Tolak Pabrik Semen, Petani Kendeng Jalan Kaki Rembang-Semarang

Ratusan petani Kendeng dari Rembang, Pati, Blora dan Kudus menggelar aksi jalan kaki dari kota Rembang menuju kantor Gubernur Jawa Tengah di Semarang, Senin (5/12/2016).

Diperkirakan aksi yang menempuh jarak kurang lebih 150 kilometer itu akan memakan waktu 5 hari. Mereka berjalan kaki sambil menenteng bekal dan bendera merah-putih.

Sebelum memulai aksi jalan kaki, para petani menyempatkan diri berziarah ke makam Kartini di desa Bulu, Rembang. Di sana mereka membacakan tahlil dan doa.

Mereka juga sempat singgah di kediaman Kiai Haji Ahmad Mustofa Bisri atau Gus Mus komplek Pondok Pesantren Raudlatut Tholibin, Leteh, Rembang. Ulama Nahdatul Ulama (NU) memberikan pesan dan dukungan moral untuk perjuangan petani Kendeng.

Mengawal putusan MA

Dalam siaran persnya, Joko Prianto dari Jaringan Masyarakat Peduli Pegunungan Kendeng (JMPPK) Rembang mengatakan, salah satu tujuan dari aksi jalan kaki ini adalah mengawal keputusan Mahkamah Agung pada 5 Oktober 2016 yang memenangkan gugatan para petani Kendeng.

“Seharusnya sudah dilakukan eksekusi atas putusan tersebut, dengan mencabut izin lingkungan yang dikeluarkan oleh Gubernur Jawa Tengah,” ujar Joko.

Karena itu, lanjut Joko, petani Kendeng akan mendesak Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo segera mencabut izin lingkungan PT Semen Indoneia.

“Rakyat Kendeng bersama Bapak (baca: Gubernur). Tidak ada yang perlu ditakutkan atau disangsikan selama kita berada di jalan yang benar,” ujar Joko.

Joko mengingatkan, Jawa Tengah sebagai lumbung pangan nasional, seharusnya menjadi pedoman bagi pemerintah daerah untuk melakukan berbagai upaya peningkatan pertanian, bukan malah mengubah lahan produktif pertanian menjadi kawasan industri pertambangan.

Untuk diketahui, sejak tahun 2014 lalu, petani Kendeng membangun tenda perjuangan tepat di pintu masuk kantor PT Semen Indonesia di Rembang.

Perjuangan di lapangan hukum juga dilakukan. Pada April 2015, petani Kendeng melakukan gugatan hukum terhadap PT Semen Indonesia di PTUN Semarang. Hasilnya, gugatan mereka ditolak dengan alasan kadaluarsa.

Upaya selanjutnya dilakukan pada November 2015 di PTUN Surabaya. Petani Kendeng kembali kalah.

Hingga, pada awal Oktober lalu, petani Kendeng meraih kemenangan di Mahkamah Agung. Lembaga tertinggi dalam sistim peradilan Indonesia itu memenangkan gugatan petani Kendeng atas PT Semen Indonesia.

Masalahnya, putusan MA itu tidak menghentikan niat PT Semen Indonesia membangun pabrik di Rembang. Padahal, bagi petani Kendeng, kehadiran pabrik semen bisa membawa bencana ekologis dan mengancam ruang hidup petani.

Muhammad Idris

Share your vote!


Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Fascinated
  • Happy
  • Sad
  • Angry
  • Bored
  • Afraid