Kisah Menghadang Invasi Asing

“Menghadang Kubilai Khan” novel sejarah yang ditulis AJ Susmana ini sarat pesan politik kekinian. Di luar hiruk-pikuk pandemi Covid-19, menguatnya neoliberalisme dalam artian masuknya modal asing, pasar bebas, oligarki, yang menyingkirkan politik gagasan membangun Indonesia yang bersatu, berdaulat, berdikari dan berkepribadian, juga menjadi isu keprihatinan nasional.

Neoliberalisme dianggap sebagai bentuk penjajahan baru sehingga perlu dilawan dan masuknya perlu dihadang agar Indonesia menjadi negara yang berdaulat penuh untuk mewujudkan tujuan nasional seperti melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia, memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan sosial.

Tidak cukup dengan kisah-kisah revolusi yang mengobarkan perang kemerdekaan 1945 untuk memberanikan menghadang penjajahan baru, AJ Susmana masih merasa perlu memajukan kisah yang lebih lampau dari “Indonesia” yaitu Nusantara di periode abad ke-13. Kita tahu: pada periode itu Raja Jawa bernama Kertanagara menolak permintaan tunduk pada Kubilai Khan, kaisar dari imperium terkuat saat itu: Kekaisaran Mongol atau dikenal juga Tartar. Penolakannya sering digambarkan dramatis dan penuh penghinaan yaitu dengan memotong telinga Meng Khi, duta Kubilai Khan yang menyebabkan Kubilai Khan mengirim ekspedisi penghukuman.

JudulMenghadang Kubilai Khan
PenulisAJ Susmana
Isi333 halaman, ukuran 21 x 15 cm
PenerbitBerdikari Nusantara Makmur
ISBN978-623-96724-0-9-
CetakanApril 2021
HargaRp 250.000,00

Kisah keberanian Kertanagara inilah yang diolah AJ Susmana menjadi kisah menghadang invasi asing dalam 333 halaman dengan membaginya menjadi tiga bagian: bagian pertama berkisah dari sudut Kertanagara, bagian kedua dan ketiga seakan seperti testimoni  Jayakatwang dan Wijaya mengenai kebenaran visi Kertanagara dalam melaksanakan politik luar negeri yaitu menghadang Kubilai Khan dengan persatuan nasional (Nusantara).  Dalam rangka itulah Jayakatwang rela memberi jalan kekuasaan ke Wijaya dan memilih jalan kematian yaitu tidak menjadi Raja Jawa kalau hanya menjadi boneka asing Mongol.

Apakah kisah menghadang Kubilai Khan ini relevan dan perlu dibaca untuk menjadi cermin kondisi situasi hari-hari ini di Indonesia?Aku menilai relevan dan perlu; setidaknya di sisi lain terbit juga buku yang menafsir ekspedisi penghukuman Kubilai Khan ke Jawa yaitu Dendam Sejarah Khubilai Khan Di Tanah Jawa (Awal Benturan Peradaban di Nusantara)…lalu lalang intersection kembali ke UUD 1945…Buku yang  terbit terbatas oleh Pusat Sejarah TNI tahun 2017 ini disusun oleh Letnan Jenderal TNI  M Setyo Sularso, Letnan Jenderal TNI Yayat Sudrajat dan Kolonel Inf  Heru Dwi Wahana. Pada salah satu halaman prolognya ditulis:

Tentu ada diskusi dan perdebatan: kekaisaran Mongol atau Tiongkokkah penyerbu Jawa abad ke-13? Bagaimana dengan peran legiun China di bawah Kao-Hsing? AJ Susmana menulis melalui pesan Kertanagara terhadap Wijaya: “Tapi ketahuilah, Wijaya, agar kau suatu saat tidak bertindak bodoh,”… “Jangan kau terkejut bila akhirnya di dalam bala tentara Kubilai Khan itu terdapat juga barisan tentara Tiongkok. Ingatlah baik-baik! Yang kau hadapi ini bukanlah gabungan kekuatan Tiongkok dan Mongol. Tiongkok adalah juga korban keganasan Mongol. Selama ribuan tahun, hingga hari ini, Kekaisaran Tiongkok tidak pernah mengerahkan bala tentaranya ke Nusantara dan menuntut ketaklukan. Baru kali ini di bawah penjajahan Mongol, seakan-akan Kekaisaran Tiongkok bergerak menaklukkan dunia. Semoga pengetahuan ini berguna untukmu.” (h.182)

Baca juga: Mengapa Kamu Perlu Membaca Novel “Menghadang Kubilai Khan”

Sebagai karya fiksi, Menghadang Kubilai Khan, tentu pertama-tama tidak hendak menyodorkan fakta, tetapi yang lebih penting dari itu adalah kisah kehendak kuat untuk tidak mau dijajah. Dalam ruang yang lain, AJ Susmana menulis:

“…sebuah novel dilahirkan memang tidak perlu menunggu fakta atau kebenaran data ditemukan. Logika fiksi sebuah novel dihadirkan secara mandiri di luar logika kebenaran ilmiah karena (bisa jadi) tuntutan-tuntutan masyarakat yang bersifat mendesak demi kelanjutan kehidupan masyarakat yang menghidupi atau yang harus dihidupi. Pada masa penjajahan Belanda, Majapahit dikenang sebagai kerajaan Nusantara yang besar dan jaya. Majapahit pun dihadirkan sebagai simbol perlawanan terhadap kuasa kolonialisme dalam kisah-kisah yang sering kali di luar nalar ilmiah tapi jelas berfungsi efektif untuk memberanikan rakyat yang merasa terhinakan oleh kuasa kolonialisme[1].

Bung Karno sendiri dalam pidato yang dikenal sebagai Lahirnya Pancasila 1 Juni 1945, menyebut Majapahit sebagai negara nasional kedua, setelah Sriwijaya, untuk menunjukkan betapa masa lalu dari Indonesia sebelum kolonialisme penuh dengan kejayaan dan itu bisa dicapai kembali dengan Indonesia Merdeka.Aku pikir itulah yang hendak disampaikan AJ Susmana melalui novel Menghadang Kubilai Khan ini.

Novel ini berakhir dengan kematian Kubilai Khan pada tahun 1216 Saka (1294 Masehi) dan harapan Wijaya tentang masa depan:

“Kita tidak bergembira atas kematian Raja Asing yang  mengancam kita. Ini hanyalah satu kesempatan bagi kita untuk membangun negeri dengan merdeka, aman tanpa gangguan. Semoga kita selamat dari pengganti Kubilai. Secepatnya kita akan kirim duta duka cita. Semoga kita bisa membangun kerja sama atas dasar kemerdekaan, kerelaan dan kesetaraan dengan pengganti Khan Agung dan kita akan turut memulihkan perdamaian di Jawa dan di jalur perdagangan dunia untuk kemakmuran seluruh bangsa di dunia.” (h.333)

***

Kelemahan novel ini, sebagai novel sejarah, barangkali pada tiadanya sama sekali catatan kaki untuk membantu pembaca memahami moment latar historis yang perlu. Pembaca yang tidak akrab dengan periode sejarah Nusantara sampai akhir abad ke-13 tentu akan kesulitan; bahkan kutipan dari bahasa Jawa Kuno tidak diberikan terjemahan Bahasa Indonesianya.

EVA KARTIKA JATI, Penikmat Kisah dan Novel Sejarah


[1] https://www.solopos.com/dilema-imajinasi-novel-dan-sejarah-921669

Share your vote!


Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Fascinated
  • Happy
  • Sad
  • Angry
  • Bored
  • Afraid