Penghormatan Untuk Sang Martir Demokrasi: Ma Kyal Sin

Sebulan ini, saat warga dunia masih berjibaku melawan wabah, rakyat Myanmar sedang membacakan ayat-ayat perlawanannya.

Dan salah satu ayat perlawanan itu adalah Ma Kyal Sin, anak muda berusia 19 tahun, yang gugur dalam perjuangan menentang kediktatoran militer di Mandalay, kota terbesar kedua di Myanmar, Rabu (3/3/2021) lalu.

Kyal Sin, yang hari itu menggunakan kaos hitam bertuliskan “Everything will be OK”, sedang berusaha mendapatkan pipa agar demonstran bisa membasuh muka mereka dari perihnya gas air mata. Saat itulah, sebutir peluru sialan menyasar kepalanya.

Pemudi pemberani yang selalu di garis depan selama demonstrasi menentang kediktatoran ini akhirnya tumbang di jalanan. Dia adalah salah satu dari 38 demonstran (versi Perserikatan Bangsa-Bangsa/PBB), yang gugur di tangan rezim militer sejak kudeta tanggal 1 Februari lalu.

Kyal Sin, yang menggunakan nama samaran “Angel” dalam gerakan perlawanan ini, mewakili generasi baru yang sedang tumbuh mekar-mekarnya: generasi Z.

Sebelum militer Myanmar merampas kekuasaan dari tangan pemerintahan sipil, kehidupan Kyal Sin berjalan seperti anak muda umumnya. Dia suka menari dan taekwondo.

Dia juga cukup aktif di media sosial, terutama facebook. Di salah satu postingannya, dia tampak bergaung merah dengan lipstik merahnya. Kadang dia memposting kedekatan dengan bapaknya.

Usianya sama dengan anak-anak pelajar yang setahun-dua tahun lalu mewarnai jalan-jalan di berbagai kota di Indonesia untuk menentang berbagai kebijakan politik yang dianggap merugikan rakyat.

Boleh jadi, anak-anak itu berangkat dari kegelisahan yang sama: mereka menginginkan dunia yang lebih baik, tetapi para elit politik generasi boomers justru menyuguhkan kenyataan-kenyataan pahit.

Tahun 2010, ketika rezim militer membolehkan pemilu—pemilu pertama sejak pemilu 1990 yang hasilnya dianulir sepihak oleh militer—anak-anak ini baru berusia 8-10 tahun. Mereka pelan-pelan merasakan situasi yang mulai terbuka.

Pada pemilu 2020, yang menempatkan National League of Democracy (NLD) sebagai peraih suara dan kursi terbanyak, anak-anak ini sudah menggunakan hak pilihnya.

“Untuk pertama kalinya dalam hidup saya, saya menjalankan tanggung jawab sebagai warga negara. …satu suara dari hati,” tulis Kyal Sin di dinding facebooknya, disertai foto sedang mencium jarinya yang bertinta.

Jadi, anak-anak muda yang sekarang di garis depan perlawanan adalah generasi baru dalam kehidupan politik dan sosial Myanmar. Mereka tumbuh besar dalam iklim politik yang pelan-pelan terbuka. Mereka akrab dengan teknologi, yang membuat mereka bisa melihat dunia lebih luas dari Myanmar.

Tentu saja, rezim militer di Myanmar kaget. Berkali-kali seenak perutnya militer Myanmar merampas kekuasaan politik hasil pemilu, dari pemilu 1990 hingga pemilu terbaru 2020, tanpa perlawanan berarti.

Kudeta kali ini, di era kemajuan yang digerakkan oleh perkembangan teknologi informasi beserta anak kandungnya, gen Y dan Z, perlawanan tak terduga terjadi: perempuan dan gen z berada di garis depan.

“Generasi Z adalah anak-anak yang nggak kenal takut,” kata Honey Aung, yang adik perempuannya,  Kyawt Nandar Aung, juga tewas ditembak kepalanya oleh aparat keamanan.

Anak-anak muda ini menggunakan senjata perlawanan yang tak kalah ampuhnya: gerakan pembangkangan sipil (Civil Disobedience Movement/CDM). Di dalamnya bergabung para pekerja medis, ahli teknik, bankir, pengajar, dan kelompok profesional lainnya.

Di tangan anak-anak muda gen Y dan Z ini, protes menjadi lebih hidup. Mereka mengadopsi salam tiga jari ala film “Hunger Games”, yang sebelumnya populer di kalangan demonstran pro-demokrasi di Thailand.

Dan, seperti meme-meme protes anak-anak muda Indonesia, meme-meme protes anak muda Myanmar juga satir dan menggelitik. Misalnya: “Its too bad. Even introverts are here; I don’t need dictatorship, I need relationship.”

Anak-anak muda itu, seperti kostum Kyal Sin, mengenakan kaos dan celana jeans, pakaian yang oleh kepala angkatan perang Myanmar, Jenderal Min Aung Hlaing, dianggap “tidak senonoh dan bertentangan dengan budaya Nyanmar.”

Dalam represi hari Rabu lalu itu, Kyal Sin hanya salah satu dari tiga remaja belia yang gugur di tangan sang pengecut: militer. Ya, mereka memang pengecut. Seperti kata Soe Hok Gie: “mereka yang berani karena bersenjata adalah pengecut.”

Sebelumnya, pada 9 Februari, seorang remaja perempuan berusia 20 tahun juga gugur karena ditembak kepalanya oleh pengecut-pengecut itu.

“Dia adalah gadis pemberani yang belum pernah saya lihat dalam hidup saya,” kata Ko Lu Maw, seorang fotografer yang beberapa kali mengabadikan gambar Kyal Sin, seperti dikutip New York Times, 4 Maret 2021.

Hari Kamis kemarin, di hari pemakamannya, ribuan orang hadir melepas kepergiannya. Lengkap dengan salam tiga jarinya sebagai simbol perlawanan. Juga lagu revolusioner yang sudah berkumandang sejak 1988, Kabar Ma Kyay Bu.

Selamat jalan, sang Martir. Terus berjuang anak-anak muda pemberani. Myanmar yang lebih baik, lebih demokratis, lebih berkeadilan, menunggumu! Everything will be OK, Guys.

MAHESA DANU

Sumber foto: REUTERS

Share your vote!


Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Fascinated
  • Happy
  • Sad
  • Angry
  • Bored
  • Afraid