia membiarkan dua lautan mengalir yang keduanya kemudian bertemu, antara keduanya ada dinding yang tidak dilampaui masing-masing.”

    Disitu sudah jelas sekali akan kebenaran Al Qur’an.., dmn 14 abad yg lalu tidak ada seorangpun yg mampu membayangkan ttg pertemuan 2 laut, tp Al Qur’an sudah membicarakannya.., klo ada orang yg bilang Al Qur’an itu buatan nabi Muhammad SAW, berarti beliau orang yg paling cerdas di dunia ini, karena mana mungkin nabi Muhammad tahu tentang pertemuan 2 laut, sedangkan beliau keseharian ada d padang pasir.., itu dikarenakan Al Qur’an adlh firman Allah..

    Nah, coba anda sebutkan dr 2 ayat tersebut mana yg tidak sejalan dg ilmu pengetahuan (ilmiah)..???????????????????

    Padahal d jaman secanggih sekarang ini, pertemuan 2 laut sudah d buktikn scr ilmiah..

    Terkadang saya tertawa membaca tulisan orang yg ngakuny cerdas, tp jauh dr ilmiah itu sendiri..

  • sedikit koreksi: yang Anda maksud mungkin Mushaf bung, kalo Al-Quran itu orisinil dari Allah SWT..dlm perkembangannya,ada 7 versi bacaan yg masing2 punya dukungan ulama’ (dikenal dengan istilah Qiraatu sab’ah), nah yg kita pakai sekarang ini Mushaf Utsmani..yg secara resmi dipakai oleh Khalifah Utsman bin Affan 🙂
    makanya, kadang saya jug apunya pikiran kayak njenengan.. 😀

  • masalah bikinan manusia atau bukan, handphone dan komputer yang saudara sekalian pakai sekarang jg tangan manusia, tp ilham inspirasinya ya kita yakin dari Yang Esa, entah anda menyebut Yang Esa itu siapa, masalah bahasa saja

    Pancasila memang buatan bung karno, tp dia sejalan dengan ajaran agama. agama mana yg tak sejalan dgn ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, kerakyatan dan keadilan sosial? kalau kita terus meributkan masalah seberapa bedanya bahasa, tatacara, dibandingkan mencari “seberapa samanya kita”?

    dan bagi yg mencibir kelahiran pancasila, lihat dulu bagaimana pidato bung karno yg legendaris itu disini http://dewacakrabuana.blogspot.com/2011/04/pidato-bung-karno-1-juni-1945-lahirnya.html

    tentang klarifikasi surat wasiat Hatta pada guntur ttng siapa penggali pancasila, silakan lihat suratnya disini http://dewacakrabuana.blogspot.com/2011/05/wasiat-bung-hatta-pada-guntur.html

    bung karno banyak membaca agama, banyak baca hal lain, banyak berbuat, jangan hanya dgn satu dua buku, tuduhan orang asal, kita mencibir beliau… asam garam beliau sudah banyak

  • Percuma saja ada pancasila,,,

    ((tapi tetap aku menjunjung tinggi nilai2 pancasila))
    wong yg hafal cuma anak SD.. dan SMP… coba ke gedung DPR-MPR RI,, tanyain satu2,, pasti ada sesosok yg ga hafal,,,

  • gemmailham

    mantep artikelnya cucok dah

  • Jerry Reymon Sondakh

    setuju”

  • midya dhiafakhri ramadhan

    trimakasih yaaa tugas q jadi cepat selesai……..(^+^)

  • dieni

    jadi siapa yang membuat pancasila ?

  • Dimas Pratama

    Siapa 5 orang penggali pancasila