Pemilu 2024: Kita Butuh Tokoh Sekaligus Visi Politik Alternatif

Pemilu 2024 masih 3 tahun lagi. Namun, riak-riak politiknya mulai tampak. Beberapa hari ini, kita mulai disuguhi wajah tokoh-tokoh yang digadang-gadang akan mewarnai pemilu 2024.

Rabu (25/2) kemarin, Litbang Kompas mempublikasikan hasil surveinya. Kesimpulannya cukup menarik: rakyat mulai melirik calon presiden alternatif.

Dua wajah yang mewarnai dua pemilu kita yang terakhir, Prabowo dan Joko Widodo, mulai ditinggal pemilihnya. Hampir separuh (46,4 persen) pemilih Prabowo di pemilu 2019 mulai melirik calon alternatif. Sementara 45,9 persen pemilih Jokowi di pemilu 2019 juga melakukan hal yang sama.

Sayangnya, ketika berbicara capres alternatif, yang disuguhkan masih wajah-wajah lama: Ganjar Pranowo, Anies Baswedan, Agus Harimurti Yudhoyono, Ridwan Kamil, Tri Rismaharini, dan Basuki Tjahaya Purnama.

Hal serupa juga dilakukan oleh Republik Merdeka (RMOL). Mereka menyuguhkan “24 tokoh harapan 2024” ke pembacanya untuk dipilih. Tokoh-tokoh ini disebut akan tampil dalam kepemimpinan nasional 2024.

Memang, RMOL masih memberi tempat bagi figur di luar 24 tokoh itu lewat kategori “tokoh lain”. Namun, berbeda dengan Litbang Kompas yang menggunakan metode survei, RMOL hanya memakai jajak pendapat biasa.

Masalahnya, tokoh-tokoh yang disuguhkan oleh kedua media itu, juga lembaga survei arus utama, hanya tokoh-tokoh populer. Tokoh-tokoh yang sering menghiasai pemberitaan media massa.

Sebetulnya, melihat wajah-wajah tokoh itu, tak ada yang baru. Mereka masih mewakili konfigurasi politik lama: entah sebagai Menteri, Gubernur, ketua partai, atau anak dari Presiden sebelumnya.

Tentu saja, mereka tak bisa serta-merta disebut sebagai tokoh alternatif. Sebab, secara politik, tokoh-tokoh yang disebutkan itu tak menyuguhkan kebaruan, baik cara maupun visinya.

Tentu saja, alternatif bukan sekedar wajah baru, tetapi juga sebuah cara dan visi politik yang baru. Sebuah visi politik yang berbeda dengan hari ini. Sebuah visi tentang Indonesia yang lebih baik, lebih demokratis, adil dan makmur.

Lebih penting lagi, apa gunanya wajah baru, kalau operator belakang layarnya masih yang lama? Sudah bukan rahasia lagi, banyak politisi dan partai di Indonesia dikendalikan oleh kaum cukong. Cukong ini adalah segelintir orang yang menguasai sumber daya dan kekayaan negeri ini, lalu mereka berusaha menggunakan politik untuk mempertahankan atau meningkatkan kekayaannya. Kita menyebutnya: oligarki.

Nah, yang menarik di jajak pendapat RMOL, ada aspirasi pembaca untuk memasukkan nama lain. Salah satu yang paling mencuat adalah Agus Jabo Priyono.

Di kalangan aktivis, namanya tidak asing lagi. Dia pernah aktif di Pelajar Islam Indonesia (PII). Lalu, setelah kuliah di Universitas Negeri Sebelas Maret Solo (UNS), dia terlibat pergerakan mahasiswa untuk menentang rezim Orde Baru.

Puncaknya, pada 1996, dia dan kawan-kawannya mendirikan Partai Rakyat Demokratik (PRD), partai yang paling gigih menentang kediktatoran Orba kala itu.

Dalam rentang waktu yang panjang itu, setidaknya kurang lebih 30 tahun, Agus Jabo mengabdikan hidupnya bagi pembelaan hak-hak rakyat kecil. Lebih dari separuh jalan hidupnya di habiskan di jalan memperjuangkan demokrasi dan keadilan sosial.

Tentu saja, rekam jejak itu yang membuat banyak orang mengusulkan agar Agus Jabo bisa mewarnai pemilihan Presiden Indonesia di tahun 2024. Agus Jabo dianggap punya rekam jejak yang terjun langsung dengan pembelaan hak-hak rakyat, juga bebas dari campur tangan oligarki.

Seperti disuarakan beberapa pengusul di kolom komentar RMOL. “Saya pilih, Bung Agus Jabo Priyono, ketua umum PRD. Beliau yg masih konsisten berdiri digaris terdepan bersama rakyat. Tanpa lelah dan bersih dr oligarki,” tulis Minaria Christin.

“Saya pilih Agus Jabo Priyono (Ketua Umum Partai Rakyat Adil Makmur/PRIMA) karena rekam jejaknya jelas tidak pernah bersentuhan dengan Oligarki & masih konsisten memperjuangkan rakyat sejak beliau mendirikan Partai Rakyat Demokratik (PRD) untuk menggulingkan Soeharto hingga detik ini,” tulis Farhan Abdillah Dalimunte.

Untuk diketahui, sekarang ini Agus Jabo dan PRD tengah membangun sebuah alat politik alternatif untuk pemilu 2024 , namanya Partai Rakyat Adil Makmur (PRIMA). Partai ini diharapkan bisa ikut pemilu 2024, sebagai kendaraan politik rakyat banyak atau kaum 99 persen.

RINI HARTONO

Share your vote!


Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Fascinated
  • Happy
  • Sad
  • Angry
  • Bored
  • Afraid