Warga Bukit Duri Menuntut Keadilan Hak Atas Tanah

Selasa, 10 Mei 2016, warga Bukit Duri, Tebet, Jakarta Selatan, mengajukan Class Action  kepada Pemprov DKI Jakarta melalui Pengadilan Negeri Jakarta Pusat.

Upaya ini diajukan warga sehubungan dengan rencana penggusuran dan relokasi warga untuk program normalisasi sungai Ciliwung berdasarkan Perda 1 tahun 2012, Pergub 163 tahun 2012, dan Keputusan Gubernur Provinsi DKI Jakarta 2181 tahun 2012. 

Warga Bukit Duri menolak penggusuran dan relokasi yang rencananya berjalan akhir Mei tersebut karena tanpa ganti rugi apapun. Warga juga sangat keberatan dengan rencana dipindahkannya warga ke Rusunawa Rawa Bebek karena lokasinya jauh dari tempat warga mencari nafkah dan penghidupan sehari-hari. 

Warga Bukit Duri mengaku sudah puluhan tahun membangun modal sosial dan ruang pertahanan hidup. Akan tetapi dengan kehadiran rejim pasar bebas kapitalisme di ibukota Jakarta, warga dihadapkan pada pilihan “perang ruang kota” memperebutkan kembali hak-hak atas tanah dan ruang kota yang sudah sangat lama mereka bangun.

Sejarah Tanah Bukit Duri

Seorang kaya keturunan Portugis berama Cornelis Senen membeli tanah di daerah pinggiran kali Ciliwung dan termasuk Kampung Bukit Duri. Cornelis Senen adalah seorang guru agama Kristen yang kaya berasal dari Selamon di Pulau Lontar, Kepulauan Banda.

Semenjak jalan raya Daendeles dibangun, tanah yang dimiliki oleh Cornelis Senen, swasta (partikelir) ini ,berkembang pesat menjadi pemukiman dan pasar yang ramai. Hingga kini masyarakat menyebutnya dengan Meester Cornelis atau Mister. Pada abad 19, Meester Cornelis merupakan Gemeente Batavia yang terkemuka.

Sebagian lagi tanah di wilayah itu digunakan untuk tempat Penjara Wanita Bukit Duri. Setelah Indonesia merdeka, Penjara Wanita Bukit Duri ini digunakan oleh Pemerintah RI untuk menampung tahanan politik pada tahun 1968. Tahanan politik yang pernah dipenjarakan di Penjara Wanita Bukit Duri adalah Gerakan Wanita Indonesia (Gerwani) dan tokoh-tokoh Partai Komunis Indonesia (PKI). Kemudian pada tahun 1984 Penjara Wanita ini dibongkar karena kelebihan penghuni.

Pabrik senapan yang didirikan oleh Herzog K.B. von Sachsen-Weimar-Eisenach. Di sebagian wilayah dibangun Dipo (bengkel kereta api). Sebagian besar perumahan warga dan tempat usaha kecil menengah.

Berdasarkan sebuah peta terbitan abad 19 M, daerah Manggarai dan Kampung Melayu sudah menjadi permukiman di tepi kota Batavia. Sudah ada jalan dari pusat kota melalui Manggarai ke Depok, dan jalan dari Mester lewat Kampung Melayu terus ke jalan antara Tanah Abang dan Pasar Minggu. Ketika stasiun kereta api Manggarai sudah difungsikan, Manggarai sudah menjadi permukiman yang tertata rapi. Maka bisa dianggap daerah terbangun pertama di daerah yang nantinya menjadi Kecamatan Tebet adalah daerah yang sekarang termasuk dalam Kelurahan Manggarai dan Kelurahan Bukit Duri. Peta topografi terbitan Dinas Topografi Angkatan Darat Amerika Serikat sekitar tahun 1945 menunjukkan bahwa daerah-daerah lainnya di wilayah bakal kecamatan ini masih berupa perkampungan dan persawahan.

Tanah-tanah di pinggir sungai Ciliwung khususnya di wilayah kampung Bukit Duri sebelum Indonesia merdeka dimiliki oleh Meester Cornelis. Tanah yang dibeli oleh Cornelis Senen dengan luas 5 KM persegi dari antara Cipinang dan Ciliwung Senen. Meester Cornelis membentuk afdeeling (bagian tersendiri) dari Residentie Batavia. Antara 1905 dan 1936, Meester menjadi Stadsgemeente (kota) tersendiri lalu digabung dengan Batavia. Tanah-tanah partikelir yang dimiliki oleh Meester Cornelis dan dicatat sebagai tanah milik orang Eropa. Pencatatan tanah-tanah milik Meester Cornelis dilakukan di Groundbedrijf Stadsgemeente Batavia. Orang Indonesia (dulu dikenal dengan sebutan pribumi) diijinkan tinggal di tanah-tanah Meester Cornelis yang berlokasi di pinggir kali Ciliwung di Kampung Bukit Duri. Mereka dibebani pajak dan diwajibkan untuk membayar kepada Meester Cornelis. Pembayaran pajak disetorkan ke Groundbedrijf Stadsgemeente Batavia.

Berdasarkan sejarah panjang Kampung Bukit Duri yang telah dibangun oleh warga secara turun temurun, maka warga dibantu Tim Ciliwung Merdeka mengumpulkan ratusan bukti berupa surat-surat tanah warga, PBB, rekening listrik, KTP, KK yang syah dan mengirimkan fotokopiannya kepada Pemprov DKI, Menteri Sosial RI, Menteri Agraria dan Tata Ruang agar negara menimbang kembali rencana menggusur warga.

Warga Bukit Duri dan Tim Ciliwung Merdeka meminta agar Pemprov DKI Jakarta membangun “Kampung Susun Manusiawi Bukit Duri” yakni tidak lagi di bantaran sungai Ciliwung tetapi di Kelurahan Bukit Duri sebagaimana konsep kampung derek di Kampung Pulo yang sudah dijanjikan Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaya Purnama  tanggal 18 September 2016.

Siti Rubaidah

Share your vote!


Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Fascinated
  • Happy
  • Sad
  • Angry
  • Bored
  • Afraid