Dapat Tahta Kehormatan Reje Linge, Sekjen Partai PRIMA Dorong Nilai Adat Masuk dalam Politik Kebangsaan

Jakarta, Berdikari Online — Bagi Sekretaris Jenderal Partai Rakyat Adil Makmur (Partai PRIMA), Mayjen TNI (Purn.) R. Gautama Wiranegara, penghargaan Tahta Kehormatan dari Reje Linge XXI bukan sekadar pengakuan atas perjalanan dirinya. Penghargaan itu justru menjadi pengingat bahwa nilai-nilai adat dan kebudayaan lokal memiliki tempat penting dalam kehidupan politik kebangsaan.

Gautama menerima Tahta Kehormatan dari Reje Linge XXI sebagai “Urang Gayo, Penjaga Adat Budaya Gayo dan Pelestari Sejarah Gayo serta Bahagian Khasanah Kerejeen Linge.” Dokumen penghargaan tersebut ditandatangani di Linge, Aceh, pada 19 Agustus 2026.

Dalam keterangannya, Gautama mengatakan penghargaan tersebut memiliki makna khusus karena perjalanan panjangnya di Aceh ketika masih berdinas aktif di TNI. Ia menyebut pernah bertugas di Aceh selama kurang lebih 13 tahun dalam berbagai penugasan, termasuk dalam tim khusus, satuan tugas, Koops TNI, Kodam Iskandar Muda, serta sebagai bagian dari BIN di Aceh.

Menurut Gautama, perjalanan tersebut turut menjadi salah satu pertimbangan Reje Linge dan perangkatnya dalam memberikan penghormatan.

“Kehormatan ini tentunya juga menjadi suatu kebanggaan khususnya buat diri saya dan keluarga, namun juga sangat erat kaitannya dengan Partai Rakyat Adil Makmur karena saya selaku Sekretaris Jenderal Partai Rakyat Adil Makmur.”

Ia menilai penghargaan tersebut sekaligus menunjukkan bahwa hubungan antara masyarakat Gayo dengan dirinya tidak terputus meski kini ia telah purna dari dinas militer dan menjalankan tugas politik sebagai Sekjen Partai PRIMA.

Gautama juga menilai masyarakat Gayo memiliki karakter nasionalisme dan patriotisme yang kuat. Ia mengingat bagaimana masyarakat Gayo, menurut pengamatannya, tetap mendukung kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia ketika konflik Aceh berlangsung.

“Saya pahami bahwa masyarakat Gayo itu seutuhnya, sebesar-besarnya, secara menyeluruh, mereka bagian yang tidak terlepaskan dari Negara Kesatuan Republik Indonesia.”

Adat sebagai pedoman, politik sebagai pengabdian

Dari pengalaman tersebut, Gautama kemudian menarik hubungan antara nilai adat Gayo dengan apa yang ia sebut sebagai politik kebangsaan. Baginya, adat bukan sekadar seperangkat tradisi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Nilai adat Gayo, kata dia, merupakan pedoman hidup yang bertumpu pada harga diri, kebersamaan, dan ajaran Islam.

Sementara politik kebangsaan, menurut Gautama, harus diarahkan pada kepentingan bangsa, persatuan nasional, dan kesejahteraan rakyat, bukan kepentingan kelompok atau golongan semata. Karena itu, ia melihat terdapat titik temu antara keduanya.

“Politik bukan sekadar alat perebutan kekuasaan, namun juga sebagai sarana utama untuk mewujudkan keadilan sosial dan kesejahteraan umum.”

Ia menambahkan bahwa politik kebangsaan juga harus menjaga integrasi nasional dan merawat kebinekaan di tengah perbedaan suku, agama, dan ras.

Dalam pandangan Gautama, nilai tersebut tidak berhenti pada gagasan persatuan secara formal. Politik juga harus memiliki etika dan moral, dengan kepentingan nasional ditempatkan di atas kepentingan pribadi maupun golongan.

Masyarakat adat jangan hanya jadi objek pembangunan

Pandangan tersebut kemudian ia hubungkan dengan posisi masyarakat adat dalam pembangunan nasional.
Gautama menilai masyarakat adat selama ini kerap berada dalam posisi dilematis. Di satu sisi mereka menjadi penjaga lingkungan, keseimbangan alam, dan kebudayaan. Namun di sisi lain, mereka dapat menjadi kelompok yang rentan ketika berhadapan dengan pembangunan berskala besar.

Ia menyoroti persoalan hak tanah ulayat dan wilayah hidup masyarakat adat yang dapat tersingkir akibat proyek infrastruktur, terutama ketika posisi tawar masyarakat secara formal masih lemah. Karena itu, ia melihat adanya perubahan cara pandang yang perlu dilakukan.

Menurut Gautama, adat tidak seharusnya lagi ditempatkan sebagai hambatan pembangunan. Sebaliknya, masyarakat adat perlu dipandang sebagai mitra dalam pembangunan berkelanjutan.

Ia menyebut setidaknya ada tiga perspektif yang perlu digunakan untuk melihat hubungan masyarakat adat, kebudayaan, dan pembangunan: pembangunan berkelanjutan, hak asasi manusia, serta kebudayaan sebagai modal sosial.

Warisan untuk generasi muda

Penghargaan dari Reje Linge juga membuat Gautama berbicara tentang apa yang menurutnya penting diwariskan kepada generasi muda. Ia menekankan pentingnya kearifan lokal, integritas moral, persatuan, etika, harga diri, dan tata krama yang berakar dari nilai keislaman dan adat. Musyawarah, mufakat, serta kebersamaan, menurutnya, tetap relevan untuk menghadapi persoalan masyarakat hari ini.

Ia juga menyebut sejumlah warisan budaya Gayo yang perlu terus dirawat, seperti Tari Saman, kesenian Didong, dan filosofi corak Kerawang Gayo. Namun warisan yang ingin ia dorong tidak hanya ditujukan bagi masyarakat Gayo.

Untuk generasi muda Indonesia secara lebih luas, Gautama menekankan pentingnya menjaga semangat Bhinneka Tunggal Ika, membangun budaya tolong-menolong dan kepedulian sosial, serta mencintai produk lokal dan kekayaan budaya Nusantara.

Penghargaan dan langkah politik Partai PRIMA di Aceh

Di sisi lain, penghargaan tersebut juga memiliki konsekuensi politik bagi Gautama sebagai Sekjen Partai PRIMA.
Ia mengatakan akan berusaha memperkuat struktur organisasi Partai PRIMA di wilayah masyarakat Gayo, khususnya di kawasan adat dan budaya Kerajaan Linge. Langkah tersebut menurutnya akan diperluas ke wilayah Aceh Leuser Antara, Aceh Barat Selatan, hingga wilayah pesisir Aceh.

Gautama menyebut komunikasi dengan KP3 Aceh Leuser Antara telah dibangun dan terdapat niat untuk membantu memperluas organisasi Partai PRIMA di wilayah tersebut.

Target akhirnya, kata dia, adalah membangun kekuatan organisasi sekaligus mendorong kader-kader Partai PRIMA dari masyarakat Gayo dan wilayah Aceh lainnya untuk mengambil peran dalam lembaga legislatif.

“Sehingga apa yang menjadi visi misi dan tekad Partai Rakyat Adil Makmur memenangkan Pancasila dan partainya rakyat biasa serta program-program Partai Rakyat Adil Makmur bisa berkumandang, berjalan sebagaimana yang kita inginkan.”

Dengan demikian, bagi Gautama, Tahta Kehormatan dari Reje Linge bukan hanya penghormatan terhadap perjalanan masa lalu. Ia melihatnya sebagai amanah untuk masa depan: menjaga budaya Gayo, memperkuat persatuan, sekaligus membawa nilai-nilai tersebut ke dalam kehidupan kebangsaan.

“Pemberian tata kehormatan, tahta kehormatan ini merupakan suatu amanah yang harus saya pegang teguh dan bertanggung jawab untuk melestarikan adat budaya masyarakat Gayo di Aceh.”

Pada titik itulah penghargaan tersebut memperoleh makna yang lebih luas. Bukan sekadar tentang seorang purnawirawan yang mendapat penghormatan dari masyarakat adat, melainkan tentang bagaimana nilai lokal, identitas kebudayaan, dan politik kebangsaan dapat dipertemukan dalam satu gagasan: politik yang tidak tercerabut dari masyarakatnya.

(Amir)

[post-views]