Seandainya Pangemanann Seperti Lee Jung-chool

Kamu sudah nonton film “The Age of Shadow”? Tentu saja, kalian yang pencinta film Korea, atau yang suka film bernuansa spionase, tak akan melewatkan film yang tayang sejak 2016 ini.

Kalau sudah, dalam 2 jam 20 menit itu, ke mana pikiranmu langsung melesat? Kalau saya, baru setengah jalan, saya langsung terbayang dengan salah satu tokoh di novel Rumah Kaca: Jacques Pangemanann.

Bagi kalian yang sudah menuntaskan tetralogi buru karya Pramoedya Ananta Toer, terutama bagian keempat, Rumah Kaca, tentu tak asing dengan sosok Tuan Pangemanann (dengan dua n) itu.

Nah, di film “The Age of Shadows”, ada sosok yang agak mirip. Dia adalah Lee Jung-chool (Song Kang-ho), seorang Korea yang mengabdi pada kepolisian Jepang. Konteks ceritanya di tahun 1920-an, ketika Korea dijajah oleh Jepang. (Sekedar info, Korea pernah dijajah oleh Jepang selama 35 tahun: 1910-1945).

Kalau di Rumah Kaca, Pangemanann adalah komisari polisi Hindia Belanda yang berdarah Minahasa. Maka di “The Age of Shadows”, Lee Jung-chool adalah polisi pemerintahan fasis Jepang yang berdarah Korea.

Ada hal yang mempersamakan mereka: sama-sama anak dari bangsa terjajah, yang memilih mengabdi sebagai opsir di kepolisian negara penjajah. Persamaannya lagi: keduanya sama-sama ditugaskan untuk menumpas gerakan perlawanan yang memperjuangkan kemerdekaan bangsanya.

Dalam “The Age of Shadows”, Lee Jung-chool ditugasi untuk menghadapi kaum anarkis, yang tengah menyiapkan serangan bom terhadap kantor-kantor pemerintahan Jepang di Korea.

Menghadapi gerakan kaum anarkis itu, yang membangun perlawanannya lewat sistem sel, Jung-chool menggunakan strategi “masuk ke garis belakang musuh”.

Untuk strategi itu, dia menyamar sebagai pedagang barang antik, agar bisa berkenalan dengan Kim Woo-jin, seorang aktivis kemerdekaan, yang menyaru sebagai pedagang barang antik juga.

Sayang, itu pekerjaan yang tak gampang, lantaran kehadiran seorang intel lain, Hashimoto (Uhm Tae-goo). Berjiwa muda, meledak-ledak, sadis, dan tak sabaran. Hashimoto suka grasak-grusuk.

Sementara strategi Jung-chool butuh kesabaran, keinginan petinggi polisi Jepang dan Hashimoto ingin selekas-mungkin. Terjadilah semacam rivalitas. Masalah muncul tatkala Hashimoto, yang memang berdarah Jepang, terkesan dianak-emaskan.

Tentu saja, sebagai orang Korea yang tulus mengabdi, martabat Jung-chool tersinggung. Di sisi lain, seloyal-loyalnya dia pada Jepang, sebagian nuraninya masih terpanggil oleh tanah airnya.

Itu pula yang berhasil dibaca oleh aktivis pergerakan. Jung Chae-san (Lee Byung-hun), sang pemimpin gerakan, mencoba memanfaatkan dualisme hati Jung-chool untuk kepentingan gerakan.

“Bahkan seorang penghianat hanya punya satu tanah air. Pada dasarnya, setiap orang punya sisi baik. Kita hanya perlu membantu untuk menemukannya,” kata Chae-san.

Singkat cerita, perasaan terdiskriminasi sebagai orang Korea di kepolisian Jepang, perkenalannya dengan aktivis pergerakan yang punya cita-cita mulia, dan pertentangan dalam nuraninya sendiri, Jung-chool pelan-pelan melindungi aktivis pergerakan.

Dia bukan hanya membantu gerakan kemerdekaan meloloskan berpeti-peti bom dari Shanghai ke Gyeongsang (Korea). Bukan hanya berhasil menghabisi Hashimoto dan kawan-kawannya.

Dia bahkan rela dipenjara, kehilangan jabatan, bahkan masa depan karir, karena kedapatan bersama dengan Kim Woo-jin di rumah persembunyian di tengah hutan itu.

Di ujung cerita, ketika para aktivis itu ditangkapi, Jung-chool justru menjadi pelanjut perjuangan. Dia yang meledakkan bom itu di sebuah acara pesta petinggi-petinggi militer dan sipil Jepang.

Begitulah kisah Jung-chool dalam kisah “The Age of Shadows”. Dia berubah dari seorang penghianat menjadi seorang pejuang kemerdekaan.

 []

Jacques Pangemanann, seorang komisaris polisi, arsiparis, alumnus Sorbonne Perancis, mempersembahkan hidupnya untuk menjadi ujung tombak kolonial dalam memadamkan perjuangan bangsanya.

Mulai dari memberangus perlawanan Si Pitung dan pengikutnya, lalu menggiring Minke ke pembuangan dan kematian, menghalau kebangkitan Indische Partij yang digerakkan tiga serangkai (Suwardi, EFE Dekker, dan Tjipto), menjinakkan Sarekat Islam, menghentikan Siti Soendari dan Mas Marco Kartodikromo, hingga memadamkan api yang dikobarkan oleh Sneevliet dan ISDV-nya.

Dengah menggabukan ilmu pengarsipan dan pemata-mataan, Pangemanann berhasil menemukan teknik intelijen untuk merekam, mengontrol dan menilai setiap aktivitas kaum pergerakan. Pram menyebut teknik ini dengan istilah pe-rumahkaca-an.

Tentu saja, dari membaca Rumah Kaca, kita tahu sepak-terjang Pangemanann dalam meringkus aktivis pergerakan nasional satu per satu. Mulai dari meringkus sang pemula, Minke, lalu tiga serangkai, hingga Siti Soendari.

Sebetulnya, dalam diri Pangemanann terjadi pertentangan. Di satu sisi, sebagai petugas polisi, dia memimpikan karier yang cemerlang, tanda kehormatan, dan masa depan yang di puncak kejayaan.

Di sisi lain, sebagai manusia terpelajar sekaligus bagian dari bumiputera, dia menyadari kemuliaan cita-cita para pejuang anti-kolonial.

Dia mengakui kekagumannya pada Minke, bahkan menyebutnya sebagai sang guru. Dia membacai karya-karya Minke. “Dia orang besar, dia orang yang membangunkan pekerjaan besar untuk bangsanya,” akunya.

Sayang sekali, pertentangan batin itu tak menghalangi niat Pangemanann untuk menyingkirkan Minke. Bukan saja karena itu perintah, tetapi juga soal jalan kariernya. “Demi karierku, Minke, pemimpin redaksi Medan, harus disingkirkan,” jelasnya.

Kita tahu, Pangemanann menyingkirkan Minke menggunakan jalan di luar hukum: upaya pembunuhan. Ia rela bekerja bersama dengan bandit sekelas Robert Suurhof dan gerombolan indo-fasis De Knippers.

Memang, di tengah jalan, Pangemanann agak mengubah rencananya. Pergulatan batinnya mencegahnya untuk menghilangnya nyawa Minke. Lalu berganti pada cara lain: penjebakan.

Dia tetap membiarkan Robert Suurhof dan gerombolannya untuk melenyapkan nyawa Minke. Namun, sebelum hari-H, dia mengirim surat kaleng ke Prinses Kasiruta. Isinya: dia memberitahu rencana pembunuhan Minke, lengkap dengan waktu, tempat, dan identitas pelakunya.

Memang, berkat surat kaleng itu, Prinses Kasiruta memang bertindak “mendahului”. Robert Suurhof dan gerombolannya bergelimpangan setelah di-dor oleh perempuan berdarah Maluku itu. Nyawa Minke selamat.

Namun, itu jebakan. Pangemanann kemudian berusaha menggunakan kasus penembakan Suurhof untuk menyelidiki rumah-tangga Minke. Beruntung, rencana itu tak berhasil.

Pada akhirnya, Minke ditangkap bukan karena tangan Pangemanann, melainkan karena editorial Medan Priaji yang sangat keras menyerang Gubernur Jenderal. Atas kejadian itu, Raad Van Justitite (dewan kehakiman) Batavia memutuskan Minke dibuang ke Maluku. Dan Pangemanann sebagai eksekutornya.

Seumpama Pangemanann seperti Jung-chool, mungkin jalan ceritanya jadi lain. Sebagai arsiparis dan analis, yang kata-kata, kesimpulan dan rekomendasinya didengarkan, dia harusnya bisa memagari Minke dari upaya-upaya penyingkiran dari luar hukum.

Okelah, Minke ditangkap dan dibuang karena blundernya editorial Medan Priaji, yang menyerang terlalu kasar, sehingga punya celah untuk dikriminalkan.

Tapi, kalau seandainya Pangemanann seperti Jung-chool, dia akan berbuat untuk membebaskan Minke. Bukan saja karena dia pengagum Minke, menyebutnya sebagai sang guru, tetapi juga menyadari arti penting keberlanjutan kerja-kerja otak dan tangan Minke untuk menggerakkan bangsa yang baru saja bangkit.

Maka, kisah pembuangan Minke ke Maluku akan menjadi kisah yang menarik. Ini harusnya menjadi panggung Pangemanann untuk menunjukkan sisi lain dari dirinya: sebagai manusia terdidik dari bangsa terjajah.

Saya membayangkan, ketika Minke diangkut dari Batavia ke Ambon, Pangemanann sudah menyusun sebuah rencana yang rapi: membebaskan Minke.

Di tahun 1924, ketika Haji Misbach dibuang ke Manokwati, Papua, perjalanan kapalnya butuh waktu 20 hari dan singgah di 17 pelabuhan.

Sedangkan Minke, ketika dibuang ke Ambon, berangkatnya dari Batavia, Jadi, rutenya: Batavia-Ambon. Tentu saja, butuh waktu yang lama dan singgah puluhan kali di pelabuhan-pelabuhan yang didahuluinya.

Tentu saja, agar perjuangan Minke tak berhenti lama di pembuangan, harus ada upaya pembebasan. Apalagi, sebelum malapetaka editorial koran Medan itu, Minke punya hasrat ke Singapura, Malaya, Siam dan Filipina.

Jadi, sebelum sampai ke Ambon, Minke sudah dibebaskan oleh Pangemanann. Entah dengan cara apa. Seorang polisi dengan segudang pengalaman harusnya punya 1001 cara untuk kerja ecek-ecek semacam ini.

Jadi, bukannya bertungkus-lumus dalam pembuangan di Ambon, Minke justru bisa mengembara dari Singapura, Malaya, hingga Filipina, atau mungkin Tiongkok. Sehingga bisa bertambah ilmu dan pengalamannya.

Dari pengembaraan, seperti Tan Malaka di kemudian hari, suara Minke tetap melantang keras. Goresan penanya terus mencerahkan Hindia-Belanda. Dan Syarikat dan pengikutnya tidak kocar-kacir. Ah, ini hanya imajanasi liarku.

Tetapi sejarah bercerita lain. Dari penjemputan Minke di rumahnya, di Buitenzorg (Bogor), hingga menemui ajalnya dalam sepi, di Batavia, pada 1918, Pangemanann tak punya usaha secuil pun untuk membantunya.

Yang terjadi, begitu Minke diangkut paksa ke Ambon, Pangemanann-lah yang menguasai rumah bekas kediaman Minke dan keluarganya. Ia menguasai aset orang yang ditindasnya.

Begitu juga ketika Minke kembali dari pembuangannya di Ambon. Pangemanann yang pergi menjemputnya di pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya. Tapi bukan sekedar datang menjemput, ia juga menyodorkan surat perjanjanjian. Isinya: Minke berjanji tak lagi berpolitik dan berorganisasi. Beruntung, si manusia tegar Minke menolak menandatangani perjanjian itu.

Yang terjadi juga, kepulangan Minke ke Pulau Jawa nyaris tak diketahui orang banyak. Tak diketahui oleh para pengikutnya. Tak juga tersorot dan terberitakan oleh pers. Dan Pangemanann punya andil besar atas semua itu.

“Bahwa kepulangannya ke Jawa tidak pernah diketahui oleh pers adalah berkat pengekanganku yang cukup ketat. Ia tak boleh menarik perhatian umum lagi,” kata Pangemanann mengakui.

Di penghujung usianya, Minke sedang sakit keras. Oleh Gunawan, kawannya, ia digotong ke rumah seorang dokter untuk mendapat perawatan. Namun, sebelum tiba di rumah dokter, Polisi bertindak lebih dulu.

Seorang pemuda dikirim ke rumah dokter. Menganiaya dan mengancam si dokter, agar tak melayani pasien pribumi yang sebentar lagi akan datang. Keji sekali!

Akhirnya, Minke meninggal dalam sakit yang tak sempat tersentuh oleh layanan dokter.

Begitulah kisah Pangemanann, yang hingga pensiun terus loyal pada penjajah bangsanya. Pergulatan batinnya tak sedikit pun menggerakkan sikap pribadinya untuk memihak perjuangan bangsanya.

Oiya, ada kutipan yang sangat kuat buat saya dari film “The Age of Shadows”: “Walau kita gagal, kita harus tetap bergerak maju. Kegagalan itu akan menumpuk, sehingga kita bisa menaikinya untuk lebih tinggi.”

IRA KUSUMAH

THE AGE OF SHADOWS | Durasi: 140 menit | Tahun Produksi: 2016 | Negara: KOREA SELATAN | Sutradara: KIM JEE-WON | Pemeran: SONG KANG-HO, GONG YOO, HAN JI-MIN, UHM TAE-GOO, LEE BYUNG-HUNG, dll.

Share your vote!


Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Fascinated
  • Happy
  • Sad
  • Angry
  • Bored
  • Afraid