Mengapa Tentara Venezuela tetap loyal pada Revolusi?

Di berbagai belahan dunia, militer kerap berposisi sebagai penjaga oligarki dan status quo. Sebaliknya, di Venezuela, tentara berpihak pada rakyat dan revolusi.

Sebuah video yang dibagikan oleh kanal media progressif yang berbasis di Caracas, TeleSUR, memperlihatkan seorang serdadu muda tengah memberi penjelasan kepada warga sipil tentang perlunya persatuan untuk menentang blokade dan potensi agresi dari Amerika Serikat.

“Kami tentara bagian dari rakyat. Kami tiap hari hidup di sini. Kami juga punya keluarga yang juga menderita kelaparan. Menderita karena kurangnya obat-obatan. Tetapi, kami menentang blokade ekonomi,” kata tentara muda itu.

Menurutnya, problem nyata yang dihadapi oleh rakyat Venezuela adalah intervensi AS terhadap Venezuela. Negeri Paman Sam itu tidak ingin Venezuela bangkit sebagai sebuah bangsa mandiri dan berdaulat, yang berkembang dan makmur.

Sebelumnya juga, beredar video yang memperlihatkan tentara Venezuela membakar surat dari Juan Guaido, pemimpin oposisi yang mendaulat diri sendiri sebagai Presiden.  Surat itu berisi seruan Guaido kepada tentara agar bangkit memberontak terhadap Presiden Nicolas Maduro.

Meski sempat muncul berkali-kali plot untuk menggulingkan Maduro, yang melibatkan segelintir tentara, tetapi secara umum tentara tetap loyal pada pemerintahan Maduro dan revolusi Bolivarian.

Di bawah slogan “selalu setia, pantang berhianat”, tentara Venezuela menegaskan kesetiaan pada pemerintahan yang terpilih secara demokratis. Mereka menolak intervensi asing atas negerinya.

Padahal, AS dan kelompok oposisi sangat intensif mendekati tentara. Bahkan Penasehat Keamanan AS pernah merayu petinggi militer Venezuela, seperti Menteri Pertahanan Vladimir Padrino López, Komandan Paspampres Ivan Hernandez, dan Presiden Mahkamah Agung Venezuela Maikel Moreno, untuk menggulingkan Maduro.

Rayuan itu disertai iming-iming jabatan khusus dan perlakuan istimewa. Namun, mereka tetap bergeming dengan semua bujuk rayu dan iming-iming itu. Mereka lebih loyal pada demokrasi dan revolusi.

Hari ini, oposisi Venezuela teras menebar hoax dan provokasi untuk menggoyahkan iman revolusi tentara. Mereka menyebar informasi hoax, bahwa Maduro akan mengganti FANB dengan milisi rakyat. Tapi, sejauh ini, provokasi itu gak mempan.

Luar biasa, di tengah blokade ekonomi, bombardir informasi palsu, ditambah jepitan intrik-intrik politik dari oposisi, militer Venezuela yang disebut Angkatan Bersenjata Bolivarian (FANB) tetap loyal pada revolusi. Kok bisa?

Marta Harnecker, seorang intelektual kiri berpengaruh di Amerika latin dan pernah bekerja di pemerintahan Chavez, punya penjelasannya.

Dalam artikel berjudul “The Venezuelan Military: Makin an Anomaly”, Harnecker menjelaskan faktor historis dan ekonomi-politik yang membuat tentara Venezuela cenderung progressif dan menghargai demokrasi.

Pertama, militer Venezuela sangat dipengaruhi oleh gagasan-gagasan Simon Boliviar, bapak pejuang pembebasan Amerika latin melawan kolonialisme Spanyol.

Bolivar bukan seorang marxis, tapi lebih dekat pada ide-ide filsuf Perancis Jean-Jacques Rousseau dan gagasan Republikanismenya. Ia menaruh perhatian besar pada ide tentang kesetaraan manusia dan demokrasi. Karena itu, sepanjang hidupnya, Bolivar menentang perbudakan.

Ia pernah berpesan, tentara yang baik tidak pernah membidikkan senapannya pada rakyatnya.

Kedua, sejak generasi angkatan Hugo Chavez, tidak pernah lagi perwira militer Venezuela disekolahkan di sekolah elit perwira di AS, seperti Akademi Fort Benning. Tetapi di sekolah di Akademi militer Venezuela sendiri.

Tahun 1971, terjadi perubahan radikal dalam kaderisasi perwira di Venezuela. Tahun itu, di bawah program yang disebut Andrés Bello Plan, calon perwira diikutkan dengan proses perkuliahan di Universitas atau perguruan tinggi publik.

Program itu bukan hanya memungkinkan para calon perwira bersentuhan dengan teori-teori politik dan demokrasi, tetapi juga berinteraksi dan bertukar pengalaman dengan mahasiswa lain yang berlatar-belakang sipil.

Ketika belajar strategi militer, selain Clausewitz, mereka juga mempelajari pemikiran ahli politik-militer dari asia, seperti Mao Zedong dan Ho Chi Minh.

Ketiga, militer Venezuela tidak pernah berhadapan dengan aktivitas gerilyawan kiri, layaknya negara-negara tetangga mereka di Amerika latin.

Memang, di tahun 1960-an, sempat ada aktivitas gerakan bersenjata yang dilakukan oleh Movimiento de Izquierda Revolucionaria (MIR). Tetapi aktivitas perjuangan mereka lebih ke model gerilya kota. Tidak begitu signifikan.

Jadi, ketika tentara Venezuela berpatroli ke desa-desa, yang ditemukan bukan gerilyawan, melainkan kemiskinan. Mereka melihat dengan mata mereka wajah kemiskinan dan ketimpangan. Di satu sisi, di kota besar segelintir orang menikmati rezeki booming minyak. Sementara di desa, orang-orang berjibaku dengan kemiskinan.

Keempat, tidak ada diskriminasi dalam angkatan bersenjata Venezuela. Semua orang, tanpa memandang suku, agama, ras, dan status sosial, bisa mencapai pangkat tertinggi. Tidak ada kasta militer seperti di negara lain.

Walhasil, banyak perwira tinggi Venezuela berasal dari keluarga miskin, baik di kota maupun desa. Walaupun sejarah membuktikan, asal-usul seseorang tak menunjukkan loyalitas. Lihatlah Soeharto, yang berasal dari keluarga petani, bisa menjadi kaki-tangan Amerika Serikat untuk menggulingkan Sukarno.

Kelima, dampak demo besar pada 27 Februari 1989, yaitu demo menentang kenaikan harga BBM. Ini disebut sebagai demo pertama yang menentang kebijakan neoliberalisme di bawah rezim  Carlos Andrés Perez.

Tentara dikerahkan untuk memandamkan demonstrasi. Sedikitnya 300-an tewas dan ribuan hilang. Rezim Peres memberlakukan keadaan darurat.

Kejadian itu membuat shock banyak tentara, terutama yang masih muda. Beberapa perwira muda, seperti Hugo Chavez, mulai mengorganisir gerakan perlawanan di tubuh tentara, yang kelak dinamai pergerakan Movimiento Bolivariano Revolucionario 200 (MBR-200).

Para tentara ini, dibawah komando Letkol Hugo Chavez, melancarkan kudeta terhadap rezim Perez pada 4 Februari 1992. Sayang sekali, kudeta yang melibatkan tentara ini mengalami kegagalan.

Keenam, ada problem ekonomi-politik yang sangat akut. Di satu sisi, Venezuela kala itu tengah menikmati rezeki booming produksi dan harga minyak.

Di sisi lain, sebagian besar rezeki itu hanya dinikmati segelintir orang (oligarki). Sementara mayoritas rakyat Venezuela tetap miskin. Sudah begitu, oligarki ini sangat rakus dan korup.

Inilah yang membuat tentara sulit untuk tidak berpihak pada rakyatnya yang tertindas. Beberapa perwira muda, seperti Chavez dan kawan-kawan, mulai mengorganisir perlawanan yang disebut MBR-200 pada 1982.

Chavez dan kawan-kawannya terpengaruh oleh tiga tokoh pemikir-pejuang Amerika latin, yaitu Simón Bolívar, Simón Rodríquez, dan Ezequiel Zamora.

Simón Bolívar sudah dijelaskan di atas. Sementara Simón Rodríquez adalah gurunya Simón Bolívar. Ia seorang filsuf yang memperjuangkan sebuah masyarakat multi-etnik yang hidup setara. Sedangkan Ezequiel Zamora adalah seorang Jenderal penentang monarki. Dalam perjuangannya, dia membagi-bagikan tanah milik tuan tanah ke petani.

Nah, itulah beberapa faktor yang menjelaskan kenapa militer Venezuela sangat loyal pada revolusi, menghargai demokrasi, dan membela rakyat.

Sejak revolusi Bolivarian bergulir di tahun 1999, tentara Venezuela merupakan aktor penting dalam revolusi. Di masa awal Chavez, militer Venezuela terlibat dalam program-program sosial yang diselenggerakan pemerintah.

Terutama dalam program yang disebut Plan Bolivar 2000, yang bertujuan untuk memperbaiki taraf hidup masyarakat miskin. Di sini, tentara ikut membersihkan jalan, memperbaiki sekolah, memerangi penyakit endemik, dan memugar berbagai infrastruktur sosial di desa-desa terpencil.

Yang terpenting, ketika terjadi kudeta terhadap Chavez di tahun 2002, yang berhasil melengserkan Chavez selama 47 jam, tentara berperan penting dalam mengalahkan kudeta dan mengembalikan Chavez ke kekuasaan.

Nah, karena peran tentara yang tak lazim ini, yang susah ditemui di negara paling demokratis sekalipun, Harnecker menyebut tentara Venezuela sebagai anomali.

Setidaknya, hingga detik ini, militer Venezuela masih loyal pada revolusi. Meskipun krisis ekonomi dan politik, ditambah dengan blokade ekonomi, terus memukul Venezuela dan revolusi Bolivarian sejak 2013 lalu.

Raymond Samuel

Share your vote!


Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Fascinated
  • Happy
  • Sad
  • Angry
  • Bored
  • Afraid