Mengapa Dokter Kuba Pantas Diberi Nobel?

Lima tahun lalu, saya membaca kisah dr Félix Báez. Dia adalah dokter Kuba yang bekerja di Afrika barat untuk menghadapi virus ebola.

Dia adalah satu dari 165 orang dokter Kuba yang tergabung dalam Brigade medis internasional Henry Reeve, yang ditugaskan ke Sierra Leone untuk menghadapi virus ebola yang mengerikan. Saat penugasan itu, dr Báez terinfeksi virus ebola.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan pemerintah Kuba bergegas untuk memboyong dr. Báez ke Jenewa, Swiss, untuk berobat di Hôpitaux Universitaires de Genève. Dia berjuang melawan penyakitnya di sana. Dan berkat perawatan yang luar biasa, virus ebolanya melemah.

Dia kemudian diterbangkan pulang ke Kuba. Di bandara Havana, dia dijemput oleh istrinya, Vania Ferrer, beserta dua putranya: Alejandro dan Félix Luis. Juga oleh Menteri Kesehatan Kuba, Roberto Morales.

Di website Cubasí, Alejandro, seorang mahasiswa kedokteran, menulis: “Kuba sedang menunggumu.” Di Liberia, dokter Kuba lainnya yang tengah berjuang menghadapi ebola, bersorak untuk dr. Báez.

Sebuah halaman facebook mulai menulis: Kuba adalah Félix Báez. Sementara media sosial yang memunculkan hashtag #FélixContigo dan #FuerzaFélix menjadi viral.

Kondisi dr. Báez mulai membaik. Dan yang sungguh luar biasa, dia memilih kembali ke Afrika barat untuk melanjutkan perjuangan menghadapi virus ebola.

Tak mengherankan, kampanye internasional bermunculan agar dokter-dokter Kuba diberi penghargaan nobel perdamaian. Tentu saja, kerja-kerja dokter Kuba ini merupakan aspek penting dari nilai-nilai sosialisme, yaitu internasionalisme dan solidaritas tanpa batas.

Baca ini juga: Tuntutlah Pelajaran Kemanusiaan Hingga Ke Negeri Kuba

Kampanye Busuk AS

Ketika dr. Báez kembali ke Afrika barat, temannya yang sedang bertugas di Liberia, dr.Ronald Hernández Torres, menulis di facebook: “Kami di sini karena keputusan kami. Dan kami akan pulang kalau ebola tak lagi membahayakan Afrika dan dunia.”

Itu adalah pernyataan yang penting. Tulisan itu dimaksudkan untuk merespon kampanye negatif yang disodorkan oleh Amerika Serikat (AS) untuk mendiskreditkan kerja-kerja internasionalisme Kuba.

Congressional Research Service (CSR), sebuah lembaga think-thank di Kongres AS, melaporkan, “pada Juni 2019, Departemen Luar Negeri AS menurunkan level Kuba menjadi tier ke-3 dalam laporan perdagangan manusia (dianggap gagal). Alasannya, antara lain, karena tidak mengambil tindakan praktek “kerja paksa” dalam kasus pengiriman tenaga medis ke negara lain.

Kebijakan itu bersamaan dengan dimulainya tekanan AS terhadap negara-negara sekutunya untuk mengusir dokter-dokter Kuba dari negaranya masing-masing.

Bahkan, Dewan HAM PBB—di bawah tekanan Washington—menyatakan akan menyelidikan dugaan “kerja paksa” dalam misi dokter Kuba itu. Urmila Bhoola (pelapor khusus PBB untuk isu perbudakan) dan Maria Grazia Giammarinaro (pelapor khusus PBB untuk isu perdagangan manusia) menulis surat untuk pemerintah Kuba pada November 2019.

Surat itu berisi tudingan bahwa dokter Kuba mengalami kerja paksa. Sayangnya, tuduhan itu tak disertai bukti. Malahan, pernyataan mereka lebih condong ke urusan ideologi ketimbang bukti forensik.

Di awal tahun 2020, pemerintah AS mengintensifkan kampanye untuk mendiskreditkan misi kemanusiaan dokter Kuba di berbagai negara. Pada 12 Januari 2020, Menlu AS Mike Pompeo membuat cuitan di twitter: Kita mendesak negara-negara yang menjadi tuan rumah (negara yang menerima dokter-dokter Kuba) untuk mengakhiri perjanjian dengan rezim Castro yang memfasilitasi pelanggaran HAM dalam program-program ini (misi internasional dokter Kuba).”

Sekutu AS di Amerika selatan, seperti Brazil, Bolivia dan Ekuafor, mulai mengusir dokter Kuba. Kelak, ketika pandemi covid-19 menerjang amerika latin, keputusan pengusiran ini menjadi bencana.

Propaganda LSM HAM

Pada Juli 2020, Human Rights Watch (HRW)—sebuah lembaga non-pemerintah yang berbasis di Amerika Serikat—menerbitkan sebuah dokumen yang menuduh pemerintah Kuba telah mempraktekkan aturan yang represi untuk dokter-dokternya yang bekerja di luar negeri.

Dokumen ini fokus pada resolusi 168, yang diadopsi tahun 2010, yang menghamparkan kode etik bagi dokter-dokter Kuba, seperti keharusan menghormati hukum negara setempat dan tidak melewati batas misi mereka: urusan medis masyarakat.

Tetapi HRW hanya menyuguhkan resolusi dan peraturan terkait sebagai bukti. Tetapi tak sanggup menyuguhkan bukti lapangan.

“HRW belum bisa menentukan sejauh mana dokter Kuba sudah melanggar aturan, atau apakah pemerintah Kuba telah memberikan sanksi pidana atau disiplin kepada mereka.”

Sangat disayangkan, sebuah organisasi yang bekerja untuk HAM melakukan serangan tanpa bukti terhadap sebuah program/misi kemanusiaan yang terbukti bermanfaat banyak bagi banyak orang di berbagai belahan dunia.

Sebuah Komite yang tengah memperjuangkan penghargaan Nobel bagi dokter-dokter Kuba segera menanggapi tudingan LSM HAM itu dengan bantahan yang memukul telak.

Intinya, laporan HRW tidak menyinggung sama sekali berbagai serangan terhadap dokter Kuba, termasuk tindakan pemerintah AS menyuap dokter Kuba agar mereka mau berbelot. Juga penggelontoran jutaan dollar dari USAID untuk menciptakan informasi sesat terkait program kemanusiaan dokter Kuba.

Yang lebih mengerikan, dokumen HRW salah kaprah atas bukti yang diajukannya, termasuk soal percakapan Menteri Kesehatan Kuba dengan pekerja medis Kuba. Laporan HRW hanya mencomot laporan seorang pembela tahanan yang berbasis di Spanyol dan dipimpin oleh aktivis yang anti-Kuba. HRW tidak menyampaikan bahwa pendapatnya berasal dari narasumber yang sangat kontroversial.

Laporan HRW tak menunjukkan layaknya sebuah organisasi pembela HAM, melainkan tak lebih dari “juru bicara” dari tiga senator partai Republik: Ted Cruz, Marco Rubio, dan Rick Scott—yang baru-baru ini mengusulkan aturan untuk memotong misi kesehatan Kuba.

Fakta Tak Terbantahkan

Dalam sebuah studi yang dipublikasikan pada April 2020, Instituto de Comunicação e Informação Científica e Tecnológica em Saúde menunjukkan bahwa program “Mais Médicos”, yang dilakukan oleh dokter-dokter Kuba di Brazil, telah menaikkan indikator kesehatan masyarakat. Berkat program ini, layanan medis bisa menjangkau daerah paling terpencil di Brazil untuk pertama kalinya.

Alexandre Padilha, yang menjadi Menteri Kesehatan di bawah pemerintahan Dilma Rousseff dan turut melahirkan program ini, mengatakan, sejak dokter-dokter Kuba diusir keluar dari Brazil, ada peningkatan jumlah kematian bayi dan pneumonia di masyarakat. Kelak, ketika covid-19 datang menerjang, ini menjadi bencana.

Pada Juni 2020, Presiden Jair Bolsonaro, yang sudah mengusir dokter Brazil pada Desember 2019, memanggil kembali dokter Kuba agar mau bekerja kembali di Brazil. Dokter Kuba dibutuhkan untuk menghadapi bencana besar akibat pandemi covid-19.

Uang kompensasi dari USAID, sebagai pengganti perginya dokter Kuba, tak cukup untuk mengantisipasi bencana pandemi tersebut. Walhasil, Bolsonaro merasa perlu memanggil kembali dokter Kuba.

Sang Penyelamat

Para pekerja medis Kuba telah bertarung nyawa demi menghentikan penyebaran virus korona. Ilmuwan Kuba telah mengembangkan sejumlah obat, seperti interferon alpha-2b, untuk menghadapi wabah ini.

Sekarang, ilmuwan Kuba sedang menguji coba vaksin yang mereka kembangkan. Nantinya, vaksin ini tidak akan diperjual-belikan secara komersil, tetapi nanti dibagi-bagikan secara gratis kepada seluruh rakyat dunia yang memang membutuhkan. Inilah bukti internasionalisme dan kemanusiaan tanpa batas dari dokter dan ilmuwan Kuba.

Pada 21 Agustus, Raul Castro, yang menjabat sekretaris pertama Partai Komunis Kuba, berbicara di acara ulang tahun ke-60 Federasi Perempuan Kuba (FMC). Di pertemuan itu, Raul bilang ada 60 persen dari tenaga medis yang tergabung dalam Brigade Henry Reeve adalah kaum perempuan.

Sejak dimulai tahun 1960-an, sudah ada 400 ribu tenaga medis Kuba yang bekerja untuk misi internasionalisme dan solidaritas tanpa batas di 40 negara. Mereka bekerja dalam dua misi sekaligus: kemanusiaan dan perawatan kesehatan masyarakat. Sebuah semangat yang mereka warisi dari Che Guevara, seorang dokter revolusioner dan internasionalis sejati.

Ini pelajaran penting bagi para panitia di Oslo, Norwegia, yang tengah menjadi juri penghargaan Nobel Perdamaian (Nobel Peace Prize).

VIJAY PRASHAD,  sejarawan, penulis, dan jurnalis India. Dia adalah pengelolah LeftWord Books dan Direktur Tricontinental: Institute for Social Research.

Artikel ini diterjemahkan dari Globetrotter¸sebuah proyek yang dikembangkan oleh Independent Media Institute.

Share your vote!


Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Fascinated
  • Happy
  • Sad
  • Angry
  • Bored
  • Afraid