Catatan dari Muhammad Ma’ruf, Ketua Jaringan Kebudayaan Rakyat (JAKER) Boyolali
Aku berdiri di antara kerumunan, menyaksikan pemandangan yang membuat bulu kudukku merinding. Ribuan warga memenuhi pelataran Pendopo Desa Gondangrawe, Kecamatan Andong, Boyolali. Malam itu, 11 Agustus, udara terasa dingin dan magisnya lakon yang akan dipertunjukkan. Dari bocah yang menggeliat di pangkuan ibunya hingga sesepuh yang punggungnya mulai membungkuk, semua larut dalam bak sembahyang sunyi yang dihantarkan oleh bayangan.
Gemuruh gamelan mengalun pelan, merambat di atas ilalang kering sekitar, lalu beradu dengan desir angin malam yang membelai dedaunan pohon-pohon di desa Gondangrawe. Ratusan mata menatap khusyuk ke arah panggung sederhana dan megah itu. Aku menarik napas dalam-dalam. Ini bukan sekadar pertunjukan—ini adalah ritual, sebuah napas panjang masa lalu yang kembali dihembuskan ke bumi.
Di balik layar putih yang diterpa lampu, Ki Heri Sakrun Kusumo mulai merajut kisah. Dengan suara yang bercabang antara parau dan merdu, sang dalang menghidupkan “Banjaran Anoman“. Aku memejamkan mata sejenak, membiarkan suara gamelan dan tembang mengalir dalam dadaku.
Warisan yang Mengakar
Sebelum malam itu tiba, aku sempat berbincang dengan pak Jumar, sesepuh sekaligus pendiri Sanggar Gondang Rawe Manunggal. Matanya menerawang jauh saat berbicara tentang pagelaran ini.
“Ini bukan kerja satu malam, ini kerja hati yang di pupuk sekian lama,” ujarnya pelan.
Kata-katanya menggantung di udara. Aku mengerti maksudnya. Kecintaan terhadap wayang kulit di desa ini bukan sekadar hiburan—ia adalah denyut nadi yang turun-temurun dari generasi ke generasi. Ditopang oleh sifat gotong royong yang masih membara dalam dada, sebuah kekuatan yang merajut setiap rumah, setiap jiwa.
Aku menyaksikan sendiri bagaimana mereka bahu-membahu membangun panggung, menyiapkan kenduri, dan menata segala sesuatunya dengan senyum yang tulus. Tak ada pamrih, tak ada lelah yang terucap. Mereka bergerak seperti satu tubuh, satu semangat: Bersih Desa, Indonesia Berdaulat Adil dan Makmur. Sebuah deklarasi harapan yang disusun dalam kerja bakti bersama.
Syukur yang Menjadi Fenomena Budaya
Rangkaian acara dimulai lebih awal, pada 10 Agustus, dengan doa bersama dan kenduri besar yang memenuhi pendopo. Aroma tumpeng dan kemenyan berkelindan, menjadi persembahan bagi bumi yang memberi kehidupan. Lalu, gemulai lagu-lagu campursari “Hanan” mengiringi kegembiraan, sebelum malam itu memuncak pada puncak pagelaran wayang.
Semua ini dirajut dalam rangka menyambut HUT RI ke-81 dan HUT JAKER ke-33. Sebagai ketua JAKER Boyolali, aku merasa bangga bisa membersamai seluruh warga sekitar dalam perhelatan ini. Namun lebih dari itu, aku merasa terharu.
Untuk zaman sekarang, kesuksesan pagelaran wayang di Gondangrawe ini luar biasa.
Aku mengucapkannya dengan penuh kekaguman. Ini bukan sekadar perayaan—ini adalah cermin dari kesetiaan warga terhadap seni, kesetiaan terhadap gotong royong, dan kesetiaan terhadap makna “bersih desa” sebagai ungkapan rasa syukur yang diekspresikan menjadi fenomena budaya yang indah.
Dalam setiap langkah acara, doa selalu menjadi pembuka. Dari masjid ke pendopo, esensi agama dan tradisi berpadu tanpa sekat. Spiritualitas tidak pernah terpisah dari keseharian rakyat. Inilah yang membuatku tersenyum—di tengah hiruk-pikuk dunia digital, mereka masih memegang erat ajaran dan tradisi leluhur yang menjadi ekpresi agama Islam.
Bisikan Anoman
Malam itu, lakon yang dipilih bukanlah tanpa sengaja. “Banjaran Anoman”—perjalanan hidup Raden Anoman dari lahir hingga akhir hayat—ditaruh di tengah-tengah mereka sebagai buku pelajaran hidup. Kisah tentang pengabdian yang tulus, teguh iman kepada Tuhan, serta loyalitas dan kerendahan hati.
Di panggung itu, tokoh Anoman digambarkan gagah namun lembut. Ia pemberani, setia, waspada, dan tabah, meski memiliki kesaktian yang luar biasa. Namun yang paling menyentuh adalah kerendahan hatinya. Di tengah derap langkah dan kecepatan lompatannya, ia selalu menunduk, selalu ingat bahwa semua kesaktian adalah titipan.
Aku merenung sejenak. Anoman adalah sosok yang mengabdi tanpa pamrih, hadir di bumi sebagai takdir untuk membawa kedamaian, mengajarkan manusia agar selalu selaras dengan Sang Pencipta. Inilah pesan yang ingin ditanamkan warga Gondangrawe: kekuatan sejati lahir dari keikhlasan, dan keagungan sejati lahir dari kerendahan hati.
Saat Fajar Merangkak
Pagi mulai merangkak di ufuk timur. Gamelan menumpulkan suaranya. Ribuan penonton mulai bubar, namun hati mereka terisi. Di balik panggung yang mulai sunyi, hanya tinggal lesung kayu dan wayang-wayang yang tertata rapi.
Aku berdiri di sana, memandang kosong. Namun kisah Anoman, kisah tentang pengabdian dan kesetiaan, tetap menggema di setiap relung rumah warga Gondangrawe. Inilah sebuah kampung yang membuktikan bahwa di tengah arus modernisasi, mereka masih memegang erat ajaran leluhur: bahwa untuk menjadi berdaulat, adil, dan makmur, satu-satunya kuncinya adalah menjaga harmoni antara doa, kerja, dan seni.
Dan di sana, di ujung malam, doa-doa itu telah dijawab oleh senyum yang tersebar di wajah mereka.
Aku berbalik, melangkah meninggalkan pendopo. Namun di telingaku, bisikan Anoman masih terdengar: “Manusia, sadarlah. Semua kekuatan hanyalah titipan. Yang abadi hanyalah keikhlasan dan kerendahan hati.”
Gondangrawe, 11 Agustus 2026


