Mexico Buka Debat Legalisasi Ganja

Presiden Mexico, Enrique Peña Nieto, membuka debat nasional terkait wacana legalisasi ganja. Meskipun ia berposisi menentang legalisasi ganja namun desakan dari berbagai pihak memaksanya untuk membuka wacana tersebut untuk diperdebatkan secara resmi.

Salah satu pendapat yang paling berpengaruh adalah keputusan mahkamah agung Mexico bulan November lalu yang menyatakan bahwa penggunaan ganja untuk tujuan rekreasi adalah hak konstitusional warganya.

Selain itu ada pula usulan undang-undang dari senator Cristina Diaz tentang legalisasi ganja untuk tujuan pengobatan/kesehatan. Beberapa hari sebelumnya ketua Kongres Mexico, Jesus Zambrano, membuat pernyataan bahwa legalisasi ganja untuk tujuan rekreasi dan pengobatan/kesehatan dapat menjadi taktik untuk memangkas jaringan kejahatan terorganisir yang selama ini menguasai pasar obat terlarang.

Kebijakan legalisasi ganja telah diterapkan oleh beberapa negara di Amerika Latin dalam satu tahun terakhir. Bulan lalu Kolombia telah melegalkan tanaman ganja dan penggunaannya untuk tujuan kesehatan. Pada bulan Mei tahun lalu Puerto Rico melegalkan ganja untuk tujuan yang sama. Demikian halnya Chile sudah melakukan panen tanaman ganja untuk tujuan kesehatan pada bulan April. Sementara itu di Jamaika, negerinya Bob Marley, ganja telah dilegalkan  untuk ditanam dan dimiliki dan digunakan dalam skala kecil (perorangan) atau menjadi tanaman rumah.

Tidak hanya di Amerika Latin, di Amerika Serikat sendiri tanaman ganja telah dilegalkan di 23 negara bagian untuk digunaan sebagai sarana pengobatan/medis, sedangan di empat negara bagian serta ibukota Washington dilegalkan sampai untuk tujuan rekreasi.

Sebagaimana diketahui, penggunaan ganja untuk tujuan medis antara lain diperuntukan bagi penderita kanker. Di negara-negara Amerika Latin ganja diberikan secara gratis oleh dokter kepada pasien kanker.  Sementara manfaat lainnya adalah untuk kebutuhan serat dari batang ganja serta dosis tertentu untuk rekreasi.

Pada kesempatan lain ketua Uni Negara-Negara Amerika Selatan (UNASUR), Ernesto Samper, mengatakan bahwa Ameri Latin selama ini telah bersikap keras terhadap orang-orang lemah, dan bersikap lemah terhadap orang-orang kuat.

“Kita menghukum petani kecil, menyuburkan pasar gelap obat terlarang, kita memenjarakan konsumen, menghukum pedagang kecil yang biasanya anak sekolah,”.

Sejak konvensi Vienna yang secara penuh melarang ganja, Amerika Serikat menggunakan pendekatan militeristik untuk memerangi obat terlarang dengan sasaran yang terfokus pada para pemakai dan pedagang kecil khususnya di Amerika Latin.

Samper menambahkan bahwa kebijakan represif ini tidak mengurangi angga pengguna obat terlarang. Sebagai bukti, setelah hampir 30 tahun kebijakan dijalankan, terdapat 300 juta pengguna obat-obatan secara gelap, termasuk 180 juta pengguna ganja dan 30 persen menggunakan obat-obatan terlarang sintetik.

Meskipun demikian, menurut Samper, UNASUR tidak menganjurkan legalisasi tidak terbatas atas ganja.

“Kita tidak percaya bahwa solusi untuk pelarangan total adalah jatuh ke esktrim yang lain yaitu legalisasi secara total. Kita percaya bahwa alternatifnya adalah dekriminalisasi ganja, yang berarti mengatur kecaman sosial terhadap tingkah laku yang berhubungan dengan obat-obatan terlarang.“ tambah Samper. 

Mardika Putera/teleSUR

Share your vote!


Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Fascinated
  • Happy
  • Sad
  • Angry
  • Bored
  • Afraid