Politik Perlawanan Sepak Bola Johan Cruyff

Legenda sepak bola Belanda, Johan Cruyff, meninggal dunia pada Kamis, 24 Maret 2016. Dia berpulang dalam usia 68 tahun, setelah berjuang selama beberapa tahun melawan penyakit kanker.

Pria kelahiran Amsterdam, 25 April 1947 itu bukan hanya berhasil menorehkan namanya dalam deretan bintang sekaligus legenda pesepak bola dunia. Bukan hanya karena segudang prestasinya. Bukan hanya karena jasanya menularkan “total football” ke negeri Matador. Juga peletak dasar permainan indah tiki-taka yang khas Barcelona.

Namun, kita juga perlu mengenang pandangan politiknya juga. Bahwa Cruyff bukanlah sebangsa orang yang suka memisahkan bola dan persoalan politik.

“Kita tidak bisa menghindari politik, itu mengapa aku sedikit mencampurinya,” kata Cruyff dalam sebuah film dokumenter tahun 2013 berjudul “The Last Game”.

Karena bakat sepak bola dari sejak usia dini, Cruyff mulai dilirik oleh klub raksasa Belanda, Ajax. Tahun 1964, di usia masih 16 tahun, dia sudah membela Ajax di liga utama. Meski begitu, namanya cepat menjulang di klub yang mendominasi Liga Belanda itu.

Cruyff mengantar Ajax memenangi Liga Eredivisie (Liga Belanda) sebanyak 8 kali, piala KNVB 5 kali, piala Champion Eropa 3 kali, dan EUFA Super Cup 1 kali. 

Tahun 1973, rezim fasis Franco mengundang Cruyff ke Madrid. Ajax menyambut undangan itu, tetapi Cruyff menolak. Dia justru memilih hijrah ke Barcelona, yang kala itu menjadi rival Real Madrid.

Banyak yang menyebut keputusan Cruyff memilih Barcelona bersifat politis. Saat itu, Spanyol tengah diperintah oleh rezim fasis Fransisco Franco. Dan Real Madrid, yang bermarkas di Madrid, dianggap pendukung rezim Franco. Sebaliknya, Barcelona, yang bermarkas di Catalunya, mewakili politik yang menentang rezim Franco.

Dengan bergabungnya Cruyff, Barcelona mulai bangkit. Tahun 1974, Cruyff mengabulkan mimpi jutaan orang rakyat Barcelona saat timnya melumat Real Madrid, dengan skor telak 5-0, di stadion Santiago Bernabeu.

Pendukung Barca sampai turun ke jalan untuk merayakan kemenangan bersejarah itu. Lengkap bendera dan lagu Catalunya.

“Apa yang para pemimpin politik tidak bisa lakukan selama beberapa dekade, justru dituntaskan oleh Cruyff hanya dalam tempo 90 menit,” tulis New York Times kala itu.

Di Barca, Cruyff bukan hanya jadi pahlawan di lapangan hijau, tetapi juga pahlawan politik. Dia disebut-sebut sebagai kapten Barca pertama yang menggunakan ban kapten dengan warna bendera Catalunya.

Dia adalah pendukung hak menentukan sendiri bagi rakyat Catalunya terhadap Spanyol. “Saya pikir, Catalunya harus bisa menentukan nasibnya sendiri. Tidak bisa orang lain menentukan nasib anda,” katanya.

Sekarang, mari kita mengenang Piala Dunia tahun 1978 di Argentina. Saat itu Negeri Tango sedang dibawah kediktatoran yang disokong oleh imperialis Amerika Serikat. Ada istilah “perang kotor”, yaitu proyek pembasmian orang-orang merah oleh tangan-tangan keji rezim diktator.

Saat itu, sebagai pemain bola, Cruyff sudah hebat. Dia memperkuat tim nasional Belanda. Malahan, di piala dunia tahun 1974, dia berhasil mengantarkan Belanda ke final. Walapun akhirnya ditumbangkan oleh Jerman Barat secara dramatis.

Tentu saja, di piala dunia 1978, Cruyff jadi tumpuan Belanda. Dan bagi Cruyff sendiri, ini adalah ajang paling bergengsi untuk membuktikan kehebatannya.

Tetapi apa yang terjadi, saudara-saudari?

Dia menolak ikut berlaga di Piala Dunia 1978. Menariknya, dia menolak karena “alasan politik”. Sebelum ajang itu, Cruyff bilang, “bagaimana bisa anda bermain bola hanya beberapa ribu meter dari pusat penyiksaan?”

Cruyff tidak mengada-ada. Saat itu, diktator Argentina dibawah pimpinan Jenderal Jorge Videla membantai setiap orang yang dicap merah dan pembangkang, seperti komunis, sosialis, teologi pembebasan, Monteneros, hingga Peronis.

Catatan resmi menyebutkan, ada 30.000 dihilangkan di era kediktatoran itu. Belum terhitung jumlah mereka yang disiksa dan dibunuh secara keji. Bahkan, bayi pun diculik dan dipisahkan dari orang tuanya.

Kini, setelah 40 tahun setelah kejadian itu, ibu-ibu yang tergabung dalam “Para nenek Plaza de Mayo” masih terus mencari anak mereka yang diculik. Bayangkan, ada 500 lebih bayi yang diculik zaman itu. Dan sangat sedikit yang berhasil bertemu kembali dengan orang tuanya setelah puluhan tahun pencarian.

Memang, tanpa Cruyff, Belanda tetap melaju ke final Piala Dunia 1978. Tetapi akhirnya ditumbangkan oleh Argentina. Banyak penggemar sepak Bola Belanda menimpakan kesalahan pada Cruyff atas kegagalan itu.

Marteen Wijffels, seorang jurnalis bola Belanda, bilang, “Jika dia (Cruyff) ikut bermain kami menang piala dunia. Dia membuat kami lebih kuat. Saya kira orang sangat kecewa karena dia tidak ikut.”

Di tahun 2008, Cruyff juga membeberkan alasan kenapa dia tidak ikut Piala Dunia 1978. Dia mengungkapkan, saat itu keluarganya di Barcelona menjadi sasaran penculikan.

“Pistol ditodongkan di kepala saya. Saya dan istri saya diikat di depan anak-anak saya di apartemen saya di Barcelona,” ungka Cruyff dalam wawancara dengan Radio di Katalan.

Cruyff menceritakan, sejak peristiwa itu, anak-anaknya pergi ke sekolah dengan kawalan polisi. Polisi menginap di rumahnya selama tiga bulan. Dan dia ke lapangan hijau dengan kawalan bodyguard.

Ya, Cruyff sudah pergi. Dia telah turut mewarnai sejarah sepak bola dunia.

RAYMOND SAMUEL

Share your vote!


Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Fascinated
  • Happy
  • Sad
  • Angry
  • Bored
  • Afraid