UKT Naik, BEM Perguruan Tinggi dan FISIP Undana Buka Posko Pengaduan

Badan Eksekutif Mahasiswa Perguruan Tinggi (BEM PT) bersama BEM Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Nusa Cendana (Undana) membuka posko pengaduan terkait kenaikan Uang Kuliah Tunggal (UKT) di Universitas Nusa Cendana, Kupang, Nusa Tengara Timur. Posko pengaduan ini didatangi oleh ratusan orang tua mahasiswa baru (18/7/2023).

Lila Efrianto Missa selaku Ketua BEM FISIP Undana menyampaikan, pihaknya telah melakukan investigasi terhadap mahasiswa baru yang telah mendaftar di Universitas Nusa Cendana. Ternyata Penetapan UKT tidak dilakukan secara objektif dalam proses wawancara, akibatnya banyak anak petani, sopir, guru honorer, dan anak yatim dibebani dengan UKT yang sangat besar yakni antara 5-10 juta rupiah. Di beberapa Jurusan, beban UKT mencapai 15 Juta untuk kategori tertentu.

Lila juga menyesalkan sikap otoritas kampus terhadap kegiatan mereka. Menurutnya, selama posko pengaduan dibuka, pihaknya didatangi oleh komandan keamanan Undana untuk memanggil Ketua BEM PT Undana, Rio Nappu, untuk menghadap Wakil Rektor 3 (WR3).

Selain itu, posko juga didatangi oleh orang yang tidak dikenal, yang diduga utusan dari birokrasi kampus, untuk menyuruh orang tua mahasiswa baru yang sedang berada dalam ruang BEM untuk keluar kecuali pengurus BEM. Pengurus BEM menolak dan memilih untuk keluar bersama orang tua mahasiswa dan berkumpul di halaman gedung Student Center.

Lila menyampaikan Sesampai diluar sempat terjadi dialog antara BEM dengan birokrasi kampus namun sesaat kemudian ketua BEM PT UNDANA ditarik secara paksa oleh Kasubag Kemahasiswaan untuk bertemu secara tertutup di dalam ruangan, Atas tindakan tersebut dan dorongan dari masyarakat untuk difasilitasi bertemu rektor, maka BEM PT UNDANA bersama mahasiswa baru dan masyarakat kemudian langsung menuju ruang Rektorat untuk bertemu secara langsung dan melakukan diskusi secara terbuka.

Dilaporkan kepada Berdikari Online, setelah melalui beberapa insiden pengurus BEM bersama orang tua dan mahasiswa baru berhasil bertemu Rektor Undana Prof. Maxs Sanam.

Dalam pertemuan itu Maxs justru membandingkan dengan UKT di perguruan tinggi negeri lain di Indonesia yang dikatakan lebih mahal. Padahal, menurut Lila, setiap provinsi memiliki UMP dan pendapatan masyarakat yang sangat berbeda-beda, maka argumentasi tersebut tidak relevan sebagai dasar pikir kenaikan UKT.

Diketahui, upah minimum provinsi (UMP) yang ditetapkan oleh Pemprov Nusa Tenggara Timur  sebesar Rp 2.123.994. 

Jika kalkulasi, lanjut Lila, besaran upah tersebut tidak dapat memenuhi  kebutuhan masyarakat sehari-hari. Belum lagi di NTT tidak ada industri nasional yang bisa menjawab kesesuaian penerapan UMP. Jika dibiarkan, sama halnya kita melanggengkan privatisasi dan komersialisasi dunia pendidikan.

Lila juga menyampaikan bahwa ia menerima ancaman dari salah seorang oknum birokrasi kampus bahwa akan dipukul bahkan dibunuh. Untuk hal Lila disarankan untuk memprosesnya secara hukum. 

(Julfikar)

Share your vote!


Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Fascinated
  • Happy
  • Sad
  • Angry
  • Bored
  • Afraid