Urgensi Kesadaran Ekologi Generasi Milenial di Tengah Ekspansi Industri Ekstraktif

Indonesia merupakan negara yang dianugerahi letak geografis strategis dan ditambah lagi dengan bonus demografi. Dengan kondisi lingkungan saat ini yang memprihatinkan, Indonesia tentu juga berupaya mengatasi kerusakan lingkungan. Sebagai negara dengan jumlah penduduk yang banyak, Indonesia tentu juga mengalami berbagai macam tantangan dan kendala dalam implementasi.

Menurut Undang-Undang nomor 32 Tahun 2009 pasal 1 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup, kondisi berubahnya iklim diakibatkan oleh aktivitas manusia secara langsung dan tidak langsung yang menyebabkan komposisi atmosfer mengalami perubahan secara global dan perubahan variabilitas iklim alamiah dalam periode waktu yang dapat dibandingkan. Kondisi ini ditandai dengan perubahan yang sangat signifikan pada iklim, curah hujan, suhu udara dalam satu dasawarsa hingga jutaan tahun. Hal ini terjadi karena naiknya konsentrasi gas karbon dioksida dan gas-gas di atmosfer lainnya sehingga menyebabkan panas terperangkap di bumi dan terjadi apa yang disebut dengan efek gas rumah kaca.

Deklarasi Sustainable Development Goals (SDGs).

SDGs merupakan keberlanjutan dari Millennium Development Goals (MDGs) yaitu agenda pembangunan berkelanjutan dengan 17 tujuan, yang kemudian dibagi ke dalam 169 target. Semua target direncanakan tercapai sampai dengan tahun 2030, ketika satu sama lain saling berhubungan dan saling mempengaruhi. Salah satunya penanganan perubahan iklim, perlindungan ekosistem lautan dan ekosistem daratan yang menjadi prioritas pembangunan berkelanjutan dalam mewujudkan ekologis berkeadilan.

Namun pada faktanya, keseriusan pemerintah dalam upaya perlindungan ekosistem alam perlu dipertanyakan. Hal tersebut dapat terlihat jelas dalam pengambilan kebijakan politik dan pembangunan ekonomi nasional yang tidak berpihak pada lingkungan hidup. Konsepsi Hilirisasi merupakan pembangunan ekonomi nasional yang kontradiksi dengan semangat SDGs untuk mewujudkan ekologis berkeadilan sebab Hilirisasi membuka ruang investasi industri ekstraktif (seperti pertambangan nikel dan batu bara) yang diperkuat melalui regulasi UU Omnibus Law untuk mempermudah perizinan penanaman modal. Massifnya investasi industri ekstraktif yang masuk menjadi ancaman yang cukup serius dan mempertanda lingkungan Indonesia dalam keadaan yang tidak baik-baik saja.

Sejumlah daerah di wilayah Indonesia telah dikepung oleh ratusan perusahaan pertambangan disusul dengan meningkatnya kasus agraria, pencemaran lingkungan, penggundulan Hutan Lindung dan pelanggaran HAM. Meskipun Provinsi Maluku Utara mengalami pertumbuhan ekonomi 27% tertinggi di dunia dengan adanya investasi namun pada faktanya tidak mampu menjawab masalah mendasar yang di hadapi oleh masyarakat. Dalam sejarah Indonesia maupun dunia investasi tidak menghantarkan masyarakat pada tatanan sosial yang lebih baik justru menciptakan dunia kehancuran.

Oleh sebab itu peran generasi milenial dalam mempertahankan dan melindungi lingkungan sangatlah penting. Pendidikan serta penyadaran dianggap perlu untuk membentuk perspektif lingkungan sebagai basis dasar dalam memperjungkan dan mewujudkan keadilan ekologis.

Saatnya generasi milenial menentukan keberpihakan politik dan berani mengambil kepeloporan untuk mengintervensi kebijakan yang tidak berpihak terhadap masyarakat selayaknya anak jaman yang akan melahirkan jaman.

Betrand Sulani (DPO LMND DKI Jakarta)

Share your vote!


Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Fascinated
  • Happy
  • Sad
  • Angry
  • Bored
  • Afraid