Mengenal Zarah Sultana, Politisi Milenial Progressif di Inggris

Di Pemilu Inggris tahun 2019, saat arus konservatif dan chauvinis sedang menguat, ada bintang baru pembawa harapan yang juga sedang terbit.

Bintang baru itu bernama Zarah Sultana. Politisi muda kelahiran 1993 ini terpilih sebagai anggota parlemen dari partai Buruh. Dia mewakili daerah pemilihan Conventry South.

Debut politiknya sebagai anggota parlemen langsung menggemparkan. Kaum konservatif dan liberal Inggris langsung menjerit kegemparan. Lantaran, pidato pertamanya langsung menohok jantung politik kanan di Inggris: thatcherisme.

“Saya ingin mengenang masa remajaku dan berkata dengan bangga: generasiku berhadap-hadapan dengan 40 tahun Thatcherisme dan kami berhasil mengakhirinya,” kata Sultana.

Mengenakan blazer merah dengan bawahan merah juga, Sultana langsung menghunjam jantung kebijakan pemerintahan konservatif-neoliberal di Inggris: penghematan alias austerity.

Lahir pada 31 Oktober 1993, di West Midlands, Inggris, Zultana merasakan betul pahit-getirnya kebijakan neoliberal yang dimulai sejak era Margaret Thatcher.

Dia lahir dari keluarga muslim keturunan Pakistan dan Kashmir. Kakeknya bermigrasi dari Kashmir ke West Midlands sejak 1960-an karena kemiskinan. 

“Kakekku adalah salah satu dari pekerja yang menjadikan kawasan ini sebagai pusat industri motor yang berkembang pesat,” kenangnya.

Tumbuh sebagai remaja, dia menyaksikan partai Tory dan Liberal Demokrat berkuasa. Dia merasakan langsung dampak privatisasi pendidikan, yang membuat biaya pendidikan membengkak dan membuat banyak siswa berutang.

Dia menyaksikan industri yang dulu menggerakkan ekonomi kotanya, yang menarik banyak orang dari berbagai belahan dunia datang mengadu nasib, mengalami kejatuhan dan gulung tikar (deindustrialisasi).

Sultana mulai tertarik politik saat duduk di bangku sekolah menengah atas. Dia suka menyaksikan debat-debat politik di televisi. Dia juga tertarik dengan aktivisme dan gerakan sosial.

Saat kuliah di University of Birmingham, dia bergabung dengan Serikat Mahasiswa Nasional Inggris Raya alias National Union of Student (NUS), sebuah konfederasi organisasi mahasiswa dan pelajar terbesar di seluruh Inggris raya.

Tahun 2011, saat usianya baru 17 tahun, Sultana memilih bergabung dengan Partai Buruh. Namun, dia lebih banyak aktif di Pemuda Buruh (Young Labour), sayap pemuda partai Buruh yang beranggotakan anak-anak muda usia 14-26 tahun.

Hingga, pada 2015, sebuah revolusi dari dalam mengubah kepemimpinan partai Buruh. Jeremy Corby, yang mewakili sayap kiri militan di partai, berhasil terpilih sebagai Ketua Partai Buruh.

“Saya tahu dia menjadi suara bagi kaum tertindas, di mana pun mereka berada,” kata Sultana, seperti ditulisnya di majalah berhaluan demokratik-sosialis, Tribune.

Sayang, di bawah Corby, nasib partai Buruh tak begitu membaik. Kendati keanggotannya meningkat, tetapi mereka berkali-kali kalah di Pemilu. Kalah di referendum Brexit, kalah juga di pemilu 2017 dan 2019.

Di Pemilu 2019, partai Buruh bukan hanya harus merelakan Boris Johnson, seorang kanan chauvinis, berhasil menduduki kursi Perdana Menteri. Mereka juga kehilangan suara dan kursi yang signifikan.

Beruntung, di tengah keterpurukan itu, ada bintang muda yang bersinar terang. 

Seperti politisi milenial pada umumnya, Sultana juga sangat aktif di media sosial. Di twitter, pengikutnya mencapai 137,8 ribu orang. Di instagram, pengikutnya mencapai 68,4 ribu orang. Di tiktok, dia punya 98,3 ribu pengikut.

Soal musik, Sultana tak ketinggalan. Dia penggemar berat K-pop. Di Spotify, dia menaruh BTS di nomor urut #1 daftar “my top artist”, selain Taylor Swift, One Direction, Lewis Capaldi, dan Halsey.

Meski sudah jadi anggota parlemen, Sarah Sultana tak berjarak dengan gerakan rakyat. Seperti juga Alexandria Ocasio-Cortez (AOC) di Amerika Serikat, Sultana juga kerap ikut aksi protes.

Seperti baru-baru ini, ketika rakyat Inggris turun ke jalan menentang UU baru yang akan menambah kewenangan polisi dalam membatasi aksi protes.

Sultana juga suka menulis. Tulisan-tulisannya tersebar di Tribune, Metro, Red Pepper, The Huffington Post, hingga Guardian.

Di Partai Buruh, Sultana menjadi bagian dari grup sosialis, sering disebut Socialist Campaign Group. Dibentuk sejak 1982, Socialist Group menjadi wadah bagi faksi kiri anggota parlemen dari partai Buruh. 

Begitulah, sekilas tentang Zarah Sultana. Semoga bisa menginspirasi kalian semua. Amin.

RAYMOND SAMUEL

Share your vote!


Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Fascinated
  • Happy
  • Sad
  • Angry
  • Bored
  • Afraid