Alexis Tsipras, Pemuda Kiri Yang Memimpin Yunani

Alexis.jpg

Pada tahun 1990, seorang perwakilan gerakan pelajar muncul di layar kaca. Dengan semangat berapi-api ia berujar: “Kami ingin punya hak untuk memutuskan kapan kami masuk sekolah.”

Waktu itu Yunani sedang dilanda aksi protes mahasiswa dan pelajar. Banyak sekolah diduduki oleh para pelajar. Mereka menentang kebijakan liberalisasi pendidikan oleh pemerintahan kanan-tengah Nea Dimokratia (Demokrasi Baru).

24 tahun kemudian, tepatnya 26 Januari 2015, orang itu dilantik sebagai Perdana Menteri Yunani. Dia adalah Alexis Tsipras, pemimpin dari partai Syriza (koalisi kiri radikal). Ia menempati jabatan itu dalam usia sangat muda: 40 tahun. Karenanya, ia tercatat sebagai Perdana Menteri termuda dalam sejarah Yunani sejak 150 tahun terakhir (sejak 1865).

Alexis lahir 28 Juni 1974, di pinggiran kota Athena, hanya beberapa hari setelah tumbangnya kediktatoran militer yang memerintah Yunani selama 7 tahun. Kediktatoran militer ini, yang disokong penuh oleh Amerika Serikat, sangat keji dalam menindas kaum kiri dan komunis.

Alexis lahir di tengah keluarga berada. Ayahnya, Pavlos Tsipras, adalah seorang kontraktor untuk proyek-proyek pekerjaan umum. Ia dibesarkan di sebuah distrik bernama Ampelokipoi. Klub sepak bola terkenal asal Yunani, Panathinaikos, juga dilahirkan di distrik ini. Dan, Alexis adalah penggemar setia klub ini hingga saat ini.

Ia memulai debut politiknya ketika mulai menginjak usia remaja. Saat itu, di akhir tahun 1980-an, ia bergabung dengan Komunis Muda Yunani (KNE). Dan Alexis sangat aktif dalam organisasi pemuda tersebut. Hingga, pada tahun 1990-1991, meletus protes pelajar dan mahasiswa di seantero Yunani. Alexis terlibat dalam protes tersebut dan menjadi salah satu pemimpinnya.

Setelah lulus dari SMU, Alexis melanjutkan studinya di Universitas Teknik Nasional Athena (NTUA). Ia mengambil jurusan teknik sipil. Saat itu semangat aktivisme politik Alexis makin menguat. Ia bergabung dengan organisasi mahasiswa kiri. Tak hanya itu, di kampusnya, ia terlibat aktif dalam kepengurusan Senat Mahasiswa.

Tak lama kemudian, Alexis bergabung dengan koalisi gerakan kiri dan ekologis, Synaspismos, yang dipengaruhi secara ideologis oleh reformisme Euro-communist. Di tahun 1999, ia ditunjuk sebagai sekretaris pemuda Synaspismos. Saat itu Alexis juga terlibat dalam mengorganisir Forum Sosial Yunani dan mengikuti berbagai aksi protes menentang neoliberalisme.

Di kongres ke-4 Synaspismos, pada bulan Desember 2004, Alexis ditunjuk sebagai Komite Sentral Politik dan sekaligus Sekretaris Politik partai yang bertanggung jawab untuk urusan pendidikan dan pemuda.

Di tahun 2004, Athena melangsungkan Pemilihan Walikota. Saat itu, atas usulan sang Ketua Partai Synaspismos, Alekos Alavanos, Alexis maju sebagai kandidat. Kendati hanya menempati urutan ketiga, dengan perolehan suara 10,5 persen, namun hasil tersebut cukup membuat nama Alexis muncul di panggung politik nasional.

Di tahun 2004 juga, Synaspismos bersama sejumlah organisasi kiri lainnya, seperti Kiri Komunis Ekologis Pembaharuan (AKOA), Pekerja Kiri Internasionalis (DEA-Trotskys), Gerakan untuk Penyatuan Aksi Kiri (KEDA–pecahan Partai komunis), Organisasi Komunis Yunani (KOA–Maois), Active Citizen, dan lain-lain, membentuk koalisi politik bernama Syriza.

Dalam kongres ke-V Synaspismos, di bulan Februari 2008, Alexis terpilih sebagai Ketua partai. Ia memimpin partai tersebut dalam usia cukup muda: 33 tahun. Ia menjadi salah satu pemimpin partai termuda dalam sejarah perpolitikan Yunani—setelah Nikos Zakhariadis, yang memimpin Partai Komunis Yunani (KKE), pada tahun 1931, dalam usia 31 tahun.

Di pemilu Yunani tahun 2009, Syriza meraih 4,6 persen suara. Kendati lebih rendah dari perolehan suara di pemilu tahun 2007, yakni 5,04 persen, tetapi hasil itu telah berhasil mendudukkan Alexis dan 12 anggota partai lainnya di parlemen Yunani.

Sejak tahun 2009, Yunani mulai diguncang oleh krisis ekonomi yang dipicu oleh utang. Utang Yunani mencapai 319 milyar euro (atau 368 milyar USD). Akumulasi utang sebesar itu berpangkal pada sistim politik yang korup dan kebijakan ekonomi neoliberal yang bersandar pada utang.

Sudah begitu, untuk mengatasi krisis utang tersebut, Troika (persekutuan dari IMF, Bank Sentral Eropa, dan Uni Eropa) memaksa Yunani menempuh dua jalan sangat pahit: penghematan belanja publik dan privatisasi aset negara dan layanan publik.

Rakyat Yunani terjerembab dalam situasi ekonomi yang sulit. Sekitar 2,5 juta rakyat Yunani (total penduduk Yunani berkisar 11 juta orang) hidup di bawah garis kemiskinan. Sementara tingkat pengangguran mencapai 30 persen. Sebanyak 18% dari penduduk kesulitan mengakses kebutuhan pangan mereka.

Ironisnya, tiga Perdana Menteri Yunani berturut-turut, yakni George Papandreou (PASOK), Lucas Papademos (teknokrat), dan Antonis Samaras (ND), tidak berdaya menghadapi desakan dari lembaga-lembaga Troika tersebut.

Tak hanya ekonomi Yunani yang rusak, tapi juga sistim demokrasinya. Sebagian besar kebijakan pemerintah diputuskan oleh segelintir elit dan didiktekan dari luar, terutama oleh Troika. Lucas Papademos, seorang bekas Wakil Presiden Bank Sentral Eropa, menjadi Perdana Menteri Yunani tanpa melalui pemilu.

Rakyat Yunani marah. Berbagai lapisan sosial rakyat Yunani, dari kaum muda hingga kaum tua, perempuan dan laki-laki, turun ke jalan menentang kebijakan penghematan. Pemogokan berskala nasional berlangsung bertalu-talu. Hingga gerakan massa yang menduduki lapangan Syntagma, Athena.

Dalam konteks itulah Syriza bangkit. Partai gencar melakukan perlawanan terhadap kebijakan penghematan, baik melalui aksi massa maupun parlemen. Alexis muncul sebagai mercusuar yang menyuarakan perlawanan terhadap Troika dan kebijakannya.

Tak mengherankan, pada pemilu Mei 2012, Syriza berhasil meraup 16,8 persen suara. Sebulan kemudian, pada pemilu putaran kedua bulan Juli 2012, suara Syriza meroket menjadi 26,9 persen.  Hasil ini menempatkan Syriza menjadi kekuatan politik terkuat kedua di Yunani. Tak hanya itu, Syriza juga muncul sebagai kekuatan oposisi terbesar terhadap rezim neoliberal Antonis Samaras (ND) dan Troika.

Sementara partai-partai kanan dan elitis makin menjauh dari massa rakyat, aktivis-aktivis Syriza justru sangat aktif mendekati dan menolong rakyat. Mereka mengorganisir majelis lingkungan untuk merespon berbagai persoalan rakyat; membuat dapur solidaritas untuk memberi makan mereka yang kelaparan; menjalankan klinik kesehatan gratis; menyediakan bantuan hukum gratis, dan lain-lain. Tak cukup dengan itu, sejak tahun 2012, anggota parlemen dari Syriza menyumbangkan 20 persen dari gajinya untuk mendanai kegiatan sosial.

Sejak itulah Alexis dan partainya, Syriza, tampil sebagai “harapan baru” bagi rakyat Yunani. Mural bergambar wajah Alexis dan tulisan “Hope” menyebar di tembok-tembok di sejumlah kota di Yunani. Dan, tidak hanya bagi Yunani, Alexis dan Syriza telah menjadi harapan baru bagi Eropa.

Dan harapan baru itu benar-benar terwujud. Pada pemilu tanggal 25 Januari lalu, Syriza tampil sebagai pemenang dengan meraih lebih dari 36 persen suara. “Hari ini rakyat Yunani telah membuat sejarah. Harapan telah membuat sejarah,” kata Alexis di hadapan pendukungnya saat merayakan kemenangan elektoral.

Alexis adalah pengagum tokoh revolusioner Amerika Latin, Ernesto ‘Che’ Guevara. Dan, sebagai bentuk penghormatan kepada tokoh pujaanya itu, ia memberi nama “Ernesto” kepada anak bungsunya.

Pada kampanye terakhir Syriza tanggal 22 Januari lalu, Pablo Iglesias, pimpinan partai kiri Podemos Spanyol, berpesan: “memenangkan pemilu belum berarti memenangkan kekuasaan.” Pesan tersebut sangat relevan bagi Syriza. Setelah memenangi pemilu dan berada di tampuk kekuasaan, perjuangan Syriza akan memasuki hari-hari yang berat, sebuah perjuangan untuk mewujudkan harapan rakyat Yunani!

Raymond Samuel

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut
  • netty ratna wulan

    pras…..aku cinta padaku………

  • netty ratna wulan

    pras jangan ytansaksi apapun hingga kita bertemu