Amerika Latin Dan Karibia Bersatu Tolak Intervensi AS

Celac (2)

Peran Amerika Serikat di Amerika Latin berhadapan dengan tantangan baru. 33 negara anggota Komunitas Negara Amerika Latin dan Karibia (CELAC) mengecam keras intervensi negara Amerika Utara (AS dan Kanada) terhadap Amerika Latin, khususnya blokade AS terhadap Kuba dan sanksi baru-baru ini terhadap Venezuela.

Posisi ini merupakan bagian dari “Deklarasi Belen”, yang disepakati dalam pertemuan tahunan ketiga Presiden negara-negara anggota CELAC, yang berlangsung tanggal 28-29 Januari di Belen, Kosta Rika.

Di bentuk tahun 2011 lalu, CELAC merupakan inisiatif politik yang diusulkan oleh mantan Presiden Venezuela, Hugo Chavez, yang dimaksudkan untuk menghidupkan kembali mimpi Simon Bolivar menyatukan benua Amerika Latin.

Di halaman 22 deklarasi tersebut tertulis: “Kami menegaskan kembali penolakan mendalam kami terhadap penerapan langkah-langkah koersif dan sepihak serta menyerukan sekali lagi kepada AS untuk mengakhiri blokade ekonomi, perdagangan, dan finansial yang dikenakan kepada bangsa saudara kami selama lebih dari lima dekade.”

Deklarasi ini juga termasuk 94 point berbeda dan ditandai dengan penekanan pada kerjasama regional, penyertaan sosial, kedaulatan dan hak menentukan nasib sendiri bagi setiap negara anggota. Juga komitmen untuk mengatasi kemiskinan dan ketidaksetaraan.

Point lainnya adalah upaya mendorong model produksi dan distribusi yang berkelanjutan, mendorong integrasi regional di sektor energi, dan membangun hubungan bilateral dengan kelompok lain, terutama BRICS (Brazil, Rusia, India, Tiongkok, dan Afrika Selatan), Perhimpunan Negara-Negara Afrika, dan Liga Arab.

Deklarasi ini juga menggaris-bawahi kerjasama “Selatan-Selatan” sebagai hal vital untuk pembangunan regional.

Nicolas Maduro, penerus Chavez sebagai Presiden Venezuela, mengatakan: “Kami datang dengan semangat sang pembebas, Simon Bolivar dan anak-anaknya, kami datang dengan benderanya, bendera kesatuan.”

Maduro memuji dokumen deklarasi sebagai ‘deklarasi bersejarah’, yang mewakili momen penting kemerdekaan benua Amerika Latin.

“Sang pembebas sudah meramalkan beberapa abad ke depan dan mencari waktu untuk membawakan kesatuan di antara kami,” kata Presiden Venezuela tersebut. “Dia (Simon Bolivari) berkata bahwa saat ini harus ditentukan batasan-batasan melalui mekanisme legal dan 200 tahun kemudian, telah jatuh ke generasi kita untuk melaksanakannya.”

CELAC mewakili untuk pertama-kalinya 33 negara di Amerika latin dan Karibia bisa disatukan dalam pengelompokan regional tanpa keikutsertaan AS dan Kanada.

Pengelompokan ini mempertemukan berbagai pemerintahan dari berbagai orientasi ideologis yang berbeda-beda, bahkan saling bertentangan, seperti pemerintahan sayap kanan Meksiko dan Kolombia dengan pemerintahan sosialis Bolivia dan Venezuela.

“Melampaui batas-batas ideologi dan politik yang memisahkan kami, inilah keragaman Amerika Latin,” kata Maduro. “(Kekuatan CELAC) adalah telah meraih kesatuan dalam keragaman, yang didasarkan pada prinsip saling-menghormati, solidaritas dan membantu satu sama lain  dalam membangun Amerika Latin dan Karibia.”

Selama Konferensi Tingkat Tinggi CELAC itu, Presiden sementara CELAC beralih dari Kosta Rika ke Presiden Ekuador Rafael Correa. Dia (Rafael Correa) memuji inisiatif Venezuela dan Nikaragua yang memberikan kursi pertemuan CELAC berikutnya kepada negara koloni AS, Puerto Riko. Ia menganggap tindakan itu memperlihatkan bahwa benua Amerika terbebas dari kolonialisme.

Correa mengatakan, CELAC harus memainkan peran protagonis dalam proses dekolonisasi di kawasan Amerika latin dan Karibia.

“Secara umum, ini harus menjadi organisasi untuk menemukan resolusi konflik dan berposisi tegas dalam isu-isu yang berdampak terhadap negara-negara di kawasan ini,” kata Correa.

Dokumen Belen juga menekankan komitmen negara-negara anggota untuk perlucutan senjata nuklir dan dukungan mereka terhadap perundingan damai berkepanjangan di Kolombia guna mengakhiri perang sipil yang sudah berlangsung lebih dari 50 tahun.

Dokumen ini juga memperlihatkan solidaritas terhadap inisatif Pasar Bersama dan Komunitas Karibia (CARICOM) untuk membentuk komisi reparasi untuk negara-negara Karibia yang terkena dampak perbudaan dan mendukung perjuangan Argentina melawan “vulture fund”.

Dengan pengecualian kepulauan Karibia Perancis, AS mengintervensi baik langsung maupun tidak langsung atau menjajah negara-negara Amerika latin dan Karibia sejak abad ke-19.

Juga untuk beberapa kejadian terakhir, seperti upaya kudeta terhadap pemerintahan kiri Venezuela (2002), Bolivia (2008), dan Ekuador (2010), serta kudeta yang sukses terhadap Manuel Zelaya di Honduras (2009) dan Fernando Lugo di Paraguay (2012).

Nicolas Maduro berkata: “Kami sedang dalam era Amerika kami, Amerika Latin dan Karibia kami. Setelah 200 tahun mencari jalan kami, kami kini telah menemukannya.”

RACHAEL BOOTHROYD

Diterjemahkan dari: venezuelanalysis.com

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut