Ex-PM Imran Khan Divonis 3 Tahun Penjara, Gagal Maju Pemilu

Islamabad, Berdikaro Online – Mantan Perdana Menteri Pakistan 2018-2022, Imran Khan, divonis tiga tahun penjara oleh pengadilan di Islamabad atas tuduhan korupsi. Selain vonis tiga tahun penjara, pengadilan juga mencabut hak politik Imran Khan selama lima tahun.

Dengan putusan tersebut maka, Imran yang menjadi kandidat terkuat untuk kembali menduduki jabatan Perdana Menteri dalam pemilihan umum mendatang, tidak dapat mencalonkan diri. Pemilihan umum Pakistan harus diadakan setidaknya 90 hari sejak pembubaran parlemen yang sudah dilakukan tanggal 9 Agustus 2023. Artinya paling lambat harus diselenggarakan tanggal 7 November.

Hakim Humayun Dilawar menyatakan dalam pengadilan bahwa Imran, 70 tahun, telah “secara sengaja mengajukan rincian palsu” setelah ia dituduh menguntungkan diri sendiri dari menjual hadiah yang diterimanya selama menjabat sebagai kepada pemerintahan.

Menyusul putusan tersebut, Imran yang tidak hadir di pengadilan, ditangkap dirumahnya di Lahore dan dibawa sebagai tahanan. Pengacara dan keluarganya mengaku tidak diizinkan bertemu Imran Khan sekalipun hal itu dijamin oleh hukum dan konstitusi Pakistan.

Para pendukung Imran menyatakan bahwa pengadilan terhadap Imran merupakan sebuah pengadilan dengan motif politik. Sehari sebelum putusan pengadilan Imran muncul di paltform X (sebelumnya Twitter) dan menyerukan kepada para pendukungnya untuk tidak berdiam diri.

“Saat pesan ini sampai kepada Anda, saya akan ditangkap dan dipenjarakan. Pesan saya agar Anda jangan berdiam diri di rumah. Ini adalah perjuangan generasi Anda. Jika Anda tidak bangkit untuk hak Anda maka Anda telah menjadi budak, dan budak tidak memiliki kehidupan,” kata Imran dalam siaran tersebut.

Imran digulingkan melalui mosi tidak percaya parlemen pada tahun 2018. Penggulingan ini menimbulkan reaksi protes dari dari jutaan pendukungnya yang melakukan rapat akbar di berbagai kota. Imran menuduh kepentingan asing, khususnya Amerika Serikat dan Inggris, berada di balik penggulingannya. Tuduhan tersebut muncul berhubungan pertemuannya dengan Presiden Rusia Vladimir Putin beberapa waktu sebelum parlamen mengajukan mosi tidak percaya.

(Dom)

Share your vote!


Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Fascinated
  • Happy
  • Sad
  • Angry
  • Bored
  • Afraid