TENTANG Puisi BALI

Puisi : Putu Oka Sukanta

Sobat pencinta puisi, aku mau membagi Rasa Bangga. Mungkin norak, mungkin Narsis. Terserah saja.

Puisi BALI ini kutulis di Jogja tahun 1961, ketika aku merasa punya cinta mendalam yang berjarak dengan Bali. Puisi tersebut dimuat di Majalah Zaman Baru Jakarta pada tahun yang sama. Kemudian diterbitkan dalam buku kumpulan puisi bersama terbitan LEKRA
dengan judul Contemporary Progressive Indonesian Poetry, 1962. Aku pikir buku tersebut menjadi salah satu kado di Pertemuan Pengarang Asia Afrika. Mungkin.

Waktu aku ditahan di Markas Kalong, 1966, aku kira buku tersebut. akan dijadikan bahan tuduhan keterlibatanku di LEKRA. Tetapi interogator, penyiksa, hanya tahu melecutkan ekor pari di sekujur badanku, tanpa ngutak atik LEKRA maupun Peristiwa G30S.

Sesudah aku di luar penjara, sekitar tahun 1982/3′, seorang teman asing di suatu pesta menjabat tanganku, dan mengatakan ia baru saja membaca buku Among The Believers, tulisan VS Naipaul. Di dalam buku tersebut, ada kutipan puisi Bali.Di malam yang tanpa bintang itu, kulihat kerlap kerlip samar, entah kunang kunang entah karena debu di bola mata.

Pada suatu pertemuan lain, Julia Suryakusuma memperkenalkan aku dengan orang bertampang India, V.S. Naipaul, peraih Nobel Sastra. Setelah kusebut namaku, ia nyrocos hafalannya puisi Bali. Wah wah wah, aku sendiri tidak hafal. “Terimakasih, terimakasih Mister Naipaul”.
Waktu sudah direbut orang lain.

Sekarang kukirim untuk Sahabat Pencinta Puisi.

BALI

di bali pun berhektar padi menguning
tapi di bali pun beribu petani mati

kita datang di bali ada penari
kita datang di bali banyak candi
keduanya menandai bumi bali

kita datang di bali petani mati
bukan berarti panen tak menjadi
ini pun pertanda bumi bali
ini pun meminta arti.

1961

Gambar: diambil dari hasi AI (bing image creator)

Share your vote!


Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Fascinated
  • Happy
  • Sad
  • Angry
  • Bored
  • Afraid